METODOLOGI TAFSIR


METODOLOGI TAFSIR

Istilah tafsir merujuk kepada al-Qur’an, sebagaimana tercantum dalam QS. Alfurqan 33”
وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرً
Artinya: “Tidaklah oranhg-orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu Sesutu yang benar dan penjelasan (tafsir) yang terbaik.
Di dalam kamus bahasa Indonesia, kata ‘tafsir diartikan dengan ‘keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Qur’an” . Jadi tafsir Al-qur’an ialah penjelasan atau keterangan untuk memperjelas maksud yang sukar memahaminya dari ayat-ayat Al-Qur’an.
Para ulama telah melakukan pembagian tentang kitab-kitab karangan menyangkut Al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir yang metode penulisannya berbeda-beda menjadi empat macam metode, sebagai berikut :

A. METODE IJMALI
1. Pengertian
Yang dimaksud dengan metode ijmali (global) ialah menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara ringkas tapi mencakup, dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan enak dibaca. Sistematika penulisannya mengikuti sususnan ayat-ayat dalam mushaf. Disamping itu penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa Al-Qur’an sehingga pendengar dan pembaca mudah memahaminya. Kitab Tafsi Al-Qur’an Al-KArim karangan Muhammad Farid Wajdi, Al-tafsir Al-Wasith terbtan Majma’ Al-Buhus Al-islamiyyat, dan Tafsir Al-Jalain serta TAj al-TAfasir karangan Muhammad Ustman al-Mirgani, masuk kedalam kelompok ini.

2. Kelebihan dan Kekurangan
Apa dan bagaimanapun bentuk suatu metodologi, ia tetap merupakan hajil ijtihad, yakni hasil olah piker manusia. Manusia, meskipun dikaruniai kepintaran tetap mempunyai kelemahan dan keterbatasan, yang tidak bias mereka hindarkan seperti sipat lupa, lalai, dan sebagainya.
a. Kelebihan metode ijmali
1) Praktis dan mudah dipahami, yaitu tanpa berbelit-belit, pemahaman Al-Qur’an segera dapat diserap oleh pembacanya.
2) Relatif lebih murni, dengan metode ini dapat dibendung pemikiran-pemikiran yang kadang- kadang tidak sejalan dengan martabat Al-Qur’an.
3) Akrab dengan bahasa Al-qur’an,. Uraian yang dibuat dalam tafsir ijmali terasa amat singkat dan padat, hal ini dikarenakan mufasir langsung menjelaskan pengertian kata atau ayat dengan sinonimnya dan tidak mengemukakan ide-ide atau pendapatnya secara pribadi.

b. Kekurangan metode ijmali
Kekurangan yang terdapat dalam metode ini antara lain:
1) Menjadikan petunjuk Al-Qur’an bersifat farsial, Al-Qur’an merupakan satu-kesatuan yang utuh, sehingga satu ayat dengan ayat yang lain membentuk satu pengertian yang utuh, tidak terpecah. Dengan menggabungkan kedua ayat itu, akan diperoleh suatu pemahaman yang utuh dan dapat terhindar dari kekeliruan.
2) Tak ada ruang untuk mengemukakan analisis yang memadai. Tafsir yamg memakai metode ijmali tidak menyediakan ruangan untuk memberikan uraian atau pembahasan yang memuaskan berkenaan dengan pemahaman suatu ayat.

B. METODE TAHLILI (ANALITIS)
1. Pengertian
Yang dimaksud dengan metode analitis ialah menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung didalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu sertamenerangkan makna-maknayang tercakup didalamnya sesuai dengan keahlian dan kecendrungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Biasanya mufasir menguraikan makna yang dikandung oleh Al-Qur’an, ayat demi ayat, surah demi surah sesuai dengan urutannya didalam mushaf.
Perbedaan yang mencolok antara tafsir tahlili dengan ijmali terutama dari sudut keluasan wawasan yang dikemukakan dan kedalaman serta ketajaman analitis. Karma itu, didalam tafsir tahlili si mufasir relative punya banyak peluang untuk mengemukakan ide-ide dan gagasan-gagasan berdasarkan keahliannya sesuai dengan pemahaman ayat.
Yang menjadi cirri dalam metode analitis ini bukan menafsirkan Al-Qur’an dari awal mushaf sampai akhirnya, melainkan terletak pada pola pembahasan dan analisisnya. Artinya, selama pembahasan tidak mengikuti pula perbandingan.

