KURIKULUM,PESERTA DIDIK,EVALUASI,PROBLEM PENDIDIKAN ISLAM



KURIKULUM

A. Bentuk Kurikulum yang Ideal Menurut Filsafat Pendidikan Islam
Kurikulum yang sesuai dengan pendidikan Islam adalah kurikulum yang mempunyai tujuan untuk mencapai perkembangan yang menyeluruh dan berpadu dengan kepribadian para peserta didik. Di samping itu kurikulum pendidikan Islam juga mempunyai tujuan untuk memberi sumbangan dalam perkembangan masyarakat Islam, memperkuat kepribadian Islam yang berdiri sendiri.
Kurikulum pendidikan Islam adalah bahan-bahan pendidikan Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Atau dengan kata lain kurikulum pendidikan Islam adalah semua aktiviti, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka tujuan pendidikan Islam (H.syamsul Bahri Tanrere, 1993).
Berdasarkan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agama berupa alat untuk mencapai tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikan agama (pendidikan Islam) diperlukan adanya kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam dan bersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan pelajar.
Bentuk kurikulum yang ideal menurut filsafat pendidikan Islam adalah kurikulum yang bercirikan:
1. Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan, kandungan, metode, dan tekniknya yang bercorak agama.
2. Meluas cakupan dan menyeluruh kandungannya. Di samping itu kurikulum pendidikan Islam juga memperhatikan dan membimbing terhadap segala pribadi pelajar baik dari segi intelektual, psikologis, social dan spiritualnya. Di samping menaruh perhatian kepada pengembangan dalam aspek spiritual bagi pelajar, dan membina aqidah yang benar, dan menguatkan hubungannya dengan Tuhan, kurikulum pendidikan Islam juga menaruh perhatian dalam pengembangan akal pelajar dan mengembangkan sesuatu yang berkaitan dengan akal.
3. Keseimbangan yang relatif di antara kandungan-kandungan kurikulum dari berbagai aspek ilmu pengetahuan. Menghubungkan keseimbangan ini dengan sifat relatif karena kita telah tahu bahwa tidak ada keseimbangan yang mutlak pada kurikulum pengajaran, tapi tidak pada pendidikan Islam atau pendidikan yang lain.
4. Bersikap menyeluruh dalam menata mata pelajaran yang diperlukan anak didik.
5. Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan bakat dan minat anak didik. Dari sisi lain pendidikan Islam juga bersifat dinamis dan sanggup menerima perkembangan dan perubahan apabila dipandang perlu.
B. Orientasi Kurikulum
1. Orientasi kurikulum pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam meliputi tiga perkara yaitu masalah keimanan (aqidah), masalah keIslaman (syariah) dan masalah Ihsan (akhlak). Bahagian aqidah menyentuh hal-hal yang bersifat Iktikad (kepercayaan). Termasuklah mengenai iman setiap manusia dengan Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Kiamat dan Qadha dan Qadar Allah SWT.
Bahagian syariah meliputi segala hal yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berpandukan kepada peraturan hukum Allah dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah dan antara sesama manusia.
Bahagian akhlak merupakan suatu amalan yang bersifat melengkapkan kedua perkara di atas dan mengajar serta mendidik manusia mengenai cara pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketiga-tiga ajaran pokok tersebut di atas akhirnya dibentuk menjadi Rukun Iman, Rukun Islam dan Akhlak. Dari ketiga bentuk ini pula lahirlah beberapa hukum agama, berupa ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu akhlak. Selanjutnya ketiga kelompok ilmu agama ini kemudian dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum Islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis serta ditambah lagi dengan sejarah Islam.
Sementara itu menurut Dr. Hj. Maimun Aqsa, perkara yang perlu didahulukan dalam kurikulum pendidikan Islam ialah Al-Qur’an, Hadis dan juga Bahasa Arab. Kedua ialah bidang ilmu yang meliputi kajian tentang manusia sebagai individu dan juga sebagai anggota masyarakat. Menurut istilah modern hari ini, bidang ini dikenali sebagai kemanusiaan (al-ulum al-insaniyyah). Bidang-bidangnya termasuklah psikologi, sosiologi, sejarah, ekonomi dan lain-lain. Ketiga bidang ilmu mengenai alam tabie atau sains natural ( Al-Ulum Al-Kauniyyah), yang meliputi bidang-bidang seperti astronomi, biologi dan lain-lain.
Kurikulum yang baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah bersifat intergerated dan komperhensif serta menjadikan al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber yang utama dalam penyusunannya. Al-Qur’an dan hadits merupakan sumber yang utama pendidikan Islam berisi kerangka dasar yang dapat di jadikan acuan operasional dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Dalam al-Qur’an dan hadits ditemukan kerangka dasar yang dapat di jadikan sebagai pedoman operasional dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam, kerangka dasar tersebut adalah, (1) Tauhid, (2), Perintah membaca.
2. Orientasi kurikulum yang diminati peserta didik
Untuk masalah orientasi kurikulum yang diminati peserta didik, saya mengambil sekop pada perguruan tinggi.
Masing-masing mata kuliah ada arah, ada desain yang ingin dicapai, dan ini yang dijelaskan di awal perkuliahan. Tidak ada kegiatan OSPEK yang berisi penyiksaan dan penghinaan, tidak ada hura-hura pesta masuk perguruan tinggi, yang ada adalah penjelasan tentang kurikulum secara komprehensif. Sang mahasiswa ingin menjadi apa, tertarik di bidang apa, itu yang dibidik dan diarahkan oleh universitas dengan penjelasan desain kurikulum beserta dengan mata kuliah apa yang sebaiknya diambil oleh sang mahasiswa.
