FILSAFAT DAN PENDIDIKAN


FILSAFAT DAN PENDIDIKAN

A. SEJARAH
1. Sejarah filsafat
Jika kita mendengar kata filsafat maka konotasi kita akan segera pada sesuatu yang bersifat prinsip yang juga sering dikaitkan pada suatu pandangan hidup yang mengandung nilai-nilai dasar (Zuhairini, 1984:3). Pada hakekatnya semua yang ada di alam ini sudah sejak awal menjadi pemikiran dan teka-teki yang tak habis-habisnya diselidiki dan inilah yang menjadi fundamen timbulnya filsafat. Jadi, filsafat adalah hasil usaha manusia dengan kekuatan akal budinya untuk memahami secara radikal, integral dan universal tentang hakikat sarwa yang ada (hakekat Tuhan, alam dan hakekat manusia), serta sikap manusia termasuk seba¬gai konsekwensi dari pemahamannya tersebut (Anshari, 1984: 12), dan manusia tentu mempersoalkan dirinya sendiri, bahkan boleh dikatakan ia adalah teka-teki bagi dirinya sendiri, siapakah sebenarnya “aku” ini…?” (Salam, 1988: 12).
Kalau demikian maka jelaslah bahwa hal ini memerlukan pere-nungan yang mendalam dan mengasas pada usaha akal dan pekerjaan pikiran manusia. Karenanya filsafatlah yang bertugas untuk mencari jawaban dengan cara ilmiah, obyektif, memberikan pertanggungjawaban dengan berdasarkan pada akal budi manusia. Karenanya filsafat itu timbul dari kodrat manusia.
Manusia mempunyai keistimewaan dari makhluk-makhluk yang lain, la diciptakan oleh Allah SWT begitu sempurna dan kesempurnaan ini manusia dapat meningkatkan kehidupannya. Dengan berpikir atau bernalar, merupakan satu bentuk kegiatan akal manusia melalui penge¬tahuan yang kita terima melalui panca indera diolah dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran. Aktivitas berpikir adalah berdialog dengan diri sendiri dengan manifestasinya, ialah mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, menunjukkan alasan-alasan, membuktikan sesuatu, menggolong-golongkan, membanding-bandingkan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pikiran, mencari kualitasnya, mem¬bahas secara realitas dan lain-lain (Salam, 1988:1). Sesuai dengan makna filsafat yaitu sebagai ilmu yang bertujuan untuk berusaha memahami semua yang timbul dalam keseluruhan lingkup pengalaman manusia, maka berfilosofis memerlukan suatu ilmu dalam mewujudkan pema¬haman tersebut.
Berbicara mengenai ilmu maka tidak lepas dengan pendidikan, yang mana meyakini tentang eksistensi pendidikan dari yang sifatnya umum sampai kepada yang khusus, makin hari diperkuat dengan perkem-bangannya metode pengukuran clan cara analisis yang dapat menghasilkan data yang dipercaya. Dengan bahasa ilmiah lazim dikatakan “Apa yang ada itu dapat dihayati karena dapat diukur”. Hubungan filsafat dan ilmu pendidikan ini tidak hanya ke-insidental, melainkan suatu keharusan. John Dewey seorang filosof, Amerika men¬gatakan bahwa filsafat itu adalah teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Lebih dari itu memang filsafat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki faktor-fak¬tor realita dan pengalaman yang banyak terdapat di lapangan pendidikan.
2. Sejarah pendidikan
Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (The Mother of sciences) pada mulanya mampu menjawab segala pertanyaan tentang segala sesuatu dan segala macam masalah. Masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta, manusia dengan segala problematikanya dan kehidupan, yang dibicarakan oleh filsafat. Kemudian karena perkembangan dan keadaan masyarakat, banyak problema yang tidak bisa dijawab lagi oleh filsafat, maka lahirlah ilmu pengetahuan yang sanggup memberi jawaban terhadap problema-problema perkembangan metodologi ilmiah yang semakin pesat. Kemudian berkembanglah ilmu pengetahuan dalam bentuk disiplin ilmu dengan keterkhususannya masing-masing. Setiap disiplin ilmu memiliki obyek dan sasaran yang berbeda-beda, yang terpisah satu sama lain. Suatu disiplin ilmu pengetahuan mengurus dan mengembangkan bidang garapan sendiri-sendiri dengan tidak memperhatikan hubungan dengan bidang lainnya. Akibat¬nya terjadi pemisahan antara berbagai macam bidang ilmu, ilmu pengetahuan semakin kehilangan relevansinya dalam kehidupan masyarakat dan umat manusia dengan segala macam problematikanya.
Di antara banyak filsafat (macam filsafat) seperti filsafat Cina, india, juga ada filsafat Barat adalah sesuatu yang tidak begitu jelas, karena tradisi filsafat Barat telah mulai di Asia kecil dan memikat pikiran-pikiran dari Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Termasuk filsafat barat Yunani, Helleinisme, Kristiani dan seterusnya. Sehingga dengan analisa. timbullah bermacam-macam disiplin ilmu yang menggunakan , analisa filsafat.
