Mencari Ilmu


Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk suatu permasalahan dalam bidang pengetahuan.
Kita dianjurkan menuntut ilmu untuk menggapai kebahagiaan didunia dan di akhirat. Seperti riwayat di bawah ini :
”yahya menyampaikan kepadaku, dari Malik bahwa ia mendengar bahwa Luqman Al-Hakim membuat surat wasiatnya dan menasehati anaknya, ia berkata : ’anakku ! duduklah dengan orang yang berpengetahuan tinggi dan tetap dekat kepada mereka. Allah memberikan kehidupan kepada hati dengan cahaya kearifan sebagaimana Allah memberikan kehidupan kepada tanah yang mati dengan hujan yang berlimpah-limpah dari langit.’”

Maksud dari riwayat di atas adalah bahwa kita dianjurkan untuk mencri ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu haruslah di jalan yang benar, yaitu dengan cara mempelajarinya dari orang-orang yang berpengetahuan tinggi dan tetap dekat dengan mereka supaya ilmu itu dapat berkembang dengan baik dan terarah.
Selain riwayat diatas juda dijelaskan dalam hadits-hadits di bawah ini :

”Dari Abu Hurairah r.a dia berkata: ’rasululllah saw bersabda, barang siapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju sorga.’”

Ini menunjukkan kepada kita bahwa para pencari ilmu itu berada dalam kebaikan yang sangat agung, dan mereka tengah berada di jalan yang penuh dengan keselamatan dan kebahagiaan, bagi siapa saja yang menyucikan niatnya dalam mencari ilmu, dan hanya mencari keridhaan Allah SWT.

”Dari Abu Hurairah dia berkata Rasulullah saw bersabda, ’jika seorang anak adam meninggal dunia, maka amal perbuatannya terputus kecuali tiga hal :sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat serta anak yang mendo’akannya. ”

Yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang dapat kita ajarkan kepada orang lain yang belum paham dan orang tersebut mengamalkan ilmu itu dalam kehidupannya. Seperti hadits-hadits di bawah ini :

”Dari Sahal bin Mu’adz bin Anas dari bapaknya, bahwa Rasulullah saw bersabda, ’barang siapa yang mengajarkan suatu ilmu, maka baginya pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun. ’”(HR. Ibnu Majah)

”dari Abu Dzar, dia berkata: Rasulullah saw bersabda, wahai Abu Dzar, kamu berangkat di pagi hari lalu mempelajari satu ayat dari Kitabullah, lebih baik bagimu daripada kamu melakukan shalat seratus rakaat dan kamu berangkat dipagi hari lalu mengajarkan salah satu bab dari ilmu, baik di amalkan / tidak, lebih baik bagimu daripada melakukan shalat seribu rakaat.’”(HR. Ibnu Majah dan sanatnya hasan).

Jadi jelaslah bahwa tujuan dari ilmu adalah untuk ilmu itu sendiri, dan untuk mengamalkannya, tidak dalam rangka riya maupun sum’ah maupun demi mencapai maksud-maksud tertentu lainnya dari tujuan-tujuan duniawi. Ia mencari ilmu itu hanyalah untuk mengetahui Allah., dan mengetahui dengan mata batinnya tentang segala sesuatu yang diwajibkan Allah kepadanya. Dia mengetahui lalu mengamalkan dan mengajarkan kepada orang lain degan maksud-maksud yang baik.
Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya mencari ilmu, karena tanpa ilmu orang tidak dapat melakukan apa-apa, dan ilmu mengantarkan seseorang kepada derajad yang tinggi, menghidupkan hati dari kebutaan. Karena hanya ilmu yang dapat menjamin seseorang dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat, dan ilmulah yang menuntun jalan untuk menggapai kebahagiaan. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh. Apalagi masih banyak ilmu yang dapat kita gali di dunia ini, karena masih banyak yang belum kita ketahui. Allah dalam Al-Qur’an berfirman: ”jika seandainya semua batang kayu di dunia ini dijadikan pena dan seluruh air dijadikan tinta; maka semua itu akan habis sebelum ilmu Allah habis ditulis meskipun ditambah lagi (pena dan tinta) dengan sejumlah itu.” dimana yang ini menggambarkan keluasan ilmu.