Mengingat bahwa fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, bahwa hal ini berarti bahwa sebagai alat, kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat medukung operasinya dengan baik. Bagian-bagian ini disebut komponen yang saling berkaitan, berintraksi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu kurikulum pendidikan Islam haruslah bersifat fungsional yang tujuannnya mengeluarkan dan membentuk manusia muslim yang kenal agama dan Tuhannya, berakhlak mulia al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia dalam masyarakat bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu dan mendorong mengembangkan kehidupan melalui pekerjaan tertentu yang di kuasainya .
Akhirnya, menurut saya kurikulum yang diminati peserta didik adalah kurikulum yang memiliki arah dan tujuan sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga peserta didik memiliki bayangan akan jadi apa mereka dengan pendidikan yang sekarang mereka jalani.
C. Masalah dalam Mengatasi Pengangguran serta Hubungannya dengan Kurikulum
Apabila selama ini perguruan tinggi tidak mampu melahirkan tenaga-tenaga terampil yang dibutuhkan dunia lapangan kerja, ini disebut kegagalan pendidikan tinggi. Jadi terlepas dari usaha manusia, saya bisa mengatakan bahwa pengangguran ini juga disebabkan oleh kurikulum lembaga pendidikan yang tidak tepat sasaran. Perguruan tinggi tidak bisa memberikan yang terbaik bagi nasib dan masa depan bangsa ke depan. Perguruan tinggi tidak sepenuhnya berdedikasi tinggi bagi pengentasan pengangguran yang membanjiri negeri ini dan justru ikut menyumbangkan persoalan di tengah sosial dengan segala konsekwensi buruknya. Bila ada pendapat yang mengatakan bahwa perguruan tinggi menjadi tulang punggung utama guna memperbaiki kehidupan bangsa, itu pun masih perlu dibahas kembali dan dicarikan kebenarannya dalam konteks apalah namanya. Jelas, ada yang salah dalam pengelolaan pendidikan tinggi di perguruan tinggi saat ini.
Ada yang tidak dan belum beres dalam mengelola pendidikan tinggi di perguruan tinggi. Ada konsep pemikiran yang tidak bersambungan antara harapan orang tua peserta didik untuk memasukkan dan menyekolahkan anak-anaknya di perguruan tinggi dengan para pemegang pendidikan tinggi tersebut. Apabila para orang tua peserta didik mengharapkan anak-anaknya mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan selanjutnya bisa diaplikasikan dalam dunia kerja, ternyata harapan ideal para orang tua tersebut belum dan tidak didengar para pemegang pendidikan tinggi. Para pemegang pendidikan tinggi tidak mengetahui pesan nurani para orang tua tersebut sesungguhnya. Ada salah komunikasi lintas sektoral di antara dua kelompok tersebut.
Ironisnya, selama pendidikan tingginya sesuai dengan misi dan visi perguruan tinggi akan tetapi tidak mencakup muatan pesan nurani para orang tua, perguruan tinggi tetap menjalankan pendidikan tingginya itu. Sangat jelas, antara keinginan para orang tua dan perguruan tinggi tidak bersatu dan dicoba satupadukan. Sejatinya dan secara ideal, perguruan tinggi itu harus mengerti dan memahami Kebutuhan para konsumen pendidikan, namun hal tersebut dibiarkan begitu saja dan tidak mendapat ruang kepedulian sangat tinggi. Ini sungguh memilukan. Perguruan tinggi mementingkan kepentingan dirinya sendiri sementara kepentingan para orang tua dan peserta didik sebagai konsumen ditelantarkan dengan begitu saja. Sejumlah bukti perguruan tinggi tidak sepenuhnya berpihak pada kepentingan dan Kebutuhan konsumen pendidikan, itu bisa dibaca dan diketahui di beberapa perguruan tinggi dengan program studi yang tidak dan kurang aplikatif.
Ada beberapa program studi yang tidak layak dipertahankan, itu pun masih dipertahankan keberadaannya. Seolah bertujuan untuk melengkapi program studi lainnya supaya kelihatan banyak program studi yang diberlangsungkan dalam perguruan tinggi tersebut. Sementara ada beberapa program studi yang sangat diminati konsumen pendidikan, program studi tersebut tidak digarap secara serius, sebut saja perlengkapan infrastruktur dan suprakstrukturnya. Ini sangat menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan tinggi selama ini tidak dikerjakan secara profesional.
Oleh karenanya, ketidakmampuan perguruan tinggi membaca Kebutuhan lapangan dan kongkrit pun menjadi sebuah persoalan baru yang cukup merumitkan keadaan. Ini sesungguhnya yang justru akan menambah ketidakjelasan arah pendidikan tinggi di perguruan tinggi. Sangat jelas, hal sedemikian memberikan satu stigma buruk terhadap pendidikan tinggi yang selama ini diberlangsungkan. Pendidikan tinggi hanya dikerjakan apa adanya, tanpa dikonsep secara jelas dan matang. Pendidikan tinggi adalah sebuah proses penyelenggaraan pendidikan yang tidak memiliki dasar pemikiran sangat matang dan aplikatif, akan dibawa kemana arah pendidikannya. Hal sedemikian sungguh sebuah potret pendidikan tinggi yang muram dan sudah kehilangan identitas dirinya sebagai pendidikan yang siap mencetak generasi bangsa, yang dipersiapkan untuk mengisi seluruh lini kehidupan bangsa guna menggapai bangsa besar, maju dan makmur dan berakhirnya persentase besar-besaran munculnya “sarjana pengangguran”.