Dengan demikian, dengan menggunakan analisa filsafat, berbagai macam disiplin ilmu yang berkembang sekarang ini, akan menemukan kembali relevansinya dengan hidup dan kehidupan masyarakat dan akan lebih mampu lagi meningkatkan fungsinya bagi kesejahteraan hidup masyarakat.
Sebelum membicarakan latar belakang masalah munculnya filsafat pendidikan terlebih dahulu diterangkan arti dari filsafat itu sendiri. Filsafat adalah usaha orang untuk memahami dunia dan hidup ini (Anwar, 1983: 23). Sedangkan filsafat pendidikan ialah ilmu yang pada hakekatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan.
Pada mulanya filsafat merupakan induk dari seluruh cabang ilmu pengetahuan yang ada, namun karena banyak permasalahan yang tidak dapat dijawab lagi oleh filsafat, maka lahirlah cabang ilmu yang lain, untuk membantu menjawab segala macam permasalahan-permasalahan yang timbul. di antara permasalahan-permasalahan yang tidak dapat di¬jawab oleh filsafat sendiri adalah permasalahan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Oleh karena itu lahirlah ilmu filsafat pendidikan yang merupakan cabang dari filsafat sebagai pembantu dalam meme¬cahkan masalah-masalah yang tidak dapat terpecahkan sendiri oleh filsafat, khususnya dalam lapangan pendidikan.
John Dewey, seorang filosof Amerika yang menyatakan bahwa filsafat itu adalah teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan (Barnadib, 1990: 15). Tugas filsafat adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki faktor-fak¬tor realita dan pengalaman yang banyak terdapat dalam lapangan pendidikan.
Apa yang dikatakan oleh John Dewey tersebut memang benar bahwa filsafat adalah teori umum dari pendidikan dan adanya hubungan hakiki dan timbal balik antara filsafat dan pendidikan, maka berdirilah filsafat pendidikan sebagai suatu ilmu yang mana cabang ini merupakan suatu sistem untuk menjawab dan memecahkan persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban secara filosofis pula.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang melatar belakangi munculnya filsafat pendidikan adalah banyaknya pe¬rubahan-perubahan dan permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan, yang tidak mampu dijawab sendiri oleh ilmu filsafat saja. Selain itu juga yang melatar-belakangi munculnya filsafat pendidikan adalah banyaknya ide-ide yang baru dalam dunia pendidikan. Adapun datangnya ide-ide tersebut di antaranya berasal dari tokoh-tokoh filsafat Yunani.
B. PEMIKIRAN
1. Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Socrates (470-399 Sm)
Pada titik waktu ini dalam sejarah filsafat muncullah salah seorang pemikir besar kuno (470-399 SM) yang mana gagasan-gagasan filosofisnya dan metode pengajarannya ditunjukan untuk mempengaruhi secara mendalam dan abadi terhadap teori dan praktik pendidikan diselu¬ruh dunia Barat. Socrates yang dilahirkan di Athena, ia adalah putra seorang pemahat dan seorang bidan yang hanya sedikit dikenal kecuali nama mereka, yaitu Sophonicus dan Phaenarete (Smith, 1986: 19).
Adapun prinsip-prinsip dasar pendidikan menurut Socrates adalah, metode dialektis, yang digunakan oleh Socrates yang mana telah menjadi dasar teknis pendidikan yang direncanakan untuk mendorong seorang belajar untuk berpikir secara cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya. Seseorang guru tidak memaksa wibawanya atau memaksa gagasan-gagasan atau pengetahuan kepada seorang siswa, yang mana seorang siswa dituntut untuk mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis, ini adalah suatu metode untuk meneruskan inteleknya dan mengembangkan kebiasaan¬-kebiasaannya dan kekuatan mental.
Tujuan pendidikan yang benar menurut Socrates adalah untuk merangsang penalaran yang cermat dan disiplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan standar moral yang tinggi (Smith, 1986: 25).
Dengan menggunakan metode mengajar yang dialektis ini, Socra¬tes menunjukkan bahwa jawaban-jawaban terbaik atas pertanyaan moral menurut pendapatnya adalah cita-cita yang diajarkan oleh para pendiri-pendiri agama, cita-cita yang melekat pada ketuhanan, cinta pada umat manusia, keadilan, keberanian, pengetahuan tentang kebaikan dan keja-hatan, hormat terhadap kebenaran, sikap yang tak berlebih-lebihan, kebaikan hati, kerendahan hati, toleransi, kejujuran, segala kebajikan-kebajikan lama. Salah satu pendirian Socrates yang terkenal bahwa kekuatan utama adalah pengetahuan. Jadi bagi Socrates yang terkenal, adanya pendidikan sudah membuktikan bahwa keutamaan tidak dapat diajarkan dan pendidikan tidak mungkin dijalankan.
Seruan alternatif Socrates ditujukan pada kemampuan manusia untuk berpikir menertibkan, meningkatkan dan mengubah dirinya. Pengetahuan, ia menyatakan adalah kebajikan; orang yang sekedar tidak berpura-pura saja terhadap cita-cita teoritis, tetapi sungguh-sungguh mengetahui dan mengerti apa yang benar, karena ia telah mengalami dan menyadari konsekuensi-konsekuensi akan berbuat apa yang benar.
