METODOLOGI STUDI AL-QUR’AN / TAFSIR


METODOLOGI STUDI AL-QUR’AN / TAFSIR

A. Pengertian Metodologi Studi Al-Qur’an / Tafsir
1. Pengertian Metodologi
Metodologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “Metoda” dan “Logi”. “Metoda” artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu. ” logi” berasal dari kata “Logos” artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi metodologi artinya suatu ilmu yang membicarakan cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan atau menguasai kompetensi tertentu.
2. Pengertian Al-Qur’an
Secara etimologi, Al-Qur’an berasal dari kata “qara’a, yaqra’u, qira’atan, atau qur’anan” yang berarti mengumpulkan (al-jam’u) dan menghimpun (al-dhammu) huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian ke bagian yang lain secara teratur. Sedangkan pengertian Al-Qur’an dari segi terminologinya dapat dipahami dari pandangan beberapa ulama berikut:
a. Muhammad Salim muhsin mengemukakan dalam bukunya Tarikh Al-Qur’an Al-Karim Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammmad SAW yang tertulis dalam mushaf-mushaf dan dinukilkan /diriwayatkan kepada kita dengan jalan yang mutawatir dan membacanya dipandang ibadah serta sebagai penentang (bagi yang tidak percaya) walaupun surat terpendek.
b. Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan Al-Qur’an sebagai firman Allah SWT yang diturunkan melalui jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan bahasa Arab, isinya dijamin kebenarannya.
c. Muhammad Abduh mendefinisikan Al-Qur’an sebagai kalam yang diturunkan oleh Allah kepada yang paling sempurna (muhammad SAW), ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan.

3. Pengertian tafsir
Secara etimologis, tafsir berasal dari bahasa Arab, yaitu fassara, yufassiru, tafsiran yang berarti penjelasan, pemahaman, dan perincian. Selain itu tafsir dapat pula berarti al-idlab wa al-tabyin yaitu penjelasan dan keterangan. Secara terminologis pengertian tafsir dikemukakan pakar Al-Qur’an dalam tampil formulasi berbeda-beda, namun esensinya sama seperti berikut:
a. Al-Jurjani mengatakan bahwa tafsir adalah menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya, baik konteks, historisnya maupun sebab An-nuzulnya.
b. Imam Al-Zarqani tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan Al-Qur’an baik segi pemahaman makna atau arti sesuai dikehendaki Allah menurut kadar kesanggupan manusia.
c. Al-Zarkasyi mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang fungsinya untuk mengetahui kandungan kitabullah.
Dari pendapat para pakar Al-Qur’an di atas dapat disimpulkan bahwa tafsir ialah ilmu yang menjelaskan tentang cara mengucapkan lafadh-lafadh Al Qur’an, makna-makna yang ditunjukkannya dan hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri atau tersusun, serta makna-makna yang dimungkinannya ketika dalam keadaan tersusun.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Metodologi Tafsir Al-Quran (manâhij al-mufassiriin) adalah Ilmu yang membahas tentang jalan dan cara yang dipakai oleh setiap Mufassir dalam menafsirkan Al Qur’an, dimana dengannya dapat diketahui secara jelas akan perbedaan antara satu Mufassir dengan yang lainnya dari aspek sumber pengambilan, cara penyampaian dan orientasinya, kemudian kita kembalikan penafsiran mereka kepada syariat dan kaedah-kaedah baku yang telah disepakati oleh jumhur ulama.
B. Latar Belakang Dilakukan Studi / Penelitian
1. Terjadinya gabungan dari tiga sumber yaitu penafsiran Rasulullah SAW, penafsiran para sahabat dan penafsiran para tabi’in.
2. semakin pesatnya perkembangan agama islam dikalangan masyarakat sehingga muncullah atau beredarnya hadis-hadis palsu dan lemah dikalangan masyarakat. Semantara perubahan sosial semakin menonjol dan timbullah beberapa persoalan yang belum pernah terjadi atau dipersoalkan pada masa nabi Muhammad SAW, para sahabat dan tabi’in.
3. sejalan dengan lajunya perkembangan masyarakat, berkembang dan bertambah besar porsi peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an sehingga bermunculan berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam coraknya.
Senada dengan ini, Sanusi Lathef mengungkapkan bahwa akibat munculnya beberapa persoalan yang belum pernah terjadi atau dipersoalkan pada masa nabi Muhammad SAW, para sahabat dan para tabi’in maka penelitian tafsir ini berfungsi sebagai pedoman dalam mencari penyelesaian persoalan yang terjadi saat sekarang ini.
C. Tujuan Studi / Penelitian Tafsir
1. Sebagai salah satu ayat untuk dapat memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya
2. Agar dapat memahami arti dan maksud ayat-ayat Al-Qur’an itu, agar kita dapat melaksanakan petunjuk-petunjuk, ajaran-ajaran, peraturan-peraturan, dan hukum-hukum yang dibawa Al-Qur’an itu dalam kehidupan kita sehari-hari

