PENGAWASAN DALAM MANAJEMEN MASJID


A. Pengertian
Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang sangat erat kaitannya dengan evaluasi. Terlaksananya atau tidaknya pekerjaan dengan baik dapat diketahui dengan pengawasan dan evaluasi. Adapun isyarat AL-Quran tentang pengawasan dan evaluasi di antaranya terdapat dalam surah al-Hasyar ayat 18:

       •    •   •     

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri mempersiapkan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.59 : 18)
Menurut Thabathaba’I dalam tafsir Mishbah Qurasih Shihab menjelaskan “Bahwa perintah memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok sebagai perintah untuk melakukan evaluasi terhadap amal-amal yang telah dilakukan.Ini seperti seorang tukang yang telah menyelesaikan pekerjaannya, ia dituntut untuk memperhatikan kembali agar menyempurnakannya bila telah baik, atau memperbaikinya bila masih ada kekurangan, sehingga bila tiba saatnya diperiksa tidak ada lagi kekurangan dan barang tersebut tampil sempurna setiap mukmin dituntut melakukan itu.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa untuk menentukan keberhasilan suatu pekerjaan, apalagi mengelola suatu lembaga, maka al-Quran menegaskan kepada umat Islam untuk melaksanakan pengawasan dan evaluasi.
Menurut Sondang Siagian (1988: 169) Pengawasan/Controlling adalah proses pengamatan dari seluruh kegiatan organisasi guna lebih menjamin bahwa semua pekerjaan yang sedang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan menurut Komaruddin pengawasan adalah upaya agar sesuatu dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan dan instruksi yang telah dikeluarkan. Sedangkan pengawasan manajerial adalah kegiatan untuk menjamin bahwa pelaksanaan sesuai rencana.(Jusmawati, dkk, 2006: hal 87)
Pengawasan meliputi tindakan mengecek dan membandingkan hasil yang dicapai dengan standar-standar yang dihasilkan. Apabila hasil pekerjaan menyimpang dari standar-standar yang berlaku, perlu dilakukan tindakan-tindakan korektif untuk memperbaikinya.
Tindakan-tindakan demikian dapat mencapai bentuk:
a. Memperbaiki peralatan yang rusak
b. Mengubah prilaku para karyawan
c. Mengorganisasi sebuah departemen
d. Merevisi sebuah rencana orisional
Melalui pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut, para manejer berupaya untuk mencapai suatu koordinasi upaya melalui organisasi yang ada. Sekalipun koordinasi tidak dianggap fungsi manajemen, ia timbul dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan. Melalui perencanaan misalnya, para manejer menggariskan arah tindakan-tindakan yang membantu dalam hal mengkoordinasikan para anggota organisasi. Actuating mencakup inisiasi dan pengarahan tindakan-tindakan tersebut seperti digariskan dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan, rencana-rencana, sistem-sistem, prosedur-prosedur, dan peraturan-peraturan. Akhirnya, pengawasan manajerial berupaya untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan pekerjaan hingga mengkoordinasi secara menyeluruh.
Pendapat di atas menjelaskan pengertian pengawasan secara umum, jika dikaitkan dengan kegiatan Masjid dapat dirumuskan bahwa pengawasan Masjid adalah proses pengamatan dari seluruh kegiatan Masjid agar semua kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana Masjid yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengawasan Masjid pada sisi lain dapat juga membantu seorang manejer Masjid untuk memonitor keefektifan aktivitas perencanaan, pengorganisasian, serta kepemimpinan mereka. Pengawasan Masjid juga dimaksudkan untuk mencapai suatu aktivitas Masjid yang optimal, yaitu sebuah lembaga Masjid yang terorganisir dengan baik memiliki visi dan misi serta pengendalian sekaligus pendinamis jalannya proses Masjid.