1. Perbandingan Orang Yang Membaca Dengan Tidak Membaca
Rasulullah saw yang ummi tidak dapat menulis dan membaca memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan .serata beliau memuji para ahli ilmu pengetahuan dan memberi tuntunan norma-norma yang harus diikuti oleh para ulama dan mengemban amanah ilmiyah mereka. Oleh karena itu, kita juga harus menuntut ilmu. Salah satunya dengan cara membaca.
Kemuliaan menbaca Al-Qur’an:

” Dari Abu Musa Al Asy`ary, dari nabi saw ia berkata: ’perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujah. Rasanya manis dan aromanya sedap. Sedangkan orang yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah korma, rasanya manis namun tidak beraroma. Dan perumpamaan orang yang berbuat dosa disebutkan dalam sebuah riwayat: ’orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti raihaana, baunya sedap tetapi rasanya pahit. Perumpamaan orang ynag berbuat dosa disebutkan dalam sebuah riwayat: ’orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti Hanzhalah, rasanya pahit dan tidak mengeluarkan bau. Disebutkan dalam sebuah riwayat: ’orang mukmin yang membaca Al-qur’an dan mengamalkannya …. dan orang mukmin yang tidak membacanya ….. ’”(Diriwayatkan Asy-Syaikhani, Abu Daud, At-Tirmidzy dan An-Nasay).

Rasulullah mencontohkan dalam Hadits ini empat golongan manusia yang masing-masing punya keterkaitan dengan Al-Qur’an sebagai kitab tempat sandaran mereka dan mengimaninya meski hanya sebatas lahiriah saja.
Empat golongan manusia yang memiliki keterkaitandengan Al-Qur’an:
a. Golongan pertama adalah kelompok yang di hatinya penuh dengan keimanan bahkan sampai meluap ke segala anggota tubuhnya. Rasulullah memisalkannya dengan buah utrujah yang memang mempunyai kekhasan rasa yang lezat dan aroma yang sedap.
b. Golongan kedua adalah kelompok yang megimani Al-Qur’an, mengamalkan hukum-hukum, menjadikan segala arahnya menjadi petunjuk, dan menjadikan prilakunya sebagai sikap hidupnya, namun tidak membaca dan menghafalnya. Rasulullah mengibaratkannya sebagai buah korma yang mana kemanisannya rasanya mencerminka kemanisan hatinya dan selalu jujur dalam niat.
c. Golongan ke tiga adalah kelompok orang yang berbuat dosa atau munafik yang hanya memiliki keimanan hanya sebatas nama saja dan agama hanya sebatas gambaran semata. Rasulullah mengibaratkan kelompok ini sebagai buah raihaana, baunya sedap tetapi rasanya pahit menusuk lidah.
d. Golongan keempat adalah orang munafik yang berbuat dosa, yang sama sekali tidak tercium oleh Al-Qur’an. Rasulullah mengibaratkan orang ini seperti buah hanzhalah yang mana tidak berbau dan rasanyapun pahit menggigit lidah.

2. Hilangnya Pengetahuan Karena Meninggalnya Ulma

”Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a berkata: saya telah mendengar rasulullah saw bersabda:’sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu agama langsung dari hati hambanya, tetapi tercabutnya ilmu dengan matinya ulama, sehingga bila tidak ada orang alim, lalu orang mengangkat pemimpin yang bodoh agama, lalu menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.’”(Bukhari, Muslim).

