IJTIHAD


IJTIHAD
Dari segi bahasa, Ijtihad ialah mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan dalam melakukan tenaga baik fisik maupun pikiran. Perkataan ijtihad tidak digunakan kecuali untuk perbuatan yang harus dilakukan dengan susah payah.
Imam AL-Gazali mengatakan ijtihad adalah :”pengerahan segala kemampuannya oleh seorang mujtahid dalam mendapatkan ilmu tentang hukum syara’ .”
Adapun ijtihad secara istilah cukup beragam dikemukakan oleh ulama usul fiqh. Namun secara umum adalah:
عَمَلِيَّةُ اسْتِنْبَاطِ اْلأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ مِنْ اَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ فيِ الشَّرِيْعَةِ
Artinya : “Aktivitas untuk memperoleh pengetahuan (istinbath) hukum syara’ dari dalil terperinci dalam syariat”
Dengan kata lain, ijtihad adalah pengerahan segala kesanggupan seorang faqih (pakar fiqih Islam) untuk memperoleh pengetahuan tentang hukum sesuatu melalui dalil syara’ (agama). Dalam istilah inilah ijtihad lebih banyak dikenal dan digunakan bahkan banyak para fuqaha yang menegaskan bahwa ijtihad dilakukan di bidang fiqih.
B. DASAR HUKUM IJTIHAD
Yang menjadi landasan diperbolehkannya ijtihad banyak sekali, baik melalui pernyataan yang jelas maupun berdasarkan isyarat. Islam mendorong dan membolehkan umatnya melakukan ijtihad berdasarkan sejumlah alasan, diantaranya firman Allah surat An-Nisa’, 4: 59:
 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”
Dalam ayat ini terkandung sejumlah pelajaran, diantaranya perintah mengembalikan sesuatu yang diperselisihkan pada Al-Qur’an dan Sunnah, ini berarti larangan bagi umat Islam menyelesaikan persoalan yang diperselisihkan atas dasar hawa nafsu dan sekaligus kewajiban mengembalikannya kepada Allah dan Nabi-NYA dengan jalan ijtihad dengan jalan ijtihad dalam membahas kandungan ayat atau hadits yang tidak mudah dijangkau oleh logika. Ijtihad dapat dilakukan dengan mempelajari syariat. Ijtihad bentuk ini yang dimaksud dengan mengembalikan sesuatu yang diperselisihkan pada Allah dan Nabi-NYA sebagaimana yang dimaksud pada ayat tersebut.
Kebolehan ijtihad juga didasarkan pada firman Allah surat Al-Hasyir, 59: 2:
 “Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.”
Melalui ayat ini Allah memerintahkan orang-orang yang mempunyai pandangan untuk mengambil I’tibar (pelajaran) atas malapetaka yang menimpa kaum Yahudi disebabkan tingkah laku mereka yang tidak baik sebagaimana dikemukakan pada awal ayat ini. Untuk lebih jelasnya, kita dapat melihat ayat dan arti keseluruhan dari ayat ini yaitu:
“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama[1463]. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan”.
[1463] Yang dimaksud dengan ahli kitab ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir, merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah.

Dorongan untuk berijtihad juga diperkuat oleh hadits nabi saw, yang menceritakan tentang muaz bin jabal yang diutus nabi menjadi hakim di yaman. Dalam hadits ini terjadi dialog antara nabi dengan muaz, nabi saw bertanya kepada muaz, “bagaimana engkau memutuskan hukum ?”menjawab pertanyaan ini ia menjawab secara berurutan, “yaitu Al-Qur’an, kemudian dengan Sunnah, kemudian dengan melakukan ijtihad” . nabi kemudian membenarkan jawaban muaz ini dengan mengatakan: “segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq atas diri utusan nabi Allah dengan apa yang di ridhai Allah dan Nabi-NYA. “ (HR. Abu Daud).

C. OBJEK IJTIHAD
Objek ijtihad adalah setiap hukum syara’ yang tidak memiliki dalil yang qoth’i. Dengan demikian, syariat Islam dalam kaitannya dengan ijtihad terbagi dalam dua bagian.
1. Syariat yang tidak boleh dijadikan lapangan ijtihad yaitu, hukum-hukum yang telah dimaklumi sebagai landasan pokok Islam, yang berdasarkan pada dalil-dalil qoth’i, seperti kewajiban melaksanakan rukun Islam, atau haramnya berzina, mencuri dan lain-lain.
2. Syariat yang bisa dijadikan lapangan ijtihad yaitu hukum yang didasarkan pada dalil-dalil yang bersifat zhanni, serta hukum-hukum yang belum ada nash-nya dan ijma’ para ulama.