Dalam manajemen masjid pengawasan dan penilaian menpunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting karena ia merupakan alat pengaman dan sekaligus memonitor jalannya proses kegiatan masjid, terselenggaranya Masjid atau tidak , berhasil atau tidak kegiatan masjid akan terlihat dari fungsi pengawasan dan evaluasi.(Jusmawati,dkk, 2006: hal 88)
Di samping itu kepentingan pengawasan bagi proses kegiatan masjid tidak terbatas saja sebagai penyelamat, namun lebih dari itu adalah juga sebagai pendinamis dan penyempurna .Sebab, di samping pengawasan itu ditujukan pada jalannya usaha yang sedang dalam proses, juga ditujukan pada usaha yang sudah selesai pada tahapan yang telah ditentukan, pengawasan dalam artian yang terakhir ini juga punya peranan penting bagi kegiatan masjid, sebab dengan diefektifkannya pengawasan maka dapatlah diharapkan kegiatan masjid yang mencakup segi-segi yang luas itu akan semakin meningkat dan sempurna.
B. Langkah-Langkah Pengawasan
Untuk menjalankan fungsi pengawasan manajer atau pengurus masjid dapat mengikuti langkah-langkah pengawasan yang dikemukakan para ahli. Menurut Komaruddin proses pengawasan mencakup:
1. Pengembangan standar
2. Pengukuran pelaksana
3. Penilaian pelaksana
4. perbaikan
Sedangkan menurut Ek. Muktar Efendi mengemukakan langkah-langkah pengawasan adalah sebagai berikut:
1. Menentukan standar sebagai ukuran untuk pengawasan
2. Pengukuran dan pengamatan terhadap berjalannya operasi berdasarkan rencana yang ditentukan
3. Penafsiran dan perbandingan hasil yang ada dengan standar yang diminta
4. Melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan
5. Perbandingan hasil akhir dengan masukan (input) yang telah terjadi
Abd. Rosyad Shaleh mengemukakan proses pengendalian pengawasan Masjid terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menetapkan standar
2. Mengadakan pemeriksaan dan penilaian terhadap pelaksanaan tugas Masjid yang telah ditetapkan
3. Membandingkan antara pelaksana tugas dan standar
4. Mengadakan tindakan-tindakan perbaikan atau pembetulan
Muhammad Munir (2006:175) mengemukakan langkah-langkah dari proses pengendalian sebagai berikut:
1. Menetapkan standar, metode dan prestasi kerja
2. Pengukuran prestasi kerja
3. Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar; dan
4. Pengambilan tindakan korektif
Dari pendapat di atas pada dasarnya proses pengawasan yang harus dilakukan tidak jauh berbeda, namun tetap memenuhi standar suatu pengawasan. Dalam manajemen masjid, proses pengawasan yang akan dikemukakan adalah: Menentukan Standar. Pengukuran Pelaksana, Penilaian Pelaksana, dan Tindakan Perbaikan
1. Menentukan Standar
Langkah pertama dalam proses pengawasan Masjid adalah menentukan standar yang menjadi ukuran atau pola pelaksanaan kegiatan, dengan demikian baru dapat dikatakan apakah kegiatan masjid berjalan dengan baik, kurang berhasil atau mengalami kegagalan total. Standar dapat diperoleh dari rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Standar mengandung arti suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebagai patokan untuk menilai hasil, tujuan, sasaran, dan target pelaksanaan kemasjidan dapat digunakan sebagai standar.
Penentuan standar Masjid mencakup untuk semua lapisan pekerjaan yang terdapat dalam organisasi masjid, standar umum digunakan dalam menentukan pelaksanaan pekerjaan suatu aktivitas menyangkut kriteria Phisik, ongkos, waktu, program, dan yang sifatnya kualitatif. Maka sebagai standar kriteria pelaksanaan kegiatan masjid adalah:
1) Standar-Standar Phisik, mungkin kuantitas barang atau sarana Masjid yang digunakan, tenaga pelaksana yang digunakan, jumlah atau luas garapan Masjid dan program yang telah ditepapkan.
