PEMIKIRAN PENDIDIKAN MAHMUD YUNUS DAN KH. AHMAD DAHLAN


PEMIKIRAN PENDIDIKAN MAHMUD YUNUS
DAN KH. AHMAD DAHLAN

A. Pemikiran Pendidikan Mahmud Yunus
1 Biografi Mahmud Yunus
a. Keluarga
Mahmud Yunus, dilahirkan hari Sabtu tanggal 10 Februari 1899, bertepatan dengan 30 Ramadan 1316 H di Sungayung Batu sangkar, sekitar 120 dari Padang Ibukota Propinsi Sumatera Barat. Usia beliau lebih muda 11 tahun dari Syekh H. Abdul Ahmad. Ayahnya bernama Yunus Bin Incek yang terkenal dengan orang yang sangat jujur dan menjadi imam Mesjid di sungayung. Ibunya bernama Hafsah binti Muhammad Thahir (Imam Samiun) putra seorang ulama besar disungayung Batusangkar yang bernama Muhammad Ali gelag angku Kolok.
b. Pendidikan
Pendidikan Mahmud Yunus berasal dari mempelajari Al-Quran dan bahasa Arab yang ia tempuh semenjak berusia tujuh tahun di surau kakeknya M. Thahir. Setelah selesai belajar mengaji dan menghafal Al-Qur’an, Mahmud Yunus langsung membantu kakeknya mengajarkan Al-Qur’an sebagai guru Bantu. Di samping itu dia memasuki sekolah rakyat, tapi hanya sampai kelas tiga. Di kelas tiga Mahmud Yunus menjadi murid yang terbaik dan diangkat menjadi kelas empat. Materi yang dipelajari di sekolah desa beliau menulis, berhitung dan membaca, dengan bahasa pengantar bahasa Melayu.
Mahmud Yunus merasa bosan belajar disekolah Desa, karena pelajaranya sering diulang-ulang. Akhirnya dia pindah ke madarasah yang dipinpin oleh syekh H. Muhammad Thalib di surau Tanjung Pauh. Berkat ketekunanya, dalam waktu empat tahun, Mahmud Yunus telah sanggup mengajarkan kitab-kitab Mahlli, Afiyah dan Jamu’al-Jawani. Oleh sebab itu, ketika Syekh Mohammad Thalib Umar jatuh sakit dan berhenti mengajar, maka yang ditunjuk mengentikanya adalah Mahmud Yunus sendiri. Mahmud Yunus menunaikan ibadah haji tahun 1923, kemudian terus kemesir atas dorongan putra Minangkabau yang belajar da al- Azhar. Maka Mahmud Yunus memutuskan belajar di al-Azhar. Setelah tamat dari itu, Mahmud Yunus bermaksud dan berkeinginan untuk belajar di Darul Ulum, lembaga pendidikan Islam yang sangat terkenal di Mesir pada saat itu. Darul Ulum disamping memberikan pengetahuan umum juga pengetahuan agama.
Mahmud Yunus sangat terkesan dengan system pindidikan di Darul Ulum. Setelah ia tamat dari pada tahun 1930, ia kembali ke kampungnya pada tahun 1931. Ia mulai mengajar di Jamiah al-Islamiyah Sungayung dan sekaligus juga memimpin Normal Islam Padang. Di sinilah semua pengalamannya diaplikasinya selama ia belajar di Darul Ulum.
c. Karir dan Organisasi
Keikutsertaannya dalam Rapat Alim Ulama Minangkabau di Padang panjang pada tahun 1919 menjadi pajakan awal pemantapan dirinya untuk mengerahkan potensi, gagasan dan perjuangannya dalam bidang pendidikan Islam. Rapat ini menghasilkan keputusan antara lain mendirikan Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) yang kemudian menjadi salah satu tonggak episode perkembangan pendidikan Islam modern di Sumatera Barat yang memperlihatkan komitmen yang jelas dari langkah organisasi ini dalam bidang pendidikan Islam. Gagasan-gagasan pembaharuan materi ajar, kurikulum hingga metode pengajaran pada lembaga pendidikan tersebut adalah buah dari kesungguhan intelektual Mahmud Yunus dalam mengabdikan diri dalam bidang pendidikan Islam.