PESERTA DIDIK

A. Implikasi Pandangan Peserta Didik Adalah Miniatur Orang Dewasa dan Pandangan Peserta Didik Berbeda dengan Orang Dewasa Terhadap Sistem Pembelajaran Menurut Filsafat Pendidikan Islam
Dalam paradigma pendidikan Islam, peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan.
Paradigma di atas menjelaskan bahwasanya manusia / anak didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengarahkannya mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kedewasaan.
Ibnu Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya sebagaimana yang acapkali dibicarakan para filosof, baik itu filosof dari golongan muslim atau non-muslim. Ia lebih banyak melihat manusia dalam hubungannya dan interaksinya dengan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Dalam konteks inilah ia sering disebut sebagai salah seorang pendiri sosiolog dan antropolog. Menurutnya, keberadaan masyarakat sangat penting untuk kehidupan manusia, karena sesungguhnya manusia memiliki watak bermasyarakat.
Ini merupakan wujud implementasi dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial, yang secara harfiahnya selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Salah satu contoh yaitu dengan adanya oganisasi kemasyarakatan.
Dalam Al Qur`an sendiri manusia terdiri dari materi (jasad) dan immateri (ruh, jiwa, akal, qalb). Jika dihubungkan dengan pendidikan, maka manusia yang diberi pendidikan itu adalah jiwa dan akalnya. Pendidikan pada manusia adalah suatu proses pengembangan potensi jiwa dan akal yang tumbuh secara wajar dan seimbang, dalam masyarakat yang berkebudayaan.
B. Peran Pendidikan Islam
1. Peran pendidikan Islam dalam pengembangan peserta didik
Perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.
Pengembangan peserta didik merupakan bagian dari kompetensi pedagogig yang harus dimiliki guru, untuk mengaktualisasikan berbagi potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Pengembangan peserta didik dapat dilakukan oleh guru melalui berbagai cara, antara lain kegiatan ekstrakurikuler, pengayaan dan remedial, serta bimbingan konseling (BK)
Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan untuk mengembangkan peserta didik, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
Dasar Agamis, maksudnya bahwa metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah berdasarkan pada agama. Sementara agama Islam merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Untuk itu, dalam pelaksanaannya berbagai metode yang digunakan oleh pendidik hendaknya disesuaikan dengan Kebutuhan yang muncul secara efektif dan efesien yang dilandasi nilai-nilai Al Qur’an dan Hadits.
Dasar Biologis, Perkembangan biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin dinamis perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Untuk itu dalam menggunakan metode pendidikan Islam seorang guru harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.
Dasar Psikologis. Perkembangan dan kondisi psikologis peserta didik akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang dilaksanakan, dalam kondisi yang labil pemberian ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh Karenanya Metode pendidikan Islam baru dapat diterapkan secara efektif bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologis peserta didiknya. Untuk itu seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang tumbuh pada peserta didik. Sebab dalam konsep Islam akal termasuk dalam tataran rohani.
Dasar sosiologis. Saat pembelajaran berlangsung ada interaksi antara peserta didik dengan peserta didik dan ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar hal ini maka pengguna metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan landasan atau dasar ini. Jangan sampai terjadi ada metode yang digunakan tapi tidak sesuai dengan kondisi sosiologis peserta didik, jika hal ini terjadi bukan mustahil tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai.
Keempat dasar di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh para pengguna metode pendidikan Islam agar dalam mencapai tujuan tidak menggunakan metode yang tidak tepat dan tidak cocok kondisi agamis, kondisi biologis, kondisi psikologis, dan kondisi sosiologis peserta didik. Dalam kaitannya dengan pendidikan, metode sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran yang dilakukan dalam mewujudkan tujuan pendidikan.