2. Kelebihan dan kekurangan Metode Analitis
a. Kelebihan metode analitis
1) Ruang lingkup yang luas. Contohnya saja ahli bahasa, mendapat peluang yang luas untuk menafsikan Al-Qur’an dari pemahaman kebahasaan, seperti tafsir Al-Nasafi karangan karangan Abu Al-Su’ud, Ahli qiraat seperti Abu Hayyan, menjadikan qiraat sebagai titik tolak dalam penafsirannya. Begitu pula ahli filsafat, sains dan teknologi.
2) Memuat berbagai ide. Tafsir ini memberikan kesempatan yang sangat luas kepada mufasir untuk mencurahkan ide-ide dan gagasannya dalam menafsirkan Al-Qur’an.

b. Kekurangan metode analitis
1) Menjadikan petunjuk Al-Qur’an parsial. Karan seakan-akan Al-Quran memberi pedoman secara tidak utuh dan tidak konsisten karma penafsiran yang diberikan pada suatu ayat berbeda dari penafsiran yang diberikan pada ayat-ayat lain yang sama dengannya.
2) Melahirkan penafsiran subjektif. Karma bebasnya mengeluarkan ide dalam penafsiran ini, para mufasir terkadang tidak sadar telah menafsirkan Al-Qur’an secara subjektif, bahkan bisa jadi ada mereka yang menafsirkan Al-Qur’an dengan kemauan hawa nafsunya .

C. METODE MUQARIN (KOMPARATIF)
1. Pengertian
Yang dimaksut dengan metode komparatif adalah: 1) Membandingkan teks ayat-ayat Al-qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripandalam dua kasus atau lebih; 2) Membandingkan ayat Al-Qur’an dengan hadits yang pada lahirnya bersifat bertentangan; 3) Membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir.
M. Qurois Sihab mengatakan “Dalam metode ini khususnya yang membandingkan antara ayat dengan ayat,dan ayat dengan hadits biasanya mufasirnya menjelaskan hal-hal yangberkaitan dengan perbedaan kandungan yang dimaksut oleh masing-masing ayat atau perbedaan masalah itu sendiri”.
2. Kelebihan dan Kekurangan
a. Kelebihan
1) Memberikan wawasan penafsiran yang relative lebih luas kepada para pembaca bila dibandingkan dengan metode-metode lain.
2) Membuka pintu untuksesalalu bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang kadang-kadang jauh berbeda dari pendapat kita dan tak mustahil ada yang kontradiktif.
3) Tafsir dan metode komfaratif ini9 amat berguna bagi mereka yang ingin mengetahuiberbagai pendapat tentang suatu ayat.
4) Dengan metode ini mufasir didorong untuk mengaji berbagai ayat dan hadits-hadits serta pendapat para mufasir yang lain

b. Kekurangan
1) Penafsiran dengan metode ini tidak dapat diberikan kepada para pemula seperti mereka yang sedang belajar pada tingkat sekolah menengah kebawah.
2) Kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan social yang tumbuh ditengah masyarakat.
3) Terkesan banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan oleh ulama daripada mengemukakan penafsiran-penafsiranbaru.

D. METODE MAUDHU’I (TEMATIK)
1. Pengertian
Yang dimaksud denganmetode tematik adalah membahas ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan, dihimpun. Kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dariberbagai aspek yang terkait dengannya. Seperti asbab al-nuzul, kosa kata, dan sebagainya. Semua dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalilatau fakta-fakta yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, baik argument itu berasal dari hadits, Al-Qur’an atau pemikiran rasional.

2. Kelebihan dan kekurangan
a. kelebihan
1) Menjawab tantangan zaman. Permasalahan dalam kehidupan selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Semakin modern kehidupan, permasalahan yang timbul semakin kompleks dan rumit, serta mempunyai dampak yang luas. Untuk menghadapi permasalahan yang demikian, dilihat dari sudut tafsir Al-Qur’an, tidak dapat ditamgani dengan metode-metode penafsiran selain metode tematik.
2) Praktis dan sistematis. Tafsir ini disusun secara praktis dan sistematis dalam memecahkan permasalahan yang timbul. Dengan adanya tematik mereka akan mendapatkan petunjuk Al-Qur’an secara praktis dan sistematis serta dapat lebih menghemat waktu, efektif, dan efesien.
3) Dinamis. Metode ini membuat tafsir Al-Qur’an selalu dinamis sesuai dengan tuntunan zaman.
4) Membuat pemahaman menjadi utuh. Dengan ditetapkan judul-judul yang akan dibahas, maka pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dapat diserap secara utuh.

b. Kekurangan
1) Memenggal ayat Al-Qur’an. Memenggal ayat Al-Qur’an yang dimaksud adalah mengambil satu kasus yamg terdapat didalam satu ayat atau lebih yang mengandung banyak permasalahan yang berbeda.
2) Membatasi pemahaman ayat. Dengan penetapan judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat menjadi terbatas

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s