Pada tahun 1919 Mahmud Yunus bersama-sama guru madrasah school membentuk perkumpulan Sumatera Thawalib. Diantara kegiatan yang dilakukan perkumpulan Sumatera Thawalib Sungayung adalah menerbitkan majalah Al-Basyir, 1920 dengan pimpinan redaksi (rais terhrir) Mahmud Yunus. Interaksi yang kian intens dengan gerakan pembaru, mendorongnya untuk menimba pengetahuan lebih jauh di Mesir. Tidak muda untuk mewujudkan hasratnya itu, berbagai tantangan dan kendala dihadapinya. Namun karena kegigihan Mahmud Yunus akhirnya dapat melewatinya.
Salah satu kepeloporan Mahmud Yunus yang hingga saat ini hampir-hampir dilupakan oleh sejarah adalah usaha yang dilakukannya untuk menempatkan mata pelajaran agama Islam dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah pemerintah. Di masa pemerintahan Jepang, tepatnya pada tahun 1943 Mahmud Yunus terpilih mewakili Majlis Islam Tinggi (MIT) sebagai penasehat Residen (Syu-Cho-Kan) di Padang. Pada waktu residen Yano Kenzo berniat mendirikan Gyu Gun (Lasykar Rakyat), Mahmud pun termasuk salah seorang tokoh yang diharapkan dapat merekrut keanggotaan Gyu Gun, disamping tokoh lainnya seperti Ahmad Dt. Simarajo dan Khatib Sulaiman. Kedekatan Mahmud Yunus dengan pemerintahan inilah yang kemudian dia manfaatkan untuk merealisasikan obsesinya. Ia mengusulkan kepada pemerintah agar pendidikan agama Islam diberikan di sekolah-sekolah pemerintah. Usulan Mahmud ini dapat dipertimbangkan oleh Jepang untuk diterima. Sejak saat itu pelajaran agama Islam diberikan di sekolah-sekolah pemerintah pada waktu itu dan sekaligus Mahmud Yunus diangkat menjadi pengawas pendidikan agama pada pemerintahan Jepang. Pada waktu yang bersamaan ia juga memimpin Normal Islam di Padang.
Upaya untuk memasukkan mata pelajaran agama Islam ke dalam kurikulum pendidikan umum (pemerintah) juga dilakukan oleh Mahmud Yunus setelah kemerdekaan. Mahmud sendiri yang menyusun kurikulum serta buku-buku pegangan untuk keperluan pengajarannya. Buku-buku tersebut kemudian diterbitkan oleh Jawatan Pengajaran Sumatera Barat pada tahun 1946. Pada waktu Mahmud Yunus dipindahtugaskan ke Pematang Siantar sebagai Kepala Kepala bagian Agama Islam pada Jawatan Agama Propinsi Sumatera, bersamaan dengan itu pula pindahnya ibukota Propinsi Sumatera ke kota itu.
Dengan demikian pendidikan Islam masuk secara resmi dalam rencana pengajaran seskolah-sekolah negeri di Sumatera pada tahun 1947. Sementara di Sumatera Barat telah berjalan setahun sebelumnya. Untuk merealisasikan rencana tersebut, Jabatan Pengajaran melaksanakan kursus untuk guru-guru agama di Pematang Siantar selama sebulan penuh. Kursus ini dikuti oleh utusan kabupaten dari seluruh Sumatera dan sebagai pimpinan kursus dipercayakan oleh Mahmud Yunus.
2 Pemikiran Mahmud Yunus tentang Pendidikan
Menurut Mahmud Yunus, pendidikan adalah suatu bentuk pengaruh yang terdiri dari ragam pengaruh yang terpilih berdasarkan tujuan yang dapat membantu anak-anak agar berkembang secara jasmani, akal dan pikiran. Dalam prosesnya ada upaya yang harus dicapai agar diperoleh hasil yang maksimal dan sempurna, tercapai kehidupan harmoni secara personal dan sosial. Segala bentuk kegiatan yang dilakukan menjadi lebih sempurna, kokoh, dan lebih bagus bagi masyarakat.