Prinsip Pendidikan Islam Dalam proses belajar mengajar, metode yang digunakan adalah dengan mentransfer pemikiran. Pemikiran yang dimaksudkan di sini bukanlah sekedar mentransfer informasi atau pengetahuan. Tetapi yang dimaksud dengan pemikiran adalah kemampuan untuk menyerap fakta dengan menggunakan alat indra yang dimiliki ke dalam otak, yang kemudian oleh otak diinterpretasikan sesuai dengan informasi yang terkait, dan akhirnya bisa ditetapkan hukum/ status atas fakta tersebut. Dalam proses pengajaran, harus terdapat timbal balik antara penyampaian dan penerimaan pemikiran dari pengajar kepada pelajar. Oleh karena itu, seorang pengajar/ guru ketika mentransfer pemikiran dan pengetahuan yang dia miliki kepada siswa harus memperhatikan segala aspek yang melingkupi, termasuk bahasa yang dia gunakan hendaknya disesuaikan dengan kapasitas berpikir siswanya. Bahasa memang instrumen yang paling penting dalam mentransfer pemikiran, baik itu pemikiran yang berhubungan dengan pandangan hidup ataupun tidak. Secara umum bahasa memiliki tiga fungsi strategis ;(1) bahasa sebagai media pembelajaran segala mata pelajaran di sekolah, (2) bahasa sebagai pentransfer alat berpikir, dan (3) bahasa sebagai alat komunikasi. Dan dalam pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas berpikir, menyiapkan siswa agar mampu bersosialisasi dan berkomunikasi secara fungsional dalam lingkungannya, dan mengambil peran di dalamnya, tentu penguasaan bahasa merupakan dasar bagi keberhasilan pendidikan sebagai proses maupun pendidikan sebagai hasil. Oleh karena itu, penguasaan bahasa diperlukan oleh setiap pengajar. Dan jika itu berkaitan dengan pengetahuan (bukan sastra), hendaknya pengajar menyampaikan pemikiran dalam bahasa yang memiliki makna-makna jelas yang bisa dipahami anak, bukan metafora. Untuk menggunakan metode yang sesuai dengan Kebutuhan, perlu diperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam tersebut. Menurut al-Syaibani, ada empat dasar metode pendidikan Islam, yaitu: pertama, dasar agamis yaitu meliputi pertimbangan bahwa metode yang digunakan diambil dari tuntunan Al-Qur’an dan hadis, kemudian dari sumber yang lain dengan berbagai cabangnya dan dari peninggalan dan amalan orang-orang terdahulu yang shaleh; kedua, dasar biologis, yang meliputi pertimbangan Kebutuhan jasmani peserta didik dan tingkat perkembangan usia anak didik; ketiga, dasar psikologis, yaitu meliputi pertimbangan terhadap sejumlah kekuatan psikologis termasuk motivasi, Kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat-bakat, dan kecakapan akal (intelektual); dan keempat, dasar sosial, yaitu meliputi pertimbangan Kebutuhan sosial di lingkungan peserta didik, artinya metode yang digunakan mesti disesuaikan dengan nilai-nilai masyarakat dan tradisi-tradisi yang berkembang di dalamnya.
2. Peran pendidikan Islam dalam Memenuhi Kebutuhan peserta didik
Untuk mendapatkan keberhasilan dalam proses pendidikan maka seorang pendidik harus mampu memahami karakteristik seorang peserta didik itu sendiri. Kemudian salah satu darinya adalah Kebutuhan peserta didik.
Kebutuhan peserta didik adalah sesuatu Kebutuhan yang harus didapatkan oleh peserta didik untuk mendapat kedewasaan ilmu. Kebutuhan peserta didik tersebut wajib dipenuhi atau diberikan oleh pendidik kepada peserta didiknya. Menurut buku yang ditulis oleh Ramayulis, ada delapan Kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi, yaitu :
a. Kebutuhan Fisik
Fisik seorang didik selalu mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Proses pertumbuhan fisik ini terbagi menjadi tiga tahapan :
1) peserta didik pada usia 0 – 7 tahun, pada masa ini peserta didik masih mengalami masa kanak-kanak
2) peserta didik pada usia 7 – 14 tahun, pada usia ini biasanya peserta didik tengah mengalami masa sekolah yang didukung dengan peraihan pendidikan formal
3) peserta didik pada 14 – 21 tahun, pada masa ini peserta didik mulai mengalami masa pubertas yang akan membawa kepada kedewasaan.
Pada masa perkembangan inilah seorang pendidik perlu memperhatikan perubahan dan perkembangan seorang didik. Karena pada usia ini seorang peserta didik mengalami masa yang penuh dengan pengalaman (terutama pada masa pubertas) yang secara tidak langsung akan membentuk kepribadian peserta didik itu sendiri.
Di samping memberikan memperhatikan hal tersebut, seorang pendidik harus selalu memberikan bimbingan, arahan, serta dapat menuntun peserta didik kepada arah kedewasaan yang pada akhirnya mampu menciptakan peserta didik yang dapat mempertanggungjawabkan tentang ketentuan yang telah ia tentukan dalam perjalanan hidupnya dalam lingkungan masyarakat.
b. Kebutuhan Sosial
Secara etimologi sosial adalah suatu lingkungan kehidupan. Pada hakekatnya kata sosial selalu dikaitkan dengan lingkungan yang akan dilampaui oleh seorang peserta didik dalam proses pendidikan.
Dengan demikian Kebutuhan sosial adalah Kebutuhan yang berhubungan lansung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti yang diterima teman-temannya secara wajar. Begitu juga supaya dapat diterima oleh orang lebih tinggi dari dia seperti orang tuanya, guru-gurunya dan pemimpinnya. Kebutuhan ini perlu dipenuhi agar peserta didik dapat memperoleh posisi dan berprestasi dalam pendidikan.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa Kebutuhan sosial adalah digunakan untuk memberi pengakuan pada seorang peserta didik yang pada hakekatnya adalah seorang individu yang ingin diterima eksistensi atau keberadaannya dalam lingkungan masyarakat sesuai dengan keberadaan dirinya itu sendiri.
Firman Allah:
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (Q.S. Al-Hujarat, 49:13)
c. Kebutuhan Untuk Mendapatkan Status
Kebutuhan mendapatkan status adalah suatu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mendapatkan tempat dalam suatu lingkungan. Hal ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik terutama pada masa pubertas dengan tujuan untuk menumbuhkan sikap kemandirian, identitas serta menumbuhkan rasa kebanggaan diri dalam lingkungan masyarakat.
Dalam proses memperoleh Kebutuhan ini biasanya seorang peserta didik ingin menjadi orang yang dapat dibanggakan atau dapat menjadi seorang yang benar-benar berguna dan dapat berbaur secara sempurna di dalam sebuah lingkungan masyarakat.

