Pengertian akad


1. Pengertian
Lafal akad, berasal dari lafal arab al-‘aqd yang berarti perikatan, perjanjian, dan permufakatan .
Secara bahasa akad adalah:
الربط بين أطراف الثيء، سواء أكان ربطا حسيا أم معنويا، من جا نب واحد أو من جا نبين.
“ Ikatan antara pihak-pihak baik ikatan itu secara nyata atau maknawi yang berasal dari satu pihak atau kedua belah pihak.”
Secara terminologi figh, akad terbagi dua yaitu pengertian umum dan khusus, akad dalam pengertian umum adalah:
كل ما عزم الرء على فعله ، سواء صدري إرادة منفردة كااالو أم احتا ج إلى إرادتين في إنثا ئه كا ابيع.
“Segala yang diinginkan manusia untuk mengerjakannya baik bersumber dari keinginan pribadi seperti waqaf atau bersumber dari dua pihak seperti jual-beli”.
Akad dalam pengertian khusus adalah:
ارتبا ط إيجا ب بقبول على و جه مثروع يثبت أثره في محله
“Pertalian Ijab ( Pernyataan Melakukan Ikatan ) Dan Qabul ( Pernyataan Penerimaan Ikatan ) Sesuai Dengan Kehendak Syariat Yang Berpengaruh Pada Obyek Perikatan”.
Mustafa Ahmad Az-Zarqa pakar figh jordania asal syiria, menyatakan bahwa tindakan ( action ) hukum yang dilakukan manusia terdiri atas dua bentuk, yaitu:
a. Tindakan ( Action) Berupa Perbuatan
1) Tindakan Berupa Perkataan
Tindakan yang berupa perkataan pun terbagi dua, yaitu yang bersifat akad dan yang tidak bersifat akad. Tindakan berupa perkataan yang bersifat akad terdiri atas dua atau beberapa pihak yang mengikatkan diri untuk melakukan perjanjian. Sedangkan tindakan berupa perkataan yang tidak bersifat akad terbagi lagi kepada dua macam, yaitu:
1. Yang mengandung kehendak pemilik untuk menetapkan.
2. Yang tidak mengandung kehendak pemilik untuk menetapkan.
Menurut Az-Zaqra, pernyataan pihak-pihak yang berakad itu disebut dengan ijab dan qabul. Ijab adalah pernyataan pertama yang dikemukakan oleh salah satu pihak, yang mengandung keinginannya secara pasti untuk mengikatkan diri. Sedangkan qabul adalah pernyataan pihak lain setelah ijab yang menunjukkan persetujuannya untuk mengikatkan diri.

2. Rukun Akad
Terdapat perbedaan pendapat para ulama figh dalam menentukan rukun suatu akad. Jumhur ulama figh menyatakan bahwa rukun akad terdiri atas:
1. Pernyataan untuk mengikatkan diri ( Shighat Al-‘Agd )
2. Pihak-pihak yang berakad ( Al-Ma’qud Alaih )
3. Obyek akad ( Al-Ma’qud ‘Alaih )
Ulama hanafiyah berpendirian bahwa rukun akad itu hanya satu, yaitu Shighat Al-‘Aqd ( Ijab dan Qabul )
Al-‘Aqd merupakan rukun akad yang terpenting, karena melalui pernyataan inilah diketahui maksud setiap pihak yang melakukan akad. Shighat al-‘aqd ini diwujudkan melalui ijab dan qabul. Dalam kaitannya dengan ijab dan qabul ini, para ulama figh mensyaratkan:
1. Tujuan yang terkandung dalam pernyataan itu jelas, sehingga dapat dipahami jenis akad yang dikehendaki, karena akad-akad itu sendiri berbeda dalam sasaran dan hukumnya.
2. Antara ijab dan qabul terdapat kesesuaian.
3. Pernyataan ijab dan qabul itu mengacu kepada suatu kehendak masing-masing pihak secara pasti, tidak ragu-ragu.
Ijab dan qabul ini bisa berbentuk perkataan, tulisan, perbuatan, dan isyarat.

3. Syarat-Syarat Umum Suatu Akad, Yaitu:
1. Pihak-pihak yang melakukan akad itu telah cakap bertindak hukum atau jika obyek akad itu merupakan milik orang yang tidak atau belum cakap bertindak hukum, maka harus dilakukan oleh walinya.
2. Obyek Akad ( Ma’qud ‘Alaih ) itu diakui oleh syara’. Untuk obyek akad ini disyaratkan pula:
• Berbentuk harta
• Dimiliki oleh seseorang
• Bernilai harta menurut syara’.
3. Akad itu tidak dilarang oleh nash ( ayat atau hadis ) syara’.
4. Akad yang dilakukan itu memenuhi syarat-syarat khusus yang terkait dengan akad itu.
5. Akad itu bermanfaat.
6. Pernyataan ijab tetap utuh dan sahih sampai terjadinya qabul.
7. Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis.
8. Tujuan akad itu jelas dan diakui syara’.