Apabila semua itu dalam pendidikan dan pengajaran tercapai maka tercapailah pendidikan cinta tanah air, pendidikan jasmani, pendidikan akhlak, pendidikan perasaan, pendidikan perbuatan, pendidikan kemasyarakatan, pendidikan keindahan dan pendidikan pribahasa. Dengan demikian sampailah kita kepada cita-cita yang tinggi menjadikan manusia insan kamil. Salah satu pokok untuk mendapatkan kemajuan dalam kehidupan ialah bila orang itu bertubuh tegap dan sehat. “akal yang sehat dalam tubuh yang kuat”.
Guru tidak akan maju dalam usahanya bila tidak mengetahui pertumbuhan jasmani anak-anak dan apa yang dibutuhkan oleh jasmani itu. Maka kesehatan anak-anak penting sekali dijaga dalam mendidik anak-anak itu, karena tidak akan tercapai kebahagiaan kalau tidak ada kesehatan.
Sedangkan pendidikan akal pendidikan akal supaya mendapat pengetahuan dan mencerdaskan akal pikiran serta pandai mempergunakan ilmu yang diketahui oleh manusia. Tetapi tujuannya ialah mengetahui ilmu dengan sesungguhnya serta mengerti dan faham akan wujud maksudnya dan dapat dipergunakan dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan akhlak adalah tujuan yang utama dan tertinggi dari segala tujuan itu, bahkan akhlak itulah segala kehidupan karena dengan pendidikan akhlak itu kita dapat menanamkan sifat-sifat yang baik dalam jiwa anak, seperti menepati janji, jujur dalam segala hal, tulus ikhlas dalam perbuatan, sanggup dan tetap dan menunaikan kewajiban.
Dengan demikian nyatalah bahwa tujuan pendidikan menurut Mahmud Yunus ialah menyiapkan anak-anak untuk kehidupan yang sempurna. Jasmaninya dilatih supaya tegap dan sehat, akalnya didik supaya pandai dan mencipta, kelakuannya diperbaiki supaya berakhlak mulia. Pemikiran Mahmud Yunus dalam peningkatan pendidikan Islam antara lain berkenaan dengan tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran dan lembaga untuk lebih jelasnya akan dikemukakan sebagai berikut:
a. Tujuan pendidikan
Dari segi tujuan pendidikan Islam, terlihat pada gagasannya yang menghendaki agar lulusan pendidikan Islam tidak kalah dengan lulusan pendidikan yang belajar di sekolah-sekolah yang sudah maju, bahkan lulusan pendidikan Islam tersebut mutunya lebih baik dari lulusan sekolah-sekolah yang sudah maju. Yaitu lulusan pendidikan Islam yang selain memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam bidang ilmu-ilmu umum juga memiliki wawasan dan kepribadian Islam yang kuat. Adapun tujuan pendidikan Islam menurut Mahmud Yunus adalah untuk mempelajari dan mengetahui ilmu-ilmu agama Islam serta mengamalkannya.
Tujuan inilah yang dilaksanakan oleh madrasah-madrasah, seluruh dunia Islam beratus-ratus tahun lamanya sesudah mundurnya negara Islam, di madrasah ini hanya diajarkan ilmu-ilmu: tauhid, fiqh, tafsir, Hadits, nahwu, sharaf, balaqah dan sebagainya. Sedangkan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan duniawi tidak diajarkan sama sekali, bahkan dahulunya ada ulama yang mengatakan haram mengajarkan ilmu-ilmu alam, kimia, dan ilmu-ilmu lain yang disebut ilmu umum.
Tujuan yang demikian itu, menurut Mahmud Yunus terasa masih kurang, tidak lengkap dan tidak sempurna. Tujuan yang demikian membuat umat Islam menjadi lemah dalam kehidupan di dunia dan tidak sanggup mempertahankan kemerdekaannya. Dari sini Mahmud Yunus menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menyiapkan anak-anak didik agar pada waktu dewasa kelak mereka sanggup dan cakap melakukan pekerjaan dunia dan amalan akhirat, sehingga tercipta kebahagiaan bersama dunia akhirat.