d. Kebutuhan Mandiri
Ketika seorang peserta didik telah melewati masa anak dan memasuki masa keremajaan, maka seorang peserta perlu mendapat sikap pendidik yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk membentuk kepribadian berdasarkan pengalaman. Hal ini disebabkan karena ketika peserta telah menjadi seorang remaja, dia akan memiliki ambisi atau cita-cita yang mulai ditampakkan dan terpikir oleh peserta didik, inilah yang akan menuntun peserta didik untuk dapat memilih langkah yang dipilihnya.
Karena pembentukan kepribadian yang berdasarkan pengalaman itulah yang menyebabkan para peserta didik harus dapat bersikap mandiri, mulai dari cara pandang mereka akan masa depan hingga bagaimana ia dapat mencapai ambisi mereka tersebut. Kebutuhan mandiri ini pada dasarnya memiliki tujuan utama yaitu untuk menghindarkan sifat pemberontak pada diri peserta didik, serta menghilangkan rasa tidak puas akan kepercayaan dari orang tua atau pendidik, karena ketika seorang peserta didik terlalu mendapat kekangan akan sangat menghambat daya kreativitas dan kepercayaan diri untuk berkembang.
e. Kebutuhan Untuk Berprestasi
Untuk mendapatkan Kebutuhan ini maka peserta didik harus mampu mendapatkan Kebutuhan mendapatkan status dan Kebutuhan mandiri terlebih dahulu. Karena kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan Kebutuhan berprestasi. Ketika peserta didik telah mendapatkan kedua Kebutuhan tersebut, maka secara langsung peserta didik akan mampu mendapatkan rasa kepercayaan diri dan kemandirian, kedua hal ini lah yang akan menuntun langkah peserta didik untuk mendapatkan prestasi.
f. Kebutuhan Ingin Disayangi dan Dicintai
Kebutuhan ini tergolong sangat penting bagi peserta didik, karena Kebutuhan ini sangatlah berpengaruh akan pembentukan mental dan prestasi dari seorang peserta didik. Dalam sebuah penelitian membuktikan bahwa sikap kasih sayang dari orang tua akan sangat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mendapatkan prestasi, dibandingkan dengan dengan sikap yang kaku dan pasif malah akan menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan sikap mental peserta didik. Di dalam agama Islam, umat Islam meyakini bahwa kasih sayang paling indah adalah kasih sayang dari Allah. Oleh karena itu umat muslim selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan kasih sayang dan kenikmatan dari Allah. Sehingga manusia tersebut mendapat jaminan hidup yang baik. Hal ini yang diharapkan para pakar pendidikan akan pentingnya kasih sayang bagi peserta didik.
g. Kebutuhan Untuk Curhat
Ketika seorang peserta didik menghadapi masa pubertas, meka seorang peserta didik tersebut tengah mulai mendapatkan problema-probelama keremajaan. Kebutuhan untuk curhat biasanya ditujukan untuk mengurangi beban masalah yang dia hadapi. Pada hakekatnya ketika seorang yang tengah menglami masa pubertas membutuhkan seorang yang dapat diajak berbagi atau curhat. Tindakan ini akan membuat seorang peserta didik merasa bahwa apa yang dia rasakan dapat dirasakan oleh orang lain. Namun ketika dia tidak memiliki kesempatan untuk berbagi atau curhat masalahnya dengan orang lain, ini akan membentuk sikap tidak percaya diri, merasa dilecehkan, beban masalah yang makin menumpuk yang kesemuanya itu akan memacu emosi seorang peserta didik untuk melakukan hal-hal yang berjalan ke arah keburukan atau negatif.
h. Kebutuhan Untuk Memiliki Filsafat Hidup
Pada hakekatnya setiap manusia telah memiliki filsafat walaupun terkadang ia tidak menyadarinya. Begitu juga dengan peserta didik ia memiliki ide, keindahan, pemikiran, kehidupan, Tuhan, rasa benar, salah, berani, takut. Perasaan itulah yang dimaksud dengan filsafat hidup yang dimiliki manusia.
Karena terkadang seorang peseta didik tidak menyadari akan adanya ikatan filsafat pada dirinya, maka terkadang seorang peserta didik tidak menyadari bagaimana dia bisa mendapatkannya dan bagaimana caranya. Filsafat hidup sangat erat kaitannya dengan agama, karena agama lah yang akan membimbing manusia untuk mendapatkan dan mengetahui apa sebenarnya tujuan dari filsafat hidup. Sehingga tidak seorangpun yang tidak membutuhkan agama.
Agama adalah fitrah yang diberikan Allah SWT dalam kehidupan manusia, sehingga tatkala seorang peserta didik mengalami masa kanak-kanak, ia telah memiliki rasa iman. Namun rasa iman ini akan berubah seiring dengan perkembangan usia peserta didik. Ketika seorang peserta didik keluar dari masa kanak-kanak, maka iman tersebut akan berkembang, ia mulai berfikir siapa yang menciptakan saya, siapa yang dapat melindungi saya, siapa yang dapat memberikan perlindungan kepada saya. Namun iman ini dapat menurun tergantung bagaimana ia beribadah.
Pendidikan agama di samping memperhatikan Kebutuhan-Kebutuhan biologis dan psikologis ataupun Kebutuhan primer maupun sekunder, maka penekanannya adalah pemenuhan Kebutuhan anak didik terhadap agama karena ajaran agama yang sudah dihayati, diyakini, dan diamalkan oleh anak didik, akan dapat mewarnai seluruh aspek kehidupannya.
Firman Allah:
Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (Q.S. Saba 34:6).

EVALUASI
A. Objek Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, maka akan diketahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian.