D. Ruang Lingkup Studi / Penelitian Tafsir
Dengan semakin mapannya kajian keislaman, kata tafsir menemukan kompleksitasnya sebagai sebuah istilah akademik yang tidak hanya mencakup makna dalam lingkup aspek penjelasan terhadap al-Qur’an, tetapi lebih merupakan istilah bagi disiplin keilmuan yang terkait dengan kajian Al-Qur’an secara umum. Kesan akan kompleksitas makna tafsir secara terminologis dapat dilihat dalam defenisi yang Abu Hayyan, yang memaknai tafsir sebagai “ilmu yang membahas tentang tatacara melafalkan ayat-ayat al-Qur’an, makna dan hukum-hukumnya baik yang berdiri sendiri (ifrad) maupun yang terbentuk dalam sebuah struktur kalimat (tarkibiyyah), juga makna-makna yang ditunjukkan oleh sebab bentukan sintaksis tadi serta segala kelengkapan yang terkait dengan itu.” (Suyuti, Itqân, ii, 174) Oleh karenanya, bila kita berpijak pada definisi makna “tafsir” yang begitu kompleks, maka secara generik kita dapat mengatakan bahwa kata “tafsir” sudah bisa mewakili kajian multi-disiplin terhadap Al-Qur’an seutuhnya, yang sebagai konsekuensinya lingkup kajian ini tidak melulu dibatasi pada upaya untuk memberikan penjelasan terhadap makna-makna yang dikandung oleh ayat-ayat al-Qur’an, tetapi juga termasuk tata cara melafalkannya dan aspek-aspek akademik lain yang berkenaan dengan Al-Qur’an atau populer disebut dengan istilah ‘ulûm al-Qur’ân (lihat Subhi al-Salih, Mabahis, 121).
Objek pembahasan tafsir, yaitu al-Qur’an merupakan sumber ajaran Islam. Kitab suci ini menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkernbangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu gerakan-gerakan ummat Islam sepanjang lima belas abad sejarah pergerakan umat ini. Bersarkan kedudukan dan peran Al-Qur’an tersebut Qurasy Shihab mengatakan jika demikian halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an, melalui penafsiran-penafsirannya, mempunyai peranan sangat besar bagi maju mundurnya ummat. Sekaligus penafsiran¬-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka.”