Untuk menghasilkan semua itu anak-anak harus belajar ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan dunia dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan amalan akhirat. Berkaitan dengan tujuan pokok pendidikan Islam, Mahmud Yunus lebih lanjut merumuskannya adalah sebagai berikut: pertama, untuk mencerdaskan perseorangan, kedua, untuk kecakapan mengerjakan pekerjaan. Dalam hubungan ia menilai pendapat ulama tradisional yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam hanyalah untuk beribadah dan sekedar untuk mempelajari agama Islam. Karena menurutnya, beribadah itu merupakan salah satu perintah Islam. Sedangkan pekerjaan duniawi yang menguatkan pengabdian kepada Allah juga merupakan perintah Islam.
Dengan demikian, pekerjaan duniawi termasuk juga tujuan pendidikan Islam. Selain itu, Mahmud Yunus menilai bahwa tujuan pendidikan yang lebih penting dan utama adalah pendidikan akhlak, karena Rasulullah SAW, diutus kemuka bumi adalah untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti umat manusia. Atas dasar pemikiran tersebut di atas, menurut Mahmud Yunus tugas yang utama dan pertama yang menjadi beban para ulama, guru-guru agama dan pemimpin-pemimpin Islam adalah mendidik anak-anak, para pemuda, putra-putri orang-orang dewasa dan masyarakat umumnya, dengan tujuan agar mereka memiliki akhlak yang mulia dan berbudi pekerti mulia. Hal yang demikian tidak berarti bahwa pendidikan jasmani, adil dan amal tidak dipentingkan sama sekali, bahkan semuanya dipentingkan, tapi yang terpenting menurut Mahmud Yunus adalah pendidikan akhlak.
b. Kurikulum pendidikan Islam
Mahmud Yunus adalah orang yang pertama kali mempelopori adanya kurikulum yang bersifat integrated, yaitu kurikulum yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum di lembaga pendidikan Islam, khususnya dalam mengembangkan pengajaran bahasa Arab. pada mulanya pengajaran bahasa Arab lebih banyak menekankan aspek gramatika tanpa diimbangi kemampuan menggunakannya dalam bentuk dengan membuat metode pengajaran baru yang ia kenalkan dengan nama Al-Thariqah Al-Mubasyarah (Direct Methode) yang mengajarkan berbagai komponen ilmu bahasa Arab secara integrated dan diletakkan pada penerapannya dalam percakapan sehari-hari.
Mahmud Yunus menawarkan kurikulum pengajaran bahasa Arab yang integrated antara satu cabang lainnya dalam ilmu bahasa Arab. seorang anak didik diberikan cabang-cabang ilmu bahasa Arab yang dipadukan dengan menerapkannya dalam pergaulan hidup sehari-hari. Menurut Mahmud Yunus, jika di sekolah-sekolah swasta Belanda, bahwa Belanda dijadikan sebagai bahasa pengantar, maka tidaklah salah jika di madrasah bahasa Arab bisa dijadikan bahasa pengantar dalam mempelajari ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu lainnya.
Selanjutnya Mahmud Yunus, dengan mengutip kitab tabaqa ala tabbaq, menerapkan pelaksanaan sistem pendidikan tinggi tersebut sebagai berikut: “Bahwa Ibnu Sina, setelah berusia 17 tahun ia telah menyelesaikan pendidikan menengahnya. Iapun terus belajar menambah ilmu pengetahuannya lalu ia mengulang membaca mantiq, ilmu-ilmu pasti dan ilmu-ilmu alam kemudian ia berpindah kepada ilmu ketuhanan, lalu kitab mawarat tabi’ah (metaphisika) karangan Aristoteles, untuk memahami kitab itu ia membaca kitab Al-Farabi. Kemudian ia mendapat kesempatan untuk membaca buku-pada perpustakaan Al-Amir. Dalam perpustakaan itu ada buku-buku kedokteran, bahasa Arab, syair, fiqih dan lain-lain. Lalu dibacanya buku-buku itu, sehingga ia mendapat hasil yang memuaskan”.
c. Metode dan Pengajaran Pendidikan Islam
Sehubungan dengan penerapan metode pada suatu mata pelajaran, Mahmud Yunus juga sangat memperhatikan psikologi anak didik sesuai dengan kaidah-kaidah pengajaran modern, dengan tujuan agar pelajaran dapat memahami dan diingat secara kritis oleh murid. Selanjutnya ia juga amat menekankan tentang pentingnya penanaman moral dalam proses belajar mengajar, karena moralitas adalah merupakan bagian yang sangat penting dari sistem ajaran Islam.