Cara mengajar Socrates pada dasarnya disebut dialekta, yang disebabkan dalam pengajaran itu dialog memegang peranan penting (Hadiwijono, 1980: 36).
Socrates tidak seperti Plato, ia tidak membangun suatu sistem filsafat yang luas, tidak pernah menggali secara mendalam bidang psikologi, emosi, motivasi, kebiasaan dan aspek-aspek dari proses pengetahuan tersebut. Namun demikian ia telah membuat suatu permulaan yang besar dalam membangun konsepsi-konsepsi dari metode-metode yang lebih luas, lebih sungguh-sungguh dan lebih efektif. Dalam pendidikan Socrates mengemukakan sistem atau cara berpikir yang bersifat induksi, yaitu menyimpan pengetahuan yang bersifat umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal khusus.
2. Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Plato (427-347 SM)
Plato adalah murid Socrates yang paling terkemuka yang sepertinya menyerap ajaran-ajaran pendidikan besar itu, kemudahan mengembangkan sistem filsafatnya sendiri secara lengkap. la mendirikan sebuah akademi, suatu pusat untuk studi tentang gagasan-gagasan yang akhirnya telah bertumbuh menjadi suatu universitas pertama di dunia.
Plato, dilahirkan dalam keluarga Aristokrasi yang kaya (mungkill di Athena disekitar tahun 427 SM).
Plato kehilangan ayahnya Ariston, mengaku keturunan dari Codus yang pernah berkuasa abad ke-7 SM sebagai raja terakhir dari Athena. Ibu Plato Perictions adalah keturunan keluarga Solon, seorang pembuat undang-undang, penyair, memimpin militer dari kaum ningrat dan pendiri dari demokrasi Athena terkemuka (Smith, 1986: 29).
Bagi Plato, Pendidikan itu adalah suatu bangsa dengan tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan negara dan perorangan, pendi¬dikan itu memberikan kesempatan kepadanya untuk penampilan kesanggupan diri pribadinya. Bagi negara, dia bertanggung jawab untuk memberikan perkembangan kepada warga negaranya, dapat berlatih, terdidik dan merasakan bahagia dalam menjalankan peranannya buat melaksanakan kehidupan kemasyarakatan (Ali, 1993: 60).
Menurut Plato di dalam negara idealnya pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapat perhatian yang paling khusus bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah tugas dan panggilan yang sangat mulia yang harus diselenggarakan oleh negara. Pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tindakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Dengan pendidikan pula, orang-orang akan mengenal apa yang baik dan apa yang jahat, dan juga akan menyadari apa patut dan apa yang tidak patut, dan yang paling dominan dari semua itu adalah bahwa pendidikan mereka akan lahir kembali (they shall be born again) (Raper, 1988: 110).
Dengan demikian jelaslah pula bahwa peranan pendidikan yang paling utama bagi manusia adalah membebaskan dan memperbaharui. Pembebasan dan pembaharuan itu akan membentuk manusia utuh, yakni manusia yang berhasil menggapai segala keutamaan dan moralitas jiwa mengantarnya ke idea yang tinggi yaitu kebajikan, kebaikan dan kea¬dilan. Cita-cita Plato yang paling agung terus digenggamnya sampai akhir hayatnya.
Tujuan pendidikan menurut Plato adalah untuk menemukan ke-mampuan-kemampuan ilmiah setiap individu dan melatihnya sehingga ia akan menjadi seorang warga negara yang baik, dalam suatu masyarakat yang harmonis, melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien sebagai seorang anggota kelasnya. Plato juga menekankan perlunya pendidikan direncanakan dan diprogramkan sebaik-baiknya agar mampu mencapai sasaran yang diidamkan. Dengan kata lain pendidikan yang balk haruslah direncanakan dan diprogramkan dengan baik agar dapat berhasil dengan baik untuk menunjang rencana propaganda dan sensor.
Propaganda perlu untuk menanamkan program pendidikan itu, pemerin¬tah harus mengadakan motivasi, semangat loyalitas, kebersamaan dan kesatuan cinta akan kebaikan dan keadilan.
Adapun hal yang terlewatkan oleh Plato dalam bidang pendidikan adalah mengenai pendidikan dasar (elementary education) dan pendidi¬kan untuk kelas penghasil yang satu-satunya kelas dalam golongan karya yang sebenarnya merupakan golongan terbesar dalam negara. Menurut Plato pendidikan direncanakan dan diprogram menjadi tiga tahap dengan tingkat usia, tahap pertama adalah pendidikan yang diberikan kepada taruna hingga sampai dua puluh tahun; dan tahap kedua, dari usia dua puluh tahun sampai tiga puluh tahun; sedangkan tahap ketiga, dari tiga puluh tahun sampai usia empat puluh tahun.
3. Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Aris¬toteles (367-345 Sm)
Aristoteles adalah murid Plato. Dia adalah seorang cendikiawan dan intelek terkemuka, mungkin sepanjang masa. Umat manusia telah berhutang budi padanya karena banyaknya kemajuan dalam filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan, khususnya Logika, Metafisika, Politik, Ethika, Biologi dan Psikologi. Aristoteles dilahirkan dalam tahun 394 SM di Stagira sebuah kota kecil di semenanjung Chalcidice yang menonjol disebelah barat Laut Egea. Ayahnya, Nichomachus yang sebagai dokter merawat Amyntas II, raja Macedonia, mengatur agar Aristoteles menerima pendidikan yang lengkap pada awal masa kanak-kanak dan mungkin kemudian mengajar dalam pengamatan gejala-gejala penyakit dan teknik-teknik pembedahan. Baik ayah maupun ibunya, Phaesta, mempunyai nenek moyang terkemuka.
Menurut Aristoteles, agar orang dapat hidup baik, maka la harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, akan tetapi soal memberi bimbingan kepada perasaan-perasaan yang lebih tinggi, supaya mengarah diri kepada akal, sehingga dapat dipakai akal guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, ia memer¬lukan dukungan-dukungan perasaan yang lebih tinggi yang diberikan arah yang benar. Aristoteles mengemukakan bahwa pendidikan yang baik adalah yang mempunyai tujuan untuk kebahagiaan. Kebahagiaan tertinggi adalah hidup spekulatif (Barnadib, 1994: 72).
Aristoteles juga menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan rendah, sebagaimana pada tingkat pendidikan usia muda itu perlu ditanamkan kesadaran aturan-aturan moral. Menurut Aristoteles, untuk memperoleh pengetahuan, manusia harus 1ebih dari binatang-binatang lain berdasarkan kekuatannya untuk berpikir, harus mengamati dan secara hati-hati menganalisa struktur-struktur, fungsi-fungsi organisme itu, dan segala yang ada dalam alam. Oleh karena itu prinsip pokok pendidikan menurut Aristoteles adalah pengumpulan serta penelitian fakta-fakta suatu belajar induktif, suatu pencarian yang obyektif akan kebenaran sebagai dasar dari semua ilmu pengetahuan. Ariestoteles berkata bahwa sebaiknya memberikan pendidikan yang baik bagi semua anak-anak. Sparta mempunyai suatu sistem sekolah negeri yang wajib bagi putera-puterinya, bagi semua warga negara, tetapi sistem tersebut terdiri dari pendidikan fisik dan latihan militer.
Dalam rangka yang lebih tinggi, ia nampak setuju dengan Plato tentang nilai-nilai Matematika, Fisika, Astronomi, dan Filsafat. la me-nyatakan bahwa putra-putri semua warga negara sebaiknya diajar sesuai dengan kemampuan mereka, sesuatu pandangan mereka yang sama de¬ngan doktrin Plato tentang keberadaan individual. Disiplin merupakan hal yang essensial untuk mengajarkan para pemuda dan kaum laki-laki muda untuk mematuhi perintah-perintah dan mengendalikan gerakan hati mereka.
C. TOKOH
1. Tokoh filsafat
Tokoh filsafat yang dibahas di sini adalah tokoh filsafat pada masa pra-Socrates. Pada masa ini ada keterangan-keterangan mengenai alam semesta dan penghuninya, yang mana keterangan tersebut masih berdasarkan kepercayaan. Para pemikir belum puas atas keterangan itu kemudian mencoba mencari keterangan melalui budinya. Misalnya, dengan merekam, menanyakan clan mencari jawaban tentang: Apakah sebetul¬nya alam ini?, apakah intisarinya? Mereka mencari inti alam dengan istilah mereka: mereka mencari inti alam (arche). Arche berasal dari bahas Yunani yang berarti: mula, asal. Oleh karena filosuf-filosuf itu berusaha mencari Intl alam, dalam sejarah mereka disebut filosof alam dan filsafat mereka dinamakan filsafat alam.
Menurut Poedjawijatna (1983: 23-25) filosuf-filosuf alam yang terkenal pada masa ini adalah:
a. Thales (624-548 SM) berpendapat bahwa dasar pertama atau in¬tisari alam ini ialah air.
b. Anaximandros, menyatakan bahwa dasar pertama alam itu ialah zat yang tak tertentu sifat-sifatnya, yang dinamakan to apeiron.
c. Anaximenes (590-528 SM) mengatakan bahwa intisari alam adalah udara, dikarenakan udaralah yang meliputi seluruh alam serta udara pula yang menjadi dasar hidup bagi manusia untuk bernafas.