Subjek/pelaku evaluasi adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi. Siapa yang dapat disebut subjek evaluasi untuk setiap tes ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku, karena tidak setiap orang dapat melakukannya.

Adapun objek beserta subjek evaluasi yang akan dibahas di sini adalah:
1. Evaluasi kinerja peserta didik
Objek evaluasi biasa disebut juga dengan sasaran evaluasi. Yaitu segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilai menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut.
Bagi siswa atau peserta didik, evaluasi digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilannya dalam mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru dan yang bertugas aktif dalam proses evaluasinya adalah guru.
2. Evaluasi kinerja tenaga pendidik
Evaluasi kinerja tenaga pendidik adalah evaluasi yang objeknya tenaga pendidik, ini dilakukan untuk mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran.
Evaluasi terhadap metode mengajar merupakan kegiatan guru untuk meninjau kembali tentang metode mengajar, pendekatan, atau strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi kurikulum kepada siswa. Metode mengajar adalah cara-cara atau teknik yang digunakan dalam mengajar. Sedangkan strategi pembelajaran menunjuk kepada bagaimana guru mengatur waktu pemenggalan penyajian, pemilihan metoda, pemilihan pendekatan dan sebagainya
3. Evaluasi kinerja lembaga pendidikan
Dalam konteks lembaga, evaluasi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kualitas, kinerja atau produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan programnya (Mardapi,2004). Hal yang hampir sama dikemukakan oleh Stuffelbeam dan Shinkfield (2007), yang mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses memperoleh, menyajikan, dan menggambarkan informasi yang berguna untuk menilai suatu alternatif pengambilan keputusan tentang suatu program.
4. Evaluasi program pendidikan
Program pendidikan merupakan suatu rencana pengajaran sebagai panduan bagi guru atau pengajar dalam melaksanakan pengajaran. Agar pengajaran bisa berjalan dengan efektif dan efisien, maka perlu kiranya dibuat suatu program pendidikan. Program pendidikan yang dibuat oleh guru tidak selamanya bisa efektif dan dapat dilaksanakan dengan baik, oleh karena itulah agar program pendidikan yang telah dibuat yang memiliki kelemahan tidak terjadi lagi pada program pendidikan berikutnya, maka perlu diadakan evaluasi program pendidikan.
Apabila guru ingin melakukan evaluasi program dengan lebih seksama, terlebih dahulu hendaknya menyusun rencana evaluasi sekaligus menyusun instrument pengumpulan data. Instrument pengumpulan data bisa berupa angket, pedoman wawancara, pedoman pengamatan dan lain sebagainya. Sebagai cara yang paling sederhana adalah mengadakan pendekatan terhadap peristiwa yang dialami sehari-hari di kelas.
B. Teknik dan Contoh Evaluasi
1. Evaluasi untuk menilai kognitif
Kemampuan calon peserta didik yang akan mengikuti program pendidikan sebagai taruna Akademi Angkatan Laut tentu harus dibedakan dengan kemampuan calon peserta didik yang akan mengikuti program pendidikan pada sebuah perguruan tinggi agama Islam. Adapun alat yang biasa digunakan dalam rangka mengevaluasi kemampuan peserta didik itu adalah tes kemampuan (attitude tes).
2. Evaluasi untuk menilai psikomotor
Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri seseorang, yang menampakkan bentuknya dari tingkah lakunya. Sebelum mengikuti program pendidikan tertentu, para calon peserta didik perlu terlebih dahulu dievaluasi kepribadiannya masing-masing, sebab baik buruknya kepribadian mereka secara psikologis akan dapat mempengaruhi keberhasilan mereka dalam mengikuti program tertentu. Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui atau mengungkap kepribadian seseorang adalah dengan jalan menggunakan tes kepribadian (personality test).
3. Evaluasi untuk menilai afektif
Sebenarnya sikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Namun karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol dan sangat dibutuhkan dalam pergaulan maka informasi mengenai sikap seseorang penting sekali. Alat untuk mengetahui keadaan sikap seseorang dinamakan Attitude Test. Oleh karena tes ini berupa skala.
Tentunya, evaluasi mempunyai beberapa teknik yang berusaha mencari solusi lebih baik dalam mengejar keberhasilan belajar. Pada dasarnya evaluasi itu dapat dibedakan menjadi dua macam bentuk tes yaitu :
1. Teknik Non Tes
Maksudnya adalah penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dengan cara :
a. skala bertingkat
Yang dimaksud dengan skala bertingkat atau rating skala adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan anak didik berdasarkan tingkat tinggi rendahnya penguasaan dan penghayatan pembelajaran yang telah diberikan
b. Daftar cocok
Maksudnya adalah suatu tes yang berbentuk daftar pertanyaan yang akan dijawab dengan membubuhkan tad cocok (x) pada kolom yang telah disediakan.
c. Wawancara
Maksudnya adalah semua proses tanya jawab lisan, di mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain, mendengar dengan telinganya sendiri suaranya.
d. Daftar angket
Maksudnya adalah bentuk tes yang berupa daftar pertanyaan yang diajukan pada responden, baik berupa keadaan diri, pengalaman, pengetahuan, sikap dan pendapatnya tentang sesuatu.
e. Pengamatan (observasi)
Maksudnya adalah teknik evaluasi yang dilakukan dengan cara meneliti secara cermat dan sistematis. Dengan menggunakan alat indra dapat dilakukan pengamatan terhadap aspek-aspek tingkah laku siswa di sekolah. Oleh karena pengamatan ini bersifat langsung mengenai aspek-aspek pribadi siswa, maka pengamatan memiliki sifat kelebihan dari alat non tes lainnya.