2) Standar-Standar Biaya, biaya standar setiap barang atau perlengkapan yang diperlukan, biaya untuk kegiatan atau pekerjaan Masjid yang akan dikerjakan dan dapat dijadikan patokan yang ditetapkan manajemen untuk pengukuran dan perbandingan. Pembiayaan standar merupakan alat pengukur efisien biaya. Pembiayaan standar merupakan suatu cara dalam menetapkan biaya dengan menentukan biaya standar terlebih dahulu, jika terjadi penyimpangan maka manajer atau pengurus masjid dapat menganalisis penyebab penyimpangan tersebut.
3) Standar-Standar waktu, waktu yang digunakan sebagai patokan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau kegiatan Masjid. Standar waktu dapat juga dengan menggunakan jam standar yang berarti jumlah pekerjaan yang digunakan sebagai patokan yang harus diselesaikan dalam jam tertentu.
Penentuan standar kegiatan masjid mengacu kepada perencanaan yang telah di susun sebelumnya, kalau tidak demikian manajer Masjid akan mendapat kesulitan dalam menentukan standar, bahkan mungkin tidak akan mendukung manajer masjid dalam menjalankan fungsi pengawasan.
Untuk memperoleh hasil kerja yang efektif dan efisien, semua komponen yang terlibat dalam proses kerja harus standar (ukuran) yang menetapkan identitas tertentu, sehingga proses manajemennya menunjukkan ciri khas tersendiri. Adapun standar yang bisa digunakan untuk mengukur semua hasil kerja para pelaksana itu tiada lain adalah suatu ukuran yang terdiri atas sejumlah identitas dan berfungsi sebagai persyaratan adanya:
a. Keseragaman, baik model, tipe, bentuk maupun ciri-cirinya
b. Jaminan mutu akan produk yang dihasilkan selalu terbaik
c. Hasil usaha orang-orang (karyawan) dan mesin tang ditetapkan sesuai dengan keperluan produksinya, seperti metode pelaksana kerjanya, waktu, serta lingkungan kerjanya dan sebagainya guna mencapai hasil kerja yang baik.(Kustadi Suhandang, 2007: hal193-194)
Sementara itu menurut Rosyad Shaleh menyatakan bahwa standar itu dapat diidentifikasikan dalam bentuk: ukuran kualitas hasil pekerjaan, ukuran kuantitas hasil pekerjaan dan ukuran waktu dan biaya.
2. Pengukuran Pelaksana Kegiatan
Penentuan standar akan berarti jika disertai dengan cara untuk mengukurnya. Cara yang tepat untuk mengukur kegiatan masjid dengan menggunakan pernyataan tentang: jumlah kegiatan yang dilakukan dalam waktu tertentu, bentuk pengukuran yang akan dilakukan seperti laporan tertulis, inspeksi dan sebagainya, dan orang yang terlibat untuk melakukannya. Setelah ditentukan cara yang dipakai untuk mengukur standar kegiatan manajer atau pengurus masjid mesti melakukan secara berkelanjutan, hal ini dapat dilakukan dengan pengamatan atau observasi ke lapangan, laporan lisan dan tulisan dan inspeksi secara mendadak ataupun terencana dan secara berskala. Pengukuran pelaksanaan kegiatan masjid dapat dilakukan secara formal dan informal.