d. Pitagoras, menyatakan dasar segala sesuatunya ialah bilangan, sehingga orang yang tahu dan mengerti betul akan bilangan, maka ia akan mengetahui segala sesuatunya. la juga berpendapat bahwa pada manusia adalah sesuatu yang bukan jasmani clan yang tidak dapat mati, yang masih terus ada, jika manusia sudah tidak ada. Sesuatu itu adalah jiwa. Menurut dia jiwa itu sekarang terhukum dan dari itu terkurung dalam badan. Manusia harus membersihkan diri, dan karena pembersihan diri (katharsis) jiwa mungkin me¬lepaskan dirinya dari kurungan clan dengan demikian dapatlah ia masuk ke dalam kebahagiaan. Jika belum cukup katharsisnya, maka terpaksalah jiwa All, jika manusianya meninggal, masuk ke badan lain. Adapun pengetahuan yang dimaksudkan di atas itu tak boleh dipisahkan dari katharsis; makin bersih manusia, maka makin baik pengetahuannya. Sehingga ada hubungan erat antara tingkah laku dan pengetahuan.
e. Heraklitos, mengatakan bahwa di dunia ini segala sesuatunya berubah. Tak ada sesuatu yang tetap, dikatakannya semuanya dalam keadaan menjadi. Untuk cdasar atau arche dunia semata diterimanya api, karena sifat api itu selalu bergerak dan berubah dan tidak tetap. Malahan ditarik kesimpulan lebih lanjut, bahwa yang menjadi sebab atau keterangan yang sedalam-dalamnya itu ialah gerak, perubahan atau menjadi itu. Semuanya lewat dan tak ada yang tetap. Pendapat ini dirumuskan dengan istilahnya sendiri: panta rhei, artinya ‘semuanya mengalir’. Satu-satunya realitas ialah perubahan, tak terdapat yang tetap, realitasnya ialah berubah atau menjadi itu. Sebab itulah filsafat Heraklitos disebut juga Filsafat Menjadi.
f. Parmenides, ia dilahirkan di Elea, maka itu penganutnya disebut kaum Elea. Pendapatnya merupakan kebalikan filsafat Heraklitos. Parmcajdes mengakui adanya pengetahuan yang bersifat tidak tetap dan berubah-ubah itu, serta pengetahuan mengenai yang tetap; pengetahuan budi dan pengetahuan indra. Tetapi menurut dia pengetahuan indra itu tak dapat dipercayai, karena berapa kalikah ternyata bahwa orang tidak mencapai kebenaran sebab mengikuti indranya? la mengatakan: pengetahuan itu ada dua macam, yakni pengetahuan sebenarnya dan pengetahuan semu. Pengetahuan semu itu keliru. Karenanya, yang merupakan realitas bukanlah yang menjadi, yang berubah, bergerak, serta beralih dan berma¬cam-macam, melainkan yang tetap. Realitas bukanlah menjadi melainkan ada.

Hingga sekarang, pertentangan menjadi dan ada, nilai pengeta¬huan budi dan pengetahuan indra merupakan soal yang maha penting bagi ahli-ahli pikir.
Masa pra-Socrates pula diwarnai oleh munculnya kaum sofisme. Kaum Sofis ini muncul pertama kalinya di Athena. Sofis berasal dari kata sofhos yang berarti cendikiawan. Sebutan ini semula diberikan kepada orang-orang pandai seperti ahli filsafat, ahli bahasa dan lain-lain. Ke-mudian sebutan ini digunakan oleh orang yang ahli mempermainkan kata-kata, ahli retorika, pandai berpidato dan berdebat. Aliran Sofis dipelopori oleh Protogoras. Menurut mereka manusia menjadi ukuran kebenaran, tidak ada kebenaran yang berlaku secara universal, ke¬benaran hanya berlaku secara individual. Kebenaran itu benar menurul saya, karena rethorika (kepandaian bersilat lidah, berdebat, berdiskusi) merupakan alat utama untuk mempertahankan kebenaran (Salam, 1982: 107). Kaum sofis untuk pertama kalinya dalam sejarah mengorganisil pendidikan untuk orang muda. Karenanya, Paideia (kata Yunani untuk “pendidikan”) dapat dianggap sebagai suatu penemuan Yunani. Itulah salah satu jasa yang besar sekali, yang pengaruhnya masih berlangsung terus sampai dalam kebudayaan modern (Bertens, 1990: 69).
Tekanan pada ilmu berpidato dan kemahiran berbahasa menampil-kan bahaya bahwa teknik berpidato akan dipergunakan untuk maksud-maksud yang jahat. Kalau prinsip Protogoras yakni membuat argumen yang paling lemah menjadi yang paling kuat dikaitkan dengan relativisme dalam bidang moral maka dengan sendirinya jalan terbuka untuk penyalahgunaan itu. Namun, di sisi lain aliran Sufis juga mempu¬nyai pengaruh positif atas kebudayaan Yunani. Bahkan boleh dikatakan bahwa para Sufis mengakibatkan suatu revolusi intelektual di Yunani. Gorgias dan sofis-sofis lain menciptakan gaya bahasa yang baru untuk prosa Yunani. Sejarawan-sejarawan Yunani yang besar, seperti Nerodotas, Thukydides, dipengaruhi secara mendalam oleh pemikiran sofistik. Pan-dangan hidup kaum Sofis turut mempengaruhi dramawan-dramawan yang tersohor seperti Sophokles dan terutama Euripides. Sebagai jasa Sofis, mereka meletakkan fundamen untuk pendidikan sistematis bagi kaum muda dan mengambil manusia sebagai objek dari pemikiran filsa¬fat. Tetapi jasa mereka yang tersebar yakni mereka mempersiapkan kelahiran filsafat baru yang direalisasikan oleh Sokrates, Plato dan Aristoteles.