Ulama adalah salah satu sumber ilmu pengetahuan. Para ulama adalah pembimbing umat, agar tidak tersesat. Cara ibadah ditanamkan,cara bergaul sesuai ajaran agama islam, yang diajarkan dan dipraktekkan oleh ulama.
Para ulama dapat kita misalkan sebagai lampu-lampu hidayah, utusan pembawa petunjuk, dan orang-orang kepercayaan Allah diantara makhluk-makhluk-Nya. Para ulama yang dimaksud dalam pemisalan di atas adalah ulama yang memahami agama islam dengan baik. Allah memberikan mereka pemahaman yang luas, logiksa yang tinggi, dan hati mereka penuh dengan kesadaran-kesadaran ilmu. Tanpa ilmu pengetahuan yang memadai, tetu para ulama tidak dapat menjalankn amar makruf dan nahi munkar.
Sekiranya para ulama yang istiqamah (punya prinsip, pendirian) sudah banyak yang meninggal dunia, maka sudah ada pertanda, bahwa Allah akan mencabut ilmu, secara berangsur-angsur melalui ulama yang dipanggil oleh Allah keharibaan-Nya. Dan dengan kematian orang-orang yang pandai berarti padamlah lampu yang selama ini menerangi kegelapan kehidupan. Hal ini disebabkan, munkin ilmu itu sudah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, golongan, dan sebagainya yang tidak dilandasi keikhlasan da ridha Allah. Dengan demikian, umat islam terpaksa mengangkat pemimpin yang tidak berbobot (tanggung ilmunya), sehingga dan apabila ada pertanyaan, pemimpin itu menjawab secara serampangan. Dia sendiri pada dasarnya sudah tersesat, kemudian menyesatkan orang lain. Ini berarti pemimpin yang bersangkutan telah melakukan dosa, yaitu dosa karena dia sesat dan menyesatkan orang lain.
Tugas ulama memang berat, sebab ulama itu adalah pewari para nabi, menjalankan misi ajaran agama Allah. Sekiranya ada yang bernama ulama yang tidak menjalankan tugasnya sebagai pewaris nabi dan kurang ikhlas, apalagi agama dipergunakan sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan tertentu, maka keulamaan orng itu tentu diragukan orang.
Lebih parah lagi apabila ada diantara para ulama itu yang dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan politiknya dan maksud-maksud lainnya.dugaan ini barangkali berlaku bagi ulama yang tidak istiqomah. Untuk mengantisipasi masalah ini diperlakukan kaderisasi yang sesuai dengan Allah yaitu mampu mengemban amanat untuk melaksanakan ajaran agama islam secara lengkap dan kemudian menyebarluaskannya. Ini dilakukan dengan cara, harus rajin menghadiri majelis dan dekat dengan para ulama. Jadi walaupun ulama meninggal ada pengganti ulama berikutnya sehingga ilmu tidak tercabut dari permukaan bumi, ilmu akan selalu menjadi berkah dan amal shaleh bagi yang menuntutnya, serta selalu bermanfaat untuk orang yang mengamalkannya.

A. Hasad Yang Dibolehkan Untuk Motivasi Menuntut Ilmu
1. Dua macam hasad yang dibolehkan
Hasad adalah keinginan untuk menghilangkan nikmat yang Allah berikan kepada seseorang, lalu ia menginginkan nikmat itu.

” Dari Abu Hurairah, sesungguhnya rasulullah saw berkata:’kedengkian itu hanya ada dalam dua hal: ’seorang yang dapat pengajaran Al-Qur’an dari Allah, lalu membacanya pada tengah malam dan pada siang hari, dimana tetangganya mendengarnya seraya berkata:’mudah-mudahan aku diberi nikmat seperti yang diberikan kepada fulan sehingga aku dapat melakukan seperti apa yang dilakukannya. Dan seorang yang dibeeri harta oleh Allah, lalu menghabiskannya dijalan kebenaran, sehingga seseorang berkata:’mudah-mudahan aku diberi harta seperti apa yang diberikan kepada fulan, maka aku dapat melakukan seperti apa yang dilakukannya.’”(Diriwayatkan Al-Bukhari dan An-Nasay).