f. Riwayat hidup
Ini adalah salah satu tehnik non tes dengan menggunakan data pribadi seseorang sebagai bahan informasi penelitian. Dengan mempelajari riwayat hidup maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan dan sikap dari objek yang dinilai.
2. Teknik Tes
Teknik tes adalah satu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau merangkai tugas yang harus dikerjakan oleh anak didik atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.
a. Tes subjektif
Tes ini sering pula diartikan sebagai tes essay yaitu tes hasil belajar yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang bersifat uraian dan atau penjelasan. Secara umum tes uraian ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, penjelasan, mendiskusikan, membandingkan, memberi alasan, dan bentuk lain sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan.
b. Tes objektif
Maksudnya adalah adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essay. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak dari pada tes essay.
Tes objektif disebut juga dengan istilah short answer test atau new type test. Yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan cara memilih di antara alternatif jawaban yang dianggap benar dan paling benar.
C. Evaluasi Kinerja Peserta Didik dan UN
Dalam beberapa kasus seperti Ujian Nasional, kita bisa melihat bahwa program-program pendidikan masih menjadi sarana trial-error dan menjadikan peserta didik sebagai sarana uji coba itu bisa menunjukan bahwa tidak adanya keajegan sebuah sistem pendidikan yang utuh akibat ketidakpahaman terhadap basis sistem pendidikan dan karakteristik manusia (Luqman, Fahmi Al-Waie). Karakteristik dan pembentukan kepribadian dalam Islam berpegang kepada tsaqofah Islam dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan proporsi atau tingkatan pendidikan peserta didik. Dalam pembentukan pribadi siswa dimasukan pemikiran Islam (tsaqofah Islam) sesuai tingkat keilmuan peserta didik dimaksudkan agar peserta didik bisa menyerap ilmu pengetahuan dengan utuh dan terstruktur.
Bagi saya cara pemerintah yang melakukan evaluasi dengan UAN masih kurang efisien untuk menilai peserta didik, apalagi menentukan lulus atau tidaknya murid. Karna tidak jarang seorang anak yang diakui kemampuan bisa saja tidak lulus UAN karena faktor-faktor tertentu. Apakah tidak sia-sia namanya seorang anak yang “pintar” harus mengulang di akhir pendidikannya hanya karna UAN…?
Ditambah lagi dengan UAN, terlepas dari kesalahan saat mengikuti ujian. Anggap seorang murid memang kurang dalam faktor intelegensi. Lagi-lagi dia harus mengulang karena UAN. Memang dia tidak mampu menjawab soal UAN, bagaimana dengan afektif dan psikomotor…? Apakah ini bukan nilai yang harus diperhitungkan..?
Apakah kita siap melihat kesedihan anak didik yang mempunyai kemampuan di bidang-bidang tertentu tidak lulus hanya karena UAN…? Sementara anak lainnya yang ketiga aspek, psikomotor, afektif dan kognitipnya dibawah rata-rata malah tersenyum dengan kelulusannya…?
Intinya, evaluasi dengan cara UAN ini saya rasa belumlah sempurna dijadikan patokan untuk menentukan kelulusan peserta didik.

PROBLEM PENDIDIKAN ISLAM
Sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, pendidikan Islam mempunyai peran yang sangat signifikan di Indonesia dalam pengembangan seumberdaya manusia dan pembangunan karakter, sehingga masyarakat yang tercipta merupakan cerminan masyarakat islami. Dengan demikian Islam benar-benar menjadi rahmatan lil’alamin, rahmat bagi seluruh alam.
Namun hingga kini pendidikan Islam masih saja menghadapi permasalahan yang komplek, dari permasalah konseptual-teoritis, hingga persoalan operasional-praktis. Tidak terselesaikannya persoalan ini menjadikan pendidikan Islam tertinggal dengan lembaga pendidikan lainnya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga pendidikan Islam terkesan sebagai pendidikan “kelas dua”. Tidak heran jika kemudian banyak dari generasi muslim yang justru menempuh pendidikan di lembaga pendidikan non Islam.
A. Sebab dan Dampak Masalah
Ketertinggalan pendidikan Islam dari lembaga pendidikan lainnya setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Pendidikan Islam sering terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan masyarakat sekarang dan akan datang.
2. Sistem pendidikan Islam kebanyakan masih lebih cenderung mengorientasikan diri pada bidang-bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial ketimbang ilmu-ilmu eksakta semacam fisika, kimia, biologi, dan matematika modern.
3. Usaha pembaharuan pendidikan Islam sering bersifat sepotong-potong dan tidak komprehensif, sehingga tidak terjadi perubahan yang esensial.
4. Pendidikan Islam tetap berorientasi pada masa silam ketimbang berorientasi kepada masa depan, atau kurang bersifat future oriented.
5. Sebagian pendidikan Islam belum dikelola secara professional baik dalam penyiapan tenaga pengajar, kurikulum maupun pelaksanaan pendidikannya.
Selain itu orientasi pendidikan Islam yang timpang tindih melahirkan masalah-masalah besar dalam dunia pendidikan, dari persoalan filosofis, hingga persoalan metodologis.
Di samping itu, pendidikan Islam menghadapi masalah serius berkaitan dengan perubahan masyarakat yang terus menerus semakin cepat, lebih-lebih perkembangan ilmu pengetahuan yang hampir-hampir tidak memeperdulikan lagi sistem suatu agama.