2. Tokoh pendidikan
Pertama, perkembangan proses perwujudan batang tubuh ilmu pendidikan mulai embrional sampai arah otonomisasi keilmuan pendidikan dapat ditelusuri dari sejarah yang menggambarkan, baik pusat-pusat peradaban kuno maupun tokoh ilmuwan yang berjasa pada zamannya. Dalam sejarah digambarkan bahwa pusat peradaban kuno mengenai penyelenggaraan pendidikan yang merupakan titik awal kebangkitan otonomisasi pendidikan terdapat di India, Tiongkok-Cina, dan Yunani.
Bangsa India kuno penganut agama Hindu telah melakukan pengajaran secara lisan tentang pedoman hidupnya pada 1000 tahun SM. Brahmaisme yang datang kemudian telah melakukan pula pengajaran secara lisan kepada orang pilihan secara terbatas tentang cara mencapai Brahman. Pada permulaan abad ke 5 SM, Budhisme juga mengajarkan kepada semua orang tentang rahasia hidup dan tujuan akhir hidup. Atas usahanya mengajarkan semua bangsa, Budha dijuluki pendidikan rakyat.
Pada abad ke-6 SM di Tiongkok kuno pun telah berkembang suatu ajaran yang dipelopori Kong Fu Tse dan Lao Tse. Kong Fu Tse mengajarkan tata tertib hidup yang sebaik-baiknya, sedangkan Lao Tse mengajarkan Tao, yaitu tidak berbuat aktif apa-apa (Wu-Wai). Namun, berbuat aktif dalam hati sendiri (mystic / tasawuf untuk memperoleh kebahagiaan di dunia sana.
Demikian pula Yunani kuno terkenal dengan tingkat peradabannya yang tinggi, terutama di Sparta dan Athena pada abad kc-6 SM. Sparta terkenal dengan sistem pendidikan politik otokrasi dan totalitirianisme, yaitu anak dianggap milik negara yang wajib mencintai tanah airnya. Oleh karena itu, anak dididik dalam tangsi/asrama dengan menerapkan disiplin keras. Di Athena dikenal sistem pendidikan politik demokrasi, yaitu menciptakan suasana yang harmonis. Oleh karena itu, anak dididik dalam gymnasium yang bebas agar tercipta harmonisasi antara jasmani dan rohani.
Tokoh ilmuwan yang telah berjasa mengembangkan cikal bakal pendidikan adalah Socrates (470-399 SM) dengan ajaran kenalilah diri pribadimu. Plato (427-322 SM) mendirikan sekolah Lyceum. Vives (1492-1540) yang menerapkan eksperimen psikologi ke dalam pendidikan seperti tentang vom kinde aus. Montaigne (1533-1592) tentang pembentukan kepribadian melalui pendidikan jasmani. Johan Amos Commenius (1572-1670) yang membidani lahirnya Didaktik. John Locke (1632-1704) memopulerkan teori Tabula rasa. Jean Jecques Rousseau (1712-1778) tentang Emile atau ajaran kembalilah kepada alam. Johan Henrich Pestalozi (1746-1827) tentang ajaran pendidikan rakyat. J. Friedrich Herbart (1776-1841) tentang pentingnya insight untuk berpendapat dan memutuskan.
Friederich Frobel (1782-1852) terkenal dengan ciptaannya yang disebut Kinder Garden. Arthur Schopenhauer .(1788-1860) tentang perkembangan seseorang didominasi pembawaan. Jan Ligthart (1859- 1916) tentang pendidikan adalah soal kecintaan. Helen Parkhust (1897- 1904) dengan gagasan sistem Dalton. John Dewey (1859-1952) tentang pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Maria Montessori (1870-1952) tentang pendidikan adalah pertolongan pada anak. El Thorndike (1874- 1949) tentang penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi proses pendidikan. William Stern (1871-1938) tentang teori konvergensi. Ovidc Decroly (1871-1938) tentang pengenalan diri sendiri melalui alam. Kohnstamm (1955) tentang pendidikan menekankan pada kedamaian batin. M.J. Langeveld (1969) menyatakan bahwa pedagogik sebagai antropologi filsafi.
Terdapat juga yang secara kelembagaan memberikan aset terhadap otonomisasi keilmuan pendidikan, seperti Universitas Amherst College di USA yang mendirikan jurusan Ilmu Pendidikan. Di Perancis terdapat sekolah pengajar pengetahuan kepada anak. Nederland pada permulaan abad XX mendeklarasikan pedagogik sebagai disiplin ilmu yang otonom.
Dengan demikian, pendidikan memiliki anggapan dasar yang bersifat dimensional, seperti filsafat, dogmatis religius, deskriptif-historis, politis, dan Fenomenologis. Anggapan dasar filosofis berangkat dari hasil sistem pemikiran yang menyeluruh, radikal, dan hakiki. Bagi dogmatis-religius, anggapan dasarnya adalah aksioma atau these agama. Deskriptif-historic bertitik tolak dari pengalaman sejarah manusia yang telah mengkristal. Anggapan dasar politik adalah suatu ideologi negara, sedangkan fenomenologis berdasarkan hakekat penghayatan.