D. SYARAT-SYARAT MUJTAHID
Ijtihad itu adalah kegiatan orang yang memenuhi syarat tertentu dengan melakukan penggalian terhadap hukum Allah dari petunjuk atau dalil tertentu dan merumuskannya dalam bentuk hukum tertentu. Dari sini, tampak bahwa unsur pokok dalam berijtihad adalah:
(1) orang yang melakukan ijtihad yang disebut “mujtahid”.
(2) dugaan kuat tentang hukum Allah yang terdapat dalam penunjuk yang menjadi sasaran ijtihad, yang disebut “mujtahad”.
Pembicaraan tentang syarat-syarat berijtihad Meliputi kedua unsur pokok tersebut. Dalam literatur Ushul Figh terlihat bahwa para ahli ushul memberikan rumusan yang berbeda tentang syarat mujtahid. Perbedaan rumusan itu banyak ditentukan oleh titik pandang yang berbeda tentang mujtahid. Dan rumusan yang berbeda itu. terlihat ada kesamaan di antara mereka dalam memandang dua titik pada seseorang mujtahid itu, yaitu tentang kepriba¬diannya dan tentang kemampuannya.
1. Syarat yang berhubungan dengan kepribadian.
Syarat kepribadian ini menyangkut dua hal:
a. Syarat umum yang harus dimiliki seorang mujtahid adalah telah baligh dan berakal.
Seseorang mujtahid itu harus telah dewasa, karena hanya pada orang yang telah dewasa dapat ditemukan adanya kemampuan. Orang yang belum dewasa atau anak-anak tidak akan mungkin melakukan ijtihad.
Kemudian, seseorang mujtahid itu. harus berakal atau sempurna akalnya, karena pada orang yang berakal ditemukan adanya kemam¬puan ilmu dan ijtihad itu sendiri adalah suatu karya ilmiah. Orang yang tidak sempurna akalnya seperti orang gila tidak akan mungkin melakukan ijtihad.
b. Syarat kepribadian khusus.
Ijtihad itu merupakan karya ilmiah secara umum. Namun yang dilakukan dan dihasilkan dalamnya adalah hukum yang dinisbatkan kepada Allah. Oleh karena itu dituntut pada seorang mujtahid adanya persyaratan kepribadian khusus yaitu keimanan. la harus beriman kepada Allah secara sempurna, balk yang berkenaan dengan zat, sifat dan perbuatan-Nya. la percaya akan keberadaan dan kemahakuasaan Allah dan percaya akan adanya hukum Allah yang mengatur segala segi kehidupan manusia. la percaya kepada kerasulan Nabi Muhammad SAW; dan percaya pula akan fungsi beliau sebagai penyampai dan penjelas hukum Allah kepada umat mansusia.
Imam al-Ghazali mensyaratlan sifat adil dalam kepribadian ini. Yang dimaksud dengan adil di sini adalah adil yang dipersyaratkan dalam periwayatan hadits dan dalam kewalian, yaitu malakah atau potensi yang melekat dalarn pribadi seseorang yang tidak memungkinkannya untuk melakukan dosa besar dan tidak berketerusan dalarn berbuat dosa kecil. Selanjutnya al-Gazali membatasi sifat adil ini pada waktu menyampaikan hasil ijtihadnya untuk dapat diterima oleh orang lain, bukan untuk keshahihan suatu hasil ijtihad. Hal ini berarti bahwa sifat adil itu bukan terhadap diri si Mujtahid (yang melakukan Ijtihad), tetapi untuk dan terhadap orang lain yang akan rnenjalankan hasil ijtihadnya.
2. Syarat yang berhubungan dengan kemampuan.
a. Mengetahui “ilmu alat”, dalam hal ini adalah bahasa Arab, karena sumber pokok hukum syara` yaitu Al-Qur’an dan Sunnah berbahasa Arab.
Tentang kualitas kemampuan bahasa Arab yang dituntut sebagai syarat berijtihad ini, ada beberapa pendapat yang diantaranya adalah:
1) . Menurut Ibnu Subki cukup pada tingkat pertengahan saja.
Al-Ghazali menentukan batas kemampuan tertentu yang me¬mungkinkan seorang mujtahid dapat membedakan ucapan yang sharih, zahir, mujmal, haqiqat dan majaz.
2) Abu Ishaq al-Syathibi tidak menuntut batas tertentu namun me¬nyatakan bahwa kualitas hasil Ijtihad yang dicapai seorang muj¬tahid sejalan dengan kemampuan bahasanya. Bila dalam bahasa Arab ia baru dalarn taraf awal, maka ia pun dalam taraf awal dalam pemahaman syari`at. Bila pengetahuan bahasanya mencapai taraf pertengahan, ia baru mencapai taraf pertengahan dalam pema¬haman syari`at. Taraf pertengahan ini belum mencapai peringkat akhir. Bila la mencapai derajat akhir dalam pemahaman bahasa, begitu pula la mencapai derajat akhir dalam pemahaman syari`at. Dengan pemahaman tingkat derajat akhir dalam syari`at akan mencapai kekuatan hujjah.
b. Pengetahuan tentang Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah sumber asasi hukum syara’. Karena itu seorang
mujtahid harus mempunyai pengetahuan yang baik tentang Al Qur’an. Persyaratan ini disepakati oleh semua ulama, karena tidak mungkin seseorang dapat memahami syari’ah, apalagi menggali dan merumuskannya tanpa memliliki pengetahuan tentang Al-Qur’an.
Meskipun tidak ada kewajiban untuk menghafal Al-Qur’an, namun penngkat tertinggi bagi orang yang mengetahui Al-Qur’an ialah bila ia hafal Al-Qur’an secara sempurna dan memahami artinya secara keseluruhan serta mengetahui pula kandungan hukum di dalamnya secara terperinci.