Mahmud Yunus menganjurkan agar setiap pelajaran yang disajikan dapat disesuaikan dengan waktu dan suasana serta menggunakan metode yang bervariasi. Sesungguhnya cara mengajar itu tidak sama, bahkan berlain-lainan menurut mata pelajaran yang diajarkan. Cara mengajarkan bahasa Arab atau Inggris berlainan dengan cara mengajarkan ilmu bumi, cara mengajarkan berhitung tidak sama dengan cara mengajarkan sejarah. Maka tiap-tiap mata pelajaran itu mempunyai jalan (metode) yang khusus, tidak dapat disama ratakan saja. Oleh sebab itu metode (cara-cara) mengajar terdiri dari dua macam antara lain: Pertama: cara mengajar umum yang meliputi :
1) Metode penyimpulan, yaitu guru menuliskan contoh-contoh di papan tulis kemudian dibahas bersama-sama murid, sehingga diambil kesimpulan. Tujuan metode ini membiasakan murid berfikir sendiri;
2) Metode Quasiyah yaitu mula-mula disebutkan kaedah dan hukum umum, kemudian diterangkan contoh-contohnya. Metode ini tidak menyuruh murid untuk berfikir dan percaya diri, menerima apa adanya dari guru.
3) Metode membahas dan mengkiaskan, yaitu guru dan murid sama-sama menyimpulkan dan berpindah kaedah;
4) Metode memberitakan atau ceramah, metode ini sesuai untuk mahasiswa, tetapi tidak sesuai untuk murid di sekolah rendah, menengah pertama dan menengah ke atas;
5) Metode bercakap-cakap dan tanya jawab, yaitu metode bercakap-cakap dan tanya jawab untuk mendapatkan suatu kebenaran. Tujuannya ialah memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam otak murid-murid dan membiasakan mereka membahas untuk mendapatkan kebenaran.
Kedua: metode mengajar modern yang meliputi: 1) metode menyelidik yaitu membahas mata pelajaran dalam kitab yang ditentukan oleh guru kepada murid-murid, supaya mereka pelajari dengan sendirinya dan harus selesai dalam waktu yang ditentukan; 2) metode mentakjubkan (menghargai) yaitu murid banyak diam, banyak mendengarkan, guru langsung masuk ke dalam hati murid dengan perkataan yang manis, sehingga mereka terpesona ke dalam hati murid dengan perkataan yang manis, sehingga mereka terpesona dibawa oleh guru ke arah tujuan yang dikehendakinya; 3) metode latihan (Drill), karena dengan tidak ada satu pelajaran yang dapat lancar dan sukses dengan tidak ada latihan dan ulangan.
d. Guru Pendidikan Islam
Mahmud Yunus menyajikan beberapa nasehat untuk guru-guru agama supaya maksud dan tujuan pendidikan agama berhasil dengan baik dan memuaskan diantaranya adalah sebagai berikut: 1) hendaklah guru-guru mempunyai persediaan dan kemauan untuk jadi pengajar dan pendidik anak-anak; 2) hendaklah guru berilmu pengetahuan lebih luas dari pada pengajar yang akan diajarkannya; 3) hendaklah guru pandai membawa diri bergaul dengan guru yang lain dan saling menghormati; 4) hendaklah guru memakai pakaian yang bersih serta teratur; 5) hendaklah guru mempunyai akhlak dan adab tertib sopan yang tinggi, terutama dihadapan murid-muridnya; 6) hendaklah guru selalu ingat, bahwa ia berhadapan dengan anak-anak yang masih berumur 7, 8, 9, 10, 11 dan 12 tahun. Sebab itu ia perlu menurunkan derajat pikirnya, perasaannya, khayalnya, supaya dapat dia sejiwa dengan mereka, serta menariknya ke derajat yang lebih tinggi dengan jalan berangsur-angsur sedikit demi sedikit; 7) hendaklah guru menghadapi murid-muridnya dengan ramah tamah; 8) hendaklah guru selalu datang pada tepat waktu. Menurut Mahmud Yunus kalau hendak memperbaiki pendidikan dan pengajaran di Indonesia, maka tak ada jalan melainkan dengan memperbaiki guru-gurunya. Tak ada jalan untuk memperbaiki guru-guru melainkan dengan mempersiapkan guru-guru itu di sekolah-sekolah guru (Mu’alimin atau Fakultas Tarbiyah).