Selain di atas, cara pengawasan yang dapat dilakukan dalam mengukur kegiatan masjid berdasarkan sifat dan waktu pengawasan dengan mengacu kepada pendapat S.P Malayu (1987: 227) di antaranya yaitu Preventive control, repressive control dan pengendalian di tengah proses. Jika dikaitkan dengan pengawasan atau pengendalian kegiatan masjid adalah:
1) Preventive Control
Pengendalian yang dilakukan oleh manejer atau pengurus masjid sebelum kegiatan dilakukan, dengan tujuan tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan, biasanya digunakan dengan membuat peraturan atau tata tertib, membuat pedoman kerja dan menentukan koordinasi dan menentukan wewenang dan tanggung jawab
2) Repressive Control
Pengendalian yang dilakukan manajer atau pengurus masjid setelah terjadi penyimpangan, dengan tujuan agar tidak terjadi pengulangan kesalahan. sehingga sasaran Masjid yang direncanakan dapat tercapai .Hal ini dapat dilakukan dengan membanding antara hasil kegiatan dengan rencana yang telah ditentukan dan mencari penyebab penyimpangan serta mencari jalan keluarnya.
3) Pengendalian yang dilakukan tengah proses penyimpangan
Maksudnya manajer melakukan pengendalian ketika ia mengetahui sedang terjadinya penyimpangan dalam kegiatan Masjid tertentu, dengan tujuan agar penyimpangan itu dapat dibetulkan secepatnya sehingga kegiatan masjid berjalan kembali dengan baik.
3. Penilaian Pelaksana
Kegiatan ini adalah tugas manajer atau pengurus masjid dalam menentukan makna dari perbedaan dan penyimpangan, ketika membanding antara pelaksana dengan standar. Penilaian pelaksanaan kegiatan masjid setelah manajer atau pengurus masjid memperoleh informasi yang lengkap tentang pelaksanaan kegiatan masjid dan hasilnya, maka berikutnya membandingkan hasil yang nyata dengan hasil yang harus dicapai dapat diadakan penilaian apakah proses kegiatan masjid berjalan dengan baik atau telah terjadi deviasi atau penyimpangan dan perlu tindakan perbaikan
4. Tindakan Perbaikan
Tindakan perbaikan merupakan tugas manajer atau pengurus masjid, jika terjadi penyimpangan-penyimpangan. Untuk itu diperlukan tindakan koreksi dalam berbagai bentuk yaitu mengubah standar atau pelaksanaan diperbaiki. Tujuan utama manajer atau pengurus masjid melakukan tindakan perbaikan adalah untuk mengembalikan status pelaksanaan kepada standar, jika pelaksanaan tersebut tidak memenuhi standar atau memperbaiki standar , jika standar tersebut tidak memenuhi syarat .Untuk itu manajer atau pengurus masjid harus mengetahui standar dan menerima tanggung jawab dengan sungguh dan menguasai hasil pelaksanaan Masjid yang telah dikerjakan. Tindakan perbaikan hanya dapat di jalan dengan cepat, bila manajer atau pengurus masjid mengetahui dengan jelas penyebab terjadinya penyimpangan itu, untuk itu harus diadakan penelitian dengan cermat.
Tindakan korektif dilakukan jika standar prestasi kerja masjid lebih rendah, sehingga dilakukan tindakan korektif yang diperlukan, tindakan korektif ini juga diterjemahkan sebagai sebuah tindakan sebagai sebuah tindakan perubahan dalam satu atau beberapa aktivitas program masjid dalam sebuah organisasi. Tidak tercapainya tujuan masjid sesuai standar ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya adalah faktor kurangnya dukungan finansial, tidak tersedianya waktu, situasi, kondisi yang memadai dalam menyelesaikan segala aktivitas masjid, dan kurangnya sumber daya manusia yang memadai. Kondisi seperti ini membutuhkan para manajer atau pengurus masjid yang cerdas dan ditopang oleh kerja tim yang solid dalam melakukan tindakan korektif, sehingga dapat dijadikan solusi untuk mencapai standar dan tujuan organisasi.
DAFTAR PUSTAKA

Jusmawati, dkk,2006,Manajemen Masjid dan Aplikasinya, The Minangkabau Foundation, Jakarta.
Rasyad, Roslaini, dkk, 2006, Manajemen dalam perspektif Islam, IAIN Imam Bonjol, Padang.
Suhandang, Kustadi, 2007, Manajemen Pers Masjid, Marja, Bandung.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s