Kedua, karakteristik ilmu secara garis besarnya ada yang bersifat explanation (menjelaskan) tentang fenomena alam dan ada juga yang bersifat instruksi practical (praktek). Ilmu pendidikan tergolong ilmu yang bersifat practical sebab hakekat ilmu pendidikan adalah mengubah sikap dan perilaku orang/anak (the task of the educationalist, the teacher, is to get something done in the world. Jadi, perbedaannya adalah tugas ilmu lain mengetahui dan menjelaskan apa dunia ini, sedangkan ilmu pendidikan membimbing kepada kita agar menyelesaikan apa yang harus dilakukan dalam praktek pendidikan. (P.H. Hirst)
Ilmu pendidikan yang kita dapatkan dalam tulisan para pendidik besar masa lalu, seperti Plato, Rouseau, dan Frobel tidak menunjukkan adanya prosedur ilmiah yang bersifat menjelaskan sebagaimana yang dilakukan ilmu lain seperti pengamatan atau eksperimen yang sistematis (Go about their task in the way that a scientist…. contain very little reverence to observations or experiments of a ). Namun yang ditemukan ialah ia mulai dengan asumsi tertentu mengenai apa yang dapat dilakukan atau seharusnya dilakukan dalam pendidikan. Kemudian, atas dasar asumsi itu dibuat beberapa rekomendasi mengenai apa yang harus dilakukan pendidik.
Asumsi dan rekomendasi / kesimpulan yang dibuat itu tidak melalui checking ataupun klarifikasi pada dunia fakta. Namun, bukan berarti ilmu pendidikan tidak dapat digunakan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, tetapi memiliki fungsi yang bersifat petunjuk praktis. Ilmu pendidikan tidak bisa disebut tidak ilmiah hanya karena tidak sesuai dengan prosedur ilmiah ilmu lain sebab ilmu pendidikan merupakan jenis ilmu yang khas sebagai ilmu praktis bahwa yang penting bukan explanation, melainkan practical (preskripsi).
Preskripsi terdiri atas: (a) umum seperti kondisi pengajaran efektif yang menghasilkan orang baik, (b) khusus yang meliputi cara mengajar paling efektif.
D. RELEVANSI FILSAFAT DAN PENDIDIKAN
Sebagaimana kita ketahui bahwa filsafat yang dijadikan pan¬dangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa tersebut, tanpa terkecuali aspek di bidang pendidikan. Filsafat pendi¬dikan yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa, sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau meka¬nisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat itu sendiri. Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dan mewariskan sistem-sistem norma tingkah laku perbuatan yang di¬dasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik (guru) dalam suatu masyarakat. Untuk men¬jamin supaya pendidikan itu dan prosesnya efektif, maka dibutuhkan landasan-landasan filosofis dan landasan ilmiah sebagai asas normatif dan pedoman pelaksanaan pembinaan (Noor Syam, 1988: 39).
Menurut John Dewey, filsafat merupakan teori umum, sebagai landasan dari semua pemikiran umum mengenai pendidikan. Dalam kaitan itu Hasan Langgulung berpendapat bahwa filsafat pendidikan adalah penerapan metode dan pandangan filsafat dalam bidang penga¬laman manusia yang disebutkan pendidikan (Langgulung, 1988: 40). Selanjutnya Prof. DR. Oemar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani secara rinci menjelaskan bahwa filsafat pendidikan merupakan usaha mencari konsep-konsep di antara gejala yang bermacam-macam, yang meliputi:
1. Proses pendidikan sebagai rancangan terpadu dan menyeluruh.
2. Menjelaskan berbagai makna yang mendasar tentang semua istilah pendidikan.
3. Pokok-pokok yang menjadi dasar dari konsep pendidikan dalam kaitannya dengan bidang kehidupan manusia (Jalaluddin & Said, 1994: 11-12).
Hubungan antara filsafat dan filsafat pendidikan menjadi sangat penting sekali, sebab ia menjadi dasar, arah dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskan dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Jadi terdapat kesatuan yang utuh antara filsafat, filsafat pendidikan dan pengalaman manusia.
Filsafat menetapkan ide-ide dan idealisme, dan pendidikan merupakan usaha dalam merealisasikan ide-ide itu menjadi kenyataan, tindakan tingkah laku, bahkan membina kepribadian manusia. Kilpatrik dalam Noor Syam (1988: 43) mengatakan bahwa : Berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha, berfalsafah ialah memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik ialah usaha merealisasikan nilai-nilai dan cita-cita itu di dalam kehidupan, dalam kepribadian manusia. Mendidik ialah mewujudkan nilai-nilai yang dapat disumbangkan filsafat, dimulai dengan generasi muda, untuk membimbing rakyat, membina nilai-nilai di dalam keperibadian mereka, dan dengan cara ini demi menemukan cita-cita tertinggi suatu filsafat dan melembagakannya dalam kehidupan mereka.
lebih lanjut, Bruner dan Burns dalam bukunya Problems in Education and Philosophy secara tegas mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah merupakan tujuan filsafat, yaitu untuk membimbing ke arah kebijaksanaan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah realisasi dari ide-ide filsafat, filsafat memberi asas kepastian bagi peranan pendidikan sebagai wadah pembinaan manusia yang melahirkan ilmu pendidikan, lembaga pendidikan dan aktivitas pendidikan. Jadi, filsafat pendidikan merupakan jiwa dan pedoman dasar pendidikan.