e. Kelembagaan Pendidikan Islam
Dalam bidang kelembagaan, terlihat bahwa Mahmud Yunus termasuk orang yang mempelopori perlunya mengubah sistem pengajaran dari yang bercorak individual sebagaimana diterapkan di pesantren-pesantren menggunakan metode sorogan ataa weton. Dalam metode sorogan ini biasanya murid satu-persatu mendatangi guru dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya. Kiai atau guru membacakan kitab yang berbahasa Arab, kata demi kata, dilanjutnya dengan menerjemahkan dan menerangkan maksudnya. Selanjutnya murid menyimak dan mengulangi bacaan berikut makna yang terkandung di dalamnya untuk membuktikan apakah bacaannya itu sudah benar atau belum. Dalam metode sorogan ini belum dikenal adanya sistem kelas.
Selain pengetahuan umum sebagai pembaruan dalam periode ini, dalam beberapa hal juga ada pembaruan lainnya. Dalam bidang metodologi yang Mahmud Yunus sudah menerapkan.
B. Pemikiran Pendidikan KH. Ahmad Dahlan
1. Biografi KH. Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan lahir di Kauman (Yogyakarta) pada tahun 1868 dan meninggal pada tanggal 25 Februari 1923. Ia berasal dari keluarga yang didaktis dan terkenal alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar, seorang imam dan khatib masjid besar Kraton Yogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, putri K.H. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.
Semenjak kecil, Dahlan diasuh dan dididik sebagai putera kiyai. Pendidikan dasamya dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji Al-Qur’an, dan kitab-kitab agama. Pendidikan ini diperoleh langsung dari ayahnya. Menjelang dewasa, ia mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama besar waktu itu. Di antaranya ia K.H. Muhammad Saleh (ilmu fiqh), K.H. Muhsin (ilmu nahwu), K.H. R. Dahlan (ilmu falak), K.H. Mahfudz dan Syekh Khayyat Sattokh (ilmu hadis), Syekh¬Amin dan Sayyid Bakri (qiralat al-Quean), serta beberapa guru lainya. Dengan data ini, tak heran jika dalam usia relatif muda, ia telah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Ketajaman intelektualitasnya yang tinggi membuat Dahlan selalu merasa tidak puas dengan ilmu yang telah dipelajarinya dan terus berupaya untuk lebih mendalaminya.
Setelah beberapa waktu belajar dengan sejumlah guru, pada tahun 1890 Dahlan berangkat ke Mekah untuk melanjutkan studinya dan bermukim di sana selama setahun. Merasa tidak puas dengan hasil kunjungannya yang pertama, maka pada tahun 1903, ia berangkat lagi ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Ketika mukim yang kedua kali ini, ia banyak bertemu dan melakukan muzakkarah dengan sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Mekah. Di antara ulama tersebut adalah; Syekh Muhammad Khatib al-Minangkabawi, Kiyai Nawawi a]- Banteni, Kiyai Mas Abdullah, dan Kiyai Faqih Kembang. Pada saat itu pula, Dahlan mulai berkenalan dengan ide-ide pembaharuan yang di¬lakukan melalui pengganalisaan kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, seperti Ibn Taimiyah, Ibn Qoyyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abd al-Wahab, Jamal-al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan lain sebagainya. Melalui kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, telah membuka wawasan Dahlan tentang universalitas Islam. Ide-ide