4. Pengaruh Akad
Akad yang telah terjadi mempunyai pengaruh ( akibat hukum ), baik pengaruh khusus maupun umum. Pengaruh khusus merupakan pengaruh asal akad atau tujuan mendasar dari akad. Pengaruh umum merupakan pengaruh yang berserikat pada setiap akad atau keseluruhan dari hukum-hukum dan hasilnya.
Aqad ghairu lisan
Untuk melaksanakan akad menurut para ulama ada beberapa cara yang bisa ditempuh diantaranya:
1. Aqad Al-Mu’athah ( Saling Memberi )
Akad Mu’athah adalah akad saling menukar dengan perbuatan yang menunjukkan keredaan tanpa ucapan ijab dan qabul.
2. Aqad Bi Al-Kitabah ( Akad Dengan Tulisan )
Akad sah dilakukan melalui tulisan oleh dua orang yang berakad baik keduanya mampu berbicara maupun bisu, keduanya hadir pada waktu akad ataupun tidak hadir ( ghaib), dengan bahasa yang dapat dipahami oleh kedua orang yang berakad. Berdasarkan kaidah fighiyah
الكتبا بة كا لخطا ب
“ Tulisan sama kekuatan hukumnya dengan ucapan”.
Ini merupakan pendapat Hanafiyah Dan Malikiyah.
3. Akad Bi Al-Isyarat ( Akal Dengan Isyarat )
Isyarat adakalanya dari orang yang mampu berbicara dan berasal dari orang bisu. Apabila orang yang berakad mampu berbicara maka akad yang dilaksanakan tidak sah dilakukan dengan isyarat, tetapi wajib dengan lisan atau tulisan, karena walaupun isyarat menunjukkan kehendak tapi tidak menfaedahkan suatu keyakinan seperti lafaz atau tulisan. Jika tulisannya tidak baik, dan mempunyai isyarat yang bisa dipahami sama nilainya dengan lisan berdasarkan kesepakatan para fugaha’karena darurat, sesuai dengan kaedah fighiyah: الإشارات العهودة لللأخرس كالبيان بالسان
” Isyarat yang telah mashur dari orang bisu seperti penjelasan dengan lisan.”

5. Macam-Macam Aqad
Akad terbagi pada beberapa macam dari sudut pandang yang berbeda yaitu:
1. Dilihat dari sifat akad secara syariat, terbagi pada:
a. Akad shahih yaitu Akad yang sempurna rukun-rukun dan syarat-syarat menurut syariat.
Akad shahih menurut Hanafiyah Dan Malikiyah terbagi kepada:
• Nafiz, yaitu Akad yang dilakukan oleh orang yang mampu dan mempunyai wewenang untuk melakukan akad tersebut, misalnya akad yang dilakukan oleh seseorang yang berakal dan dewasa terhadap hartanya sendiri. Akad nafiz terbagi kepada:
1. Lazim yaitu Akad yang tidak dapat dibatalkan oleh salah seorang yang berakad tanpa kerelaan pihak lain, atau akad yang mengiak para pihak yang berakad , seperti akad jual-beli dan ijarah. Dalam kaidah figh dirumuskan:
الأصل في العقود اللزوم
“ Pada dasarnya akad itu adalah Luzum ( mengikat para pihak ).”
Akad luzum ( mengikat para pihak ) terbagi pada:
a. Akad Lazim ( mengikat ), yang tidak dapat dibatalkan.
b. Akad Lazim ( mengikat ), yang dapat dibatalkan oleh kedua belah pihak.
c. Akad Lazim ( mengikat ), terhadap satu pihak saja.
d. Akad Ghairu Lazim ( tidak mengikat ), pada kedua belah pihak, pada akad ini para pihak mempunyai hak untuk membatalkan atau merujuk kembali akad.
2. Ghairu Lazim, yaitu Akad yang dapat dibatalkan oleh satu pihak yang berakad sama tanpa harus ada kerelaan pihak lain.
• Mauquf, yaitu Akad yang berasal dari orang yang mampu tapi ia tidak punya kekuasaan untuk melakukan akad tersebut.
b. Akad Ghairu Shahih, yaitu Sesuatu yang rusak pada salah satu unsur dasar ( rukun dan syarat ).
1. Dilihat dari bernama atau tidaknya suatu akad terbagi:
• Akad Musammah, yaitu Akad yang ditetapkan nama-namanya oleh syara’ dan dijelaskan pula hukum-hukumnya.
• Akad Ghairu Musammah, yaitu Akad yang tidak ditetapkan nama-namanya oleh syari’ dan tidak pula dijelaskan hukum-hukumnya, akad ini muncul karena kebutuhan manusia dan perkembangan kehidupan masyarakat.
2. Di Pandang dari tujuan akad, akad terbagi kepada:
• Al-Tamlik yaitu Akad yang bertujuan untuk pemilikan sesuatu, baik benda atau manfaatnya.
• Al-Isqat yaitu Akad yang bertujuan mengugurkan hak-hak.
• Al-Ithlaq yaitu Akad yang bertujuan menyerahkan kekuasaan kepada orang lain dalam suatu pekerjaan.
• Al-Taqyid yaitu Terhalangnya seseorang melakukan transaksi karena kehilangan kemampuan.
• Al-Tausiqat yaitu Akad yang bertujuan untuk menanggung atau memberi kepercayaan terhadap hutang.
• Al-Isytirak yaitu Akad yang bertujuan untuk berserikat pada pekerjaan atau keuntungan.
• Al-Hafzu yaitu Akad yang bertujuan untuk memelihar aharta pemiliknya.
DAFTAR PUSTAKA

Dr.H.Nasrun Haron,MA,figh Muamalah,Gaya Media pratama:Jakarta,2007,h.97
Rozalinda,figh muamalah & aplikasi pada perbankan syariah ( padang, Haifa press,2005 ), h.41

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s