E. Metode Studi / Penelitian Tafsir
Quraish Shihab, dalam membumikan Al-Qur’an, membagi tafsir dengan melihat corak dan metodenya menjadi; tafsir yang bercorak ma’tsur dan tafsir yang menggunakan metode penalaran.
Berikut ini akan penulis jelaskan metode-metode tafsir dengan mengikuti pola pembagian Al-Farmawi.
1. Metode Tafsir Tahlily
Metode Tafsir Tahlily adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dari seluruh aspeknya. Di dalam tafsirnya, penafsir mengikuti runtutan ayat sebagaimana yang telah tersusun di dalam mushaf. Penafsiran memulai uraiannya dengan mengemukakan arti kosa kata diikuti dengan penjelasan mengenai arti global ayat.
Metode Tahlily kebanyakan dipergunakan para ulama masa-masa klasik dan pertengahan. Di antara mereka, sebagian mengikuti pola pembahasan secara panjang lebar (ithnab), sebagian mengikuti pola singkat (ijaz) dan sebagian mengikuti pula secukupnya (musawah). Mereka sama-sama menafsirkan Al-Qur’an dengan metode tahlily, namun dengan corak yang berbeda.
2. Metode Tafsir Ijmaly
Metode Tafsir Ijmaly adalah suatu metode Tafsir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna global. Di dalam sistematika uraiannya, penafsir akan membahas ayat demi ayat sesuai dengan susunan yang ada di dalam mushaf; kemudian mengemukakan makna global yang dimaksud oleh ayat tersebut.
3. Metode Tafsir Muqaran
Yang dimaksud dengan metode ini adalah mengemukakan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh sejumlah para mufassir.
Objek kajian tafsir dengan metode muqaran dapat dikelompokkan kepada tiga, yaitu:
a. Perbandingan ayat Al-Qur’an dengan ayat lain
b. Perbandingan ayat Al-Qur’an dengan hadits
c. Perbandingan penafsiran mufassir dengan mufassir yang lain.
4. Metode Tafsir Maudhu’i
Metode tafsir Maudhu’iy juga disebut dengan dengan metode tematik yaitu menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai maksud yang sama, dalam arti, sama-sama membicarakan satu topik masalah dan menyusunnya berdasar kronologis serta sebab turunnya ayat-ayat tersebut.
Tafsir Maudhu’iy mempunyai dua bentuk, yaitu:
a. Tafsir yang membahas satu surat secara menyeluruh dan utuh dengan menjelaskan maksudnya yang bersifat umum dan khusus, menjelaskan korelasi antara berbagai masalah yang dikandungnya, sehingga surat itu tampak dalam bentuknya yang betul-betul utuh dan cermat.
b. Tafsir yang menghimpun sejumlah ayat dari berbagai surat yang sama-sama membicarakan satu masalah tertentu; ayat-ayat tersebut disusun sedemikian rupa dan diletakkan di bawah satu tema bahasan, dan selanjutnya ditafsirkan secara Maudhu’iy.
F. Pendekatan dalam Studi / Penelitian Tafsir
Dalam rangka menjelaskan isi pesan kitab suci, tafsir menggunakan berbagai pendekatan sesuai dengan disiplin ilmu. Imam suprayayogo mengemukakan ada beberapa pendekatan dalam penelitian tafsir sebagai berikut yaitu: 1. Pendekatan sastra bahasa. 2. Pendekatan filosofis. Pendekatan teologis. Pendekatan ilmiah. Pendekatan fiqih atau hukum. Pendekatan tasawuf. Pendekatan sosiologi dan . pendekatan kultural.
Pendekatan ini digunakan agar penafsiran yang dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman dalam kebudayaannya dari ajaran agama atau Al-Qur’an.
Adapun metode penafsiran yang berkembang dalam tradisi intelektual islam dan cukup populer, yaitu tahlily, ijmaly, muqaron, dan maudhu’i.
Abuddin nata juga membahas tentang bagaimana memahami Al-Qur’an atau dengan kata lain mengenai cara-cara memahami al-qur’an. Dia mengemukakan dua bahasan yaitu:
1. Konsep ma’qul dan ghairu ma’qul dalam ibadah dan muamalah.
Konsep ma’qul dan ghairu ma’qul dalam ibadah dan muammalah. Dari segi penerapan hukum, sebagian besar kandungan nas Al-Qur’an dianggap zanni dan hanya sebagian kecil yang masih diterima sebagai qath’i.
2. Pemahaman kontekstual.
Yang dimaksud dengan pemahaman kontekstual adalah upaya memahami ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan aspek sejarah ayat itu, sehingga nampak gagasan atau maksud yang sesungguhnya dari setiap yang digagaskan dalam Al-Qur’an.
G. Contoh Model Studi / Penelitian Tafsir
Model penelitian tafsir adalah suatu contoh, ragam, acuan atau macam dari penyelidikan secara seksama terhadap penafsiran Al-Qur’an yang pernah dilakukan generasi terdahulu untuk diketahui secara pasti tentang berbagai hal yang terkait dengannya.
1. Model Quraish Shihab
Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh Quraisy Shihab lebih banyak bersifat eksploratif, deskriptif, analitis dan perbandingannya.
Selanjutnya dengan tidak memfokuskan pada tokoh tertentu, Quraish Shihab telah meneliti hampir seluruh karya tafsir yang dilakukan para ulama terdahulu. Dari penelitian tersebut telah dihasilkan beberapa kesimpulan yang berkenaan dengan tafsir. Antara lain tentang:
a. periodesasi pertumbuhan dan perkembangan tafsir,
b. corak-corak penafsiran
c. macam-macam metode penafsiran Al-Qur’an,
d. syarat-syarat dalam menafsirkan al- Qur’an,
e. hubungan tafsir modernisasi.
2. Model Ahmad Al-Syarbashi
Pada tahun 1985 Ahmad Syarbashi melakukan penelitian tentang tafsir dengana menggunakan metode deskriptif eksploratif dan analisis sebagaimana halnya yang dilakukan Quraish Shihab. Sumber yang digunakan adalah bahan-bahan bacaan atau kepustakaan yang ditulis para ulama tafsir.
Hasil penelitiannya itu mencakup tiga bidang:
a. mengenai sejarah penafsiran al-Qur’an yang dibagi ke dalam Tafsir pada masa Sahabat Nabi.
b. mengenai corak tafsir, yaitu tafsir ilmiah, tafsir sufi dan tafsir politik.
c. mengenai gerakan pembaharuan di bidang tafsir.
3. Model Syaikh Muhammad Al-Ghazali
Sebagaimana para peneliti tafsir lainnya Muhammad Al-Ghazali menempuh cara penelitian tafsir yang bercorak eksploratif deskriptif dan analitis dengan berdasar pada rujukan kitab-kitab tafsir yang ditulis ulama terdahulu.
sumber
Ramayulis, Metodologi Pendidkan Agama Islam, (Jakarta:Kalam Mulia,2005), h.4
Muhaimin, Kawasan Dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta:Prenada Media,2005), h.81-83
Abuddin,Metodologi StudiI islam, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1998),h.161
Rosniati Hakim, Metodologi studi Islam II, (padsang:Hayfa Press,2009), h.53
http://jasafa dilahginting.blogspot.com/2011/01/metodologi-tafsir-al-quran.html

Rosniati Hakim, Metodologi Studi Islam, Jilid I, 2000 (Padang: Baitul Hikmah). Hal. 80-82
Sanusi Latief, Pengantar Tafsir Jilid II, 1982, Padang. Hal. 14
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam,2002, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada). Hal.73
http://munfarida.blogspot.com/2010/03/metode-tafsir-al-quran.html
Rosniati Hakim, Metodologi Studi Islam, Jilid II, 2009 (Padang: Hayfa Press). Hal. 53-54
Rosniati Hakim, Metodologi Studi Islam, Jilid I, 2000 (Padang: Baitul Hikmah). Hal. 80-82

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s