c. Memahami Hadits Nabi
Seorang mujtahid harus mempunyai pengetahuan tentang hadits atau sunnah Nabi sebagai sumber kedua hukum Islam. Di antara fungsi hadits adalah sebagai penjelasan terhadap Al-Qur’an. pemahaman akan hadits tersebut meliputi keseluruhannya, baik Yang qauliyah, fi`liyah maupun taqririyah.
Ruang lingkup hadits (sunnah) Nabi itu luas sekai, meliputi keselu¬ruhan biding kehidupan. Tidak mungkin ilmu seorang mujtahid menjangkau keseluruhannya. Karena itu para ahli membatasi persyaratan pengetahuan mujtahid mengenai hadits, diutamakan pada hadits yang berkenaan dengan hukum-hukum taklifiyah yang memungkinkannya untuk menemukan hukum dalam hadits tersebut. Dalam hal ini pun, tidak disyaratkan harus menghafal hadits tersebut di luar kepala, tetapi cukup mengetahui tempatnya yang memungkinkan untuk merujuknya pada saat diperlukan.
Seorang mujtahid juga harus mengetahui tentang asbab al-wurud (peristiwa latar belakang datangnya) hadits-hadits hukum itu yang dapat menambah pengetahuannya tentang hukum yang terkandung di dalam suatu hadits.
d. Pengetahuan tentang ijma’ulama
Setiap mujtahid harus mempunyai pengetahuan tentang ijma’ ulama. Dengan demikian la akan mengetahui kasus atau peristiwa hukum apa saja yang ketentuan hukumnya telah dijma’kan ulama, setidak¬nya dalam hal-hal yang menyangkut pokok-pokok kewajiban agama dan hal yang harus diketahui setiap muslim seperti wajibnya shalat, zakat, puasa, dan haji serta kewajiban pokok lainn¬ya. Begitu pula mengenai hal yang secara jelas telah dilarang Allah seperti haramnya zina, makan daging babi dan lain-lain sebagainya Yang merupakan larangan pokok dalam agama yang harus diketahui setiap muslim. Meskipun larangan mengenai hal itu ketentuan hukumnya telah jelas dalam bentuk nash yang ditetapkan Allah, namun formulasinya dalam bentuk hukum secara terinci adalah hasil karya ijtihad yang dikukuhkan dengan ijma’ ulama. Ijma’ ini mempunyai kekuatan yang mengikat dan tidak dapat diingkari.
e. Pengetahuan tentang qiyas
Qiyas disepakati oleh ulama jumhur sebagai salah satu cara untuk menemukan hukum Allah. Oleh karena itu setiap yang akan menggali dan menemukan hukum Allah (berijtihad) harus mempunyai penge¬tahuan tentang qiyas. Ia harus mengetahui metode qiyas serta menge¬tahui pokok-pokok istinbath yang memirigkinkannya membedakan dan memilih hukum yang paling dekat kepada tujuan syara`.
Pengetahuan. tentang qiyas menyangkut beberapa bidang:
1) Mengetahui hukum-hukum ashal yang ditetapkan nash sehingga dapat menghubungkan suatu kasus baru kepada hukum ashal itu.
2) Mengetahui secara baik kaidah-kaidah qiyas dan persyaratan penggunaannya, sehingga ia tidak akan menggunakan qiyas dalam ijtihadnya untuk kasus yang tidak mungkin ditetapkan hukumnya berdasarkan qiyas.
3) Mengetahui metode yang digunakan oleh mujtahid sahabat da¬lam menemukan ‘illat hukum dan sifat-sifat yang mereka pandang sebagai asas dalam menetapkan hukum.
f. Pengetahuan tentang maksud Syar’ dalam menetapkan hukum.
Tiadalah Syari’(Pembuat Hukum, yaitu Allah) menetapkan hukum tanpa maksud tertentu. Artinya setiap hukum yang ditemukan dalam Al-Qur’an pasti ada tujuannya, meskipun dalam beberapa tempat kita tidak dapat mengetahuinya. Setiap mujtahid harus dapat menge¬tahui maksud Syari’ dalam menetapkan suatu hukum sehingga demikian saat mencari dan menggali hukum melalui ijtihad, ia dapat berpedoman kepada tujuan Syari’ tersebut.
Secara umum tujuan Syari’ didalam menetapkan hukum adalah untuk kemaslahatan umat, baik dalam bentuk mewujudkan suatu manfaat untuk manusia, maupun dalam bentuk menghindarkan madharat dari manusia. Bila seorang mujathid dalam ijtihadnya tidak menemu¬kan petunjuk dalam bentuk nash, maka la akan menggali untuk menemukan (menetapkan) hukum yang tidak bertentangan dengan maksud umum dari tujuan Syiri’tersebut.
g. Pengetahuan tentang Ushul Flqh
Seorang mujtahid harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang ushul fiqih, karena ilmu ini mempelajari apa-apa yang diperlukan untuk berijtihad.
Demikianlah syarat-syarat penting yang hares dimiliki setiap mujtahid yang dapat ditemukan dalam hampir semua literatur yang membicarakan syarat berijtihad.