Kondisi sekarang ini, pendidikan Islam berada pada posisi determinisme historik dan realisme. Dalam artian bahwa, satu sisi umat Islam berada pada romantisme historis di mana mereka bangga karena pernah memiliki para pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan besar dan mempunyai kontribusi yang besar pula bagi pembangunan peradaban dan ilmu pengetahuan dunia serta menjadi transmisi bagi khazanah Yunani, namun di sisi lain mereka menghadapi sebuah kenyataan, bahwa pendidikan Islam tidak berdaya dihadapkan kepada realitas masyarakat industri dan teknologi modern.
Hal ini pun didukung dengan pandangan sebagian umat Islam yang kurang meminati ilmu-ilmu umum dan bahkan sampai pada tingkat “diharamkan”. Hal ini berdampak pada pembelajaran dalam sistem pendidikan Islam yang masih berkutat apa yang oleh Muhammad Abed al-Jabiri, pemikir asal Maroko, sebagai epistemologi bayani, atau dalam bahasa Amin Abdullah disebut dengan hadharah an-nashsh (budaya agama yang semata-mata mengacu pada teks), di mana pendidikan hanya bergelut dengan setumpuk teks-teks keagamaan yang sebagian besar berbicara tentang permasalahan fikih semata.
Terjadinya pemilahan-pemilahan antara ilmu umum dan ilmu agama inilah yang membawa umat Islam kepada keterbelakangan dan kemunduran peradaban, lantaran karena ilmu-ilmu umum dianggap sesuatu yang berada di luar Islam dan berasal dari non-Islam atau the other, bahkan seringkali ditentangkan antara agama dan ilmu (dalam hal ini sains). Agama dianggap tidak ada kaitannya dengan ilmu, begitu juga ilmu dianggap tidak memeperdulikan agama. Begitulah gambaran praktik kependidikan dan aktivitas keilmuan di tanah air sekarang ini dengan berbagai dampak negataif yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat.
Sistem pendidikan Islam yang ada hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja. Di sisi lain, generasi muslim yang menempuh pendidikan di luar sisitem pendidikan Islam hanya mendapatkan porsi kecil dalam hal pendidikan Islam atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan ilmu-ilmu keislaman.

B. Usaha untuk Menanggulangi Masalah
Mencermati kenyatan tersebut, maka mau tidak mau persoalan konsep dualisme-dikotomik pendidikan harus segera ditumbangkan dan dituntaskan, baik pada tingkatan filosofis-paradigmatik maupun teknis departementel. Pemikiran filosofis menjadi sangat penting, karena pemikiran ini nanti akan memeberikan suatu pandangan dunia yang menjadi landasan idiologis dan moral bagi pendidikan.
Pemisahan antar ilmu dan agama hendaknya segera dihentikan dan menjadi sebuah upaya penyatuan keduannya dalam satu sistem pendidikan integralistik. Namun persoalan integrasi ilmu dan agama dalam satu sistem pendidikan ini bukanlah suatu persoalan yang mudah, melainkan harus atas dasar pemikiran filosofis yang kuat, sehingga tidak terkesan hanya sekedar tambal sulam. Langkah awal yang harus dilakukan dalam mengadakan perubahan pendidikan adalah merumuskan “kerangka dasar filosofis pendidikan” yang sesuai dengan ajaran Islam, kemudian mengembangkan secara “empiris prinsip-prinsip” yang mendasari terlaksananya dalam konteks lingkungan (sosio dan kultural) Filsafat Integralisme (hikmah wahdatiyah) adalah bagian dari filsafat Islam yang menjadi alternatif dari pandangan holistik yang berkembang pada era postmodern di kalangan masyarakat barat.
Pendidikan Islam haruslah menjadi satu kesatuan yang utuh atau integral. Diharapkan adanya usaha sekolah-sekolah dan instansi terkait dengan dengan pendidikan Islam untuk meciptakan pendidikan islam yang ideal, yaitu pendidikan islam yang membina potensi spiritual, emosional dan intelegensia secara optimal (Miftah: 2010). Ketiganya terintegrasi dalam satu lingkaran.yang akhirnya membentuk paradigma baru di masyarakat tentang kualitas yang menarik dari sekolah-sekolah Islam.
Dengan demikian sikap diskriminatif dan masalah paradigm yang buruk tentang kualitas pendidikan di Sekolah Islam dapat perlahan berubah. Tentunya melalui konsep integrated curriculum, proses pendidikan memberikan penyeimbangan antara kajian-kajian agama dengan kajian lain (non-agama) dalam pendidikan Islam yang merupakan suatu keharusan, menciptakan output pendidikan yang baik, apabila menginginkan pendidikan Islam kembali survive di tengah perubahan masyarakat.

sumber
http://rumahmakalah.wordpress.com/2008/11/02/hakikat-kurikulum-pendidikan-islam/
http://razalinda.wordpress.com/2008/04/14/kurikulum-pendidikan-islam/
http://razalinda.wordpress.com/2008/04/14/kurikulum-pendidikan-islam/
Madjidi, Busyairi, H. Konsep Kependidikan Para Filosof Muslim. Yogyakarta: Al Amin Press. 1997
http://datastudi.wordpress.com/2009/07/13/hakekat-peserta-didik/
Mulyasa, E. 2006. Standar kompetensi guru dan sertifikasi. Bandung; Remaja Rosdakarya.
Drs. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Cetakan ke II, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2006, Hal 42
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2006, Hal. 78

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s