Dengki adalah sikap yang hina dan sangat dibenci. Karena ia membenci kebaikan yang terjadi pada diri orang lain dan mengharapkan hilangya kenikmatan dari mereka. Orang yang mempunyai sifat seperti ini adalah mereka yang memang berjiwa kotor dan berhati penuh dosa. Dimana semua motivasi kebaikan telah mati dengan digantikan benih-benih kejahatan.
Tetapi disana ada dua sifat terpuji yang tidak berangkat dari benih kedengkian/dengan kata lain kedengkian disini hanyalah sebagai kata majas saja yang sebenarnya mengungkapkan rasa senang karena seseorang mendapatkan kenikmatan. Dua sifat terpuji atau hasad yang dibolehkan:
a. Sifat pertama, yang pantas untuk diharapkan, yang tepat sekali untuk dikejar dan didapatkan adalah sifat seseorang yang diberi karunia pemahaman terhadap Al-Qur’an, dikaruniai hapalan yan g kuat, dikaruniai tentang halal dan haramnya, hukum-hukumnya, kisah dan kabarnya, tatakrama, bersikap dan berprilaku, kemudian ia benar-benar merasakan manisnya semua itu, bisa menempakan dirinya, berkomitmen tinggi kepadanya dan mempunyai motivasi kuat terhadapnya.
b. Sikap kedua, bersikap senang dan bbas untuk menyenanginya. Sifat ini adlah sifat orang yang oleh Allah dikaruniai harta, namun tidak pernah berlaku kikir dan bakhil, tidak juga menghambur-hamburkan hartanya tanpa tujuan yang jelas.
c. Itulah dua sifat yang harus disikapi dengan rasa ingin memilikinya, karena keduanya adalah pangkal kemuliaan dan akumulasi amal kebajikan. Keduanya adalah wujud dari kekayaan ilmu dan kekayaan harta.

Slain itu kita juga dapat menuntut ilmu dengan cara melihat orang yang dibawah kita. Seperti hadits dibawah ini :

”Abu Hurairah r. A. Menceritakan bahwa Rasulullah saw. Brsabda,’perhatikanlah orang yang jauh dibawah dari paamu dan janganlah memperhaikan orang yang jauh di atas mu, karena cara seperti itu lebih mendidikmu, agar jangan sampai tidak diberi nikmat oleh Allah SWT atasmu!”

Hadits di atas menjelakan agar kita juga dapat bersyukur dan ikhlas dalam menuntut ilmu,dan menolong orang-orang yag membutuhkan pertolongan kita.

2. Beberapa Sikap Dalam Menuntut Ilmu Pengetahuan

”Abu Waqid Allaitsy r.a. berkata :’ketika nabi saw. duduk di masjid bersama sahabat, tiba-tiba datang tiga orang,maka orang yang dua menghadap nabi saw sedang yang satuu trus pergi. Adapun yang dua, maka yang satu diantaranya melihat lowongan ditengah majelis maka ia duduk di tempat itu, sedangkan yang kedua duduk di belakang, adapun yang ke tiga telah pergi. Maka ketika nabi saw selesai dari nasehatnya, bersabda : sukakah aku ceritakan kepada kalian mengenai tiga orang itu, adapun yang pertama ia ingin dekat kepada Allah maka Allah memberi tempat dekat. Adapun yang ke dua dia malu kepada Allah maka Allah malu kepadanya. Adapun yang ketiga dia berpaling dari Allah maka Allah juga berpaling dari padanya.’”(Bukhary, Muslim)

Majlis zikir itu adalah majlis rahmat Allah, siapa yang mendekat berarti dekat kepada Allah, dan siapa yang jauh, jauh dari rahmat Allah. Hadits di atas menceritakan tentang tiga orang yang datang ke majlis Rasulullah saw, yang mana masing-masing dari ketiganya melakukan hal yang berbeda-beda. Orang yang pertama menghampiri Rasulullah dan langsung duduk di tengah majlis yang kebetulan ada tempat kosong.orang ini digambarkan oleh rasulullah sebagai orang yang ingin dekat kepada Allah, maka sudah tentu Allah mendekat pada orang itu. Orang ini memiliki hati yang bersih, memiliki keinginan mnuntut ilmu dan berkeinginan unuk mengajarkanya kepada orang lain jika ilmu itu sudah dipahami dan diamalkanya. Adapun orang yang kedua,Rasulullah menggambarkannya dengan orang yang malu kepada Allah karna datang terlambat ke majlis Rasulullah, orang seperti ini juga mendapatkan kemuliaan isisi Allah, yang mana juga memiliki loya litas dalam menuntut ilmu pengetahuan dan waktu-waktunya dihabiskan dengan hal-hal yang bermanfaat. Sedangkan yang ketiga langsung pergi ketika melihat majlis Rasulullah. Orang ini digambarkan oleh Allah sebagai orang yang menjauh dari rahmat Allah, orang ini tertutup mata hatinya terhadap kebenaran, tidak punya rasa ingin tahu dalam berbuat kebaikan dan jauh dari ilmu pengetahuan, maka jelas dikatakan oleh Rasulullah bahwa orang seperti ini akan dijauhi pula oleh Allah, akan disempitkan oleh Allah segala urusannya,dihilangkan hidayah dalam hatinya, dan dikunci mata hatinya sehingga dia tidak dapat melihat kebenaran yang hakiki.
Bimbingan-bimbingan tentang sikap penuntut ilmu pengetahuan yang dijelaskan oleh para ulama, yaitu :
a. Buanglah jauh akhlak tercela, hiasi diri dengan akhlak mulia, jangan kotori diri dengan perbuatan dosa. Karena apabila seorang penuntut ilmu memiliki akhlak tercela, jiwa yang kotor, dan sering melakukan perbuatan dosa dengan tidak mau / jarang bertaubat kepada Allah, maka ilmu yang diperolehnya tidak akan menjadi brerkah unuk kehidupannya ataupun untuk khidupan orang lain.
b. Menjauhi sifat takabur, karena sifat terkabur adalah sifat tercela yang dibenci oleh Allah Swt.
c. Jangan meremahkan suatu ilmu pengetahuan, karena suatu cabang ilmu berkaitan dengan satu cabang ilmu lainnya.
d. Urutkan kegiatan belajar dari yang terpenting
e. Menuntut ilmu bertujuan untuk dapat hidup bahagia dunia dan akhirat dengan selalu mengharap ridho dari Allah Swt.
f. Slalu dekat dengan para ulama dalam artian menghadri majelis-majelis.

Dalam menghadiri majelis kita harus bersikap sopan, kita tidak boleh menempati tempat duduk yang mana orang lain sudah lebih dulu menempatinya. Dengan kata lain kita dilarang menyuruh orang lain pindah dan menempati tempat duduk nya. Seperti hadits dibawah ini:

” Abdulah bin Umar R.A berkata : Rasulullah Saw melarang seseorang menyuruh saudaranya untuk brdiri dari tempat duduknya dan ia menmpatinya.”

A. Kesimpulan
1. Mencari ilmu
Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun menuut metode metode tertentu yang dapat digunakan untuk suatu permasalahan dalam bidang pengetahuan.

2. Hasad yang dibolehkan untuk motivasi menuntut ilmu
Hasad adalah keunginan untuk menghilangkan nikmat yang Allah berikan kepada seseorang, lalu ia menginginkan nikmat itu.
Dua hasad yang dibolehkan:
a. Sifat seseorang yang dibri karunia pemahaman terhadap AL-Quran, kemudia ia benar-benar merasakan manisnya semua itu, bisa menempatkan dirinya, berkomitmen tinggi kepadanya dan punya motivasi kuat terhadapnya
b. Bersikap senang dan bebas untuk menyenanginya.

B. Kritik Dan Saran
Mnurut pemakalah bhwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun bagi makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Atha, Abdul Qadir, Adabun Nabi, Jakarta: Pustaka Azzaman, 2002

Abdul Baqi M. Fuad, Al-Lu’lu wal Marjan, Surabaya: PT. Bina Ilmu 2006

Ibn Anas Imam Malik, Al-Muwatta’, Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada, 1999

Al-Asqalani Al-Hafizh Syihabbudin Ahmad bin Ali bin Hajar, Ringkasan Targhib wa Tarhib, Jakarta: Pustaka Azzam, 2006

Baz Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin, Kemuliaan Orang Berilmu, Solo: Al-Qowam, 2006

Masyhur K. H. Kahar, Bulughul Maram 2, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992

Al-Asqalami Ibnu Hajar, Fathul Baari 5, Jakarta: Pustaka Azzam, 2003

Hasan M. Ali, Mengamalkan Sunnah Rasulullah, Jakarta: Siraja, 2003

my ukhti (ayu hendrawan)

2 Komentar

  1. menulis lebih banyak lagi semoga sangat berfanfaat bagi semua orang. terima kasih


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s