Dari uraian di atas diperoleh hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan, yaitu sebagai berikut:
1. Filsafat, dalam arti filosofis merupakan satu cara pendekatan yang dipakai dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikan oleh para ahli.
2. Filsafat, berfungsi memberi arah bagi teori pendidikan yang telah ada menurut aliran filsafat tertentu yang memiliki relevansi de¬ngan kehidupan yang nyata.
3. Filsafat, dalam hal ini filsafat pendidikan, mempunyai fungsi un¬tuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan (paedagogik).

Dari uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa antara filsafat dan pendidikan terdapat suatu terdapat suatu hubungan yang erat sekali dan tak terpisahkan. Filsafat pendidikan mempunyai peranan yang amat penting dalam suatu sistem pendidikan karena filsafat merupakan pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.
Tidak semua masalah Pendidikan dapat dipecahkan dengan menggunakan metoda ilmiah , semata-mata. Banyak di antara masalah-masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan-pertanyaan filosofis, yang memerlukan pendekatan filosofis pula dalam pemecahannya. Analisa filsafat ,terhadap masalah-masalah kependidikan tersebut, dengan berbagai cara pendekatannya, akan dapat menghasilkan pandangan-pandangan tertentu mengenai masalah-masalah kependidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori-teori pendidikan. Di samping itu jawaban-jawaban yang telah dikemukakan oleh jenis dan aliran filsafat tertentu sepanjang sejarah terhadap problematika pendidikan yang dihadapinya menunjukkan pandangan-pandangan tertentu, yang tentunya juga akan memperkaya teori-teori pendidikan. Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional antara filsafat dengan teori pendidikan.
Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan tersebut, secara lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikannya, di samping menggunakan metoda-metoda ilmiah lainnya. Sementara itu dengan filsafat, sebagai pandangan tertentu terhadap sesuatu objek, misalnya filsafat idealisme, realisme, materialisme, dan sebagainya, akan mewarnai pula pandangan ahli pendidikan tersebut dalam teori-teori pendidikan yang dikembangkannya. Aliran filsafat tertentu akan mempengaruhi dan memberikan bentuk serta corak tertentu terhadap teori-teori pendidikan yang dikembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Dengan kata lain, teori-teori dan pandangan-pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh seseorang filosof, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran filsafat yang dianutnya.
2. Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan. nyata. Artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidup dengan pandangan dan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan lainnya, dan dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Di sinilah letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan tersebut, yang sesuai dengan relevan dengan kebutuhan, tujuan, dan pandangan hidup dari masyarakat.
3. Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori¬-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau pedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula. Hal ini adalah merupakan data-data kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu. Analisa filsafat berusaha untuk menganalisa dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut dan untuk selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori pendidikan yang realistis dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan (pedagogik).
Di samping hubungan fungsional tersebut, antara filsafat dan teori pendidikan, juga terdapat hubungan yang bersifat suplementer, sebagaimana dikemukakan oleh Ali Saifullah dalam bukunya “Antara Filsafat dan Pendidikan”, sebagai berikut: Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi mengarahkan pusat perhatiannya dan memusatkan kegiatannya pada dua fungsi tugas normatif ilmiah, yaitu:
a. Kegiatan merumuskan dasar-dasar, dan tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang sifat hakekat manusia, serta konsepsi hakekat dan segi-segi pendidikan serta isi moral pendidikannya.
b. Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat dan negara.
Defenisi di atas merangkum dua cabang ilmu pendidikan, yaitu: filsafat pendidikan dan sistem atau teori pendidikan dan hubungan antara keduanya adalah bahwa yang satu suplemen terhadap yang lain dan keduanya diperlukan oleh setiap guru sebagai pendidik dan bukan hanya sebagai pengajar bidang studi tertentu.” 2)

sumber:
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta. 1997. hal. 103-104
Ibid, hal.31-32
Ibid, Hal.61-64
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta. 1997. hal. 59-61
Oong Komar, Filsafat Pndidikan Non formal,Pustaka Setia, Bandung,2006.hal.37-40.
http://hilda08.wordpress.com/filsafat-ilmu_ontologi-pengetahuan/
http://afrizal.wordpress.com/2007/07/10/pengertian-filsafat/
Jalaluddin dan Abdullah, Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat, dan Pendidikan),Gaya Media Pratama, Jakarta,1997,hal.22-24.
Prasetya, Filsafat Pendidikan, Pustaka Setia, 1997, Hal.151-153

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s