E. TINGKATAN MUJTAHID
Ulama ahli ushul fiqih membagi ahli fiqih kepada tujuh tingkatan. Empat tingkatan pertama tergolong mujtahid, tiga tingkatan berikutnya masuk kedalam kategori muqallid, belum mencapai derajad mujtahid. Disini kita hanya akan menjelaskan tentang tingkatan mujtahid.
1. Mujtahid Mustaqil.
Tingkatan pertama adalah tingkatan mujtahid mustaqil, yaitu seorang mujtahid yang bebas menggunakan kaidah-kaidah yang ia buat sendiri, dia menyusun fiqih-nya sendiri yang berbeda dengan madzhab, tingkatan inilah yang mempunyai otoritas mengkaji ketetapan hukum langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah.
2. mujtahid Muntasib
Tingkatan kedua adalah mujtahid muntasib adalah orang yang memiliki kriteria seperti mujtahid mustaqil, namun dia tidak menciptakan sendiri kaidah-kaidahnya, tetapi mengikuti metode salah satu imam. Yaitu dengan mengambil atau memilih pendapat-pendapat imamnya dalam ushul dan berbeda pendapat dari imamnya.
3. mujtahid madzhab
Tingkatan ketiga adalah mujtahid majhab adalah mujtahid yang terikat oleh madzhab imamnya. Peranan mereka terbatas melakukan istinbath hukum terhadap masalah-masalah yang belum diriwayatkan oleh imamnya.
Tingkatan inilah yang melahirkan aliran fiqih dan meletakkan asas-asas bagi perkembangan mazhab.
4. mujtahid murajjih
Tingkatan keempat adalah mujtahid murajjih. adalah mujtahid yang belum sampai derajatnya pada mujtahid takhrij, tetapi mujtahid ini sangat faqih, hafal kaidah-kaidah imamnya, mengetahui dalil-dalilnya, cara memutuskan hukum dan lain-lain, namun kalau dibandingkan dengan mujtahid di atas ia tergolong masih kurang. Mereka mentarjih sebagian pendapat atas pendapat lain karenaterpandang kuat dalilnyaatau karena sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat pada masa itu atau karena alasan-alasan lain.
5. mujtahid muwazin
Yaitu tingkatan yang membanding-bandingkan antara beberapa tingkatan dan riwayat. Yang mereka lakukan misalnya, menetapkan bahwa qiyas yang dipakai dalam suatu pendapat lebihlebih mengena dibanding penggunaan qiyas pada pendapat lain.
Adapun dua tingkatan berikutnya termasuk kedalam tingkatan muqallid. Sebab disitu sama sekali tidak terdapat kegiatan ijtihad di bidang fiqih. Semata-mata hanyalah menghimpun dan membukukan pendapat-pendapat ulama. Yaitu muhafiz dan muqallid.

sumber
Prof. Dr. H. Satria Effendi, M. Zein, M. A, ushul fiqih, (Jakarta : Kencana, 2008), hlm. 245
Abu Hamid Al-Gazali, al-Mustasfa fi Ilmi al-Ushul, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1983), jilid 1, dari buku ushul fiqh bab. 3, hlm. 72
Prof. Dr. Amir Syaripuddin, jilid 2, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana, 2008
Muhammad Abu Zahah, Ushul Fiqih (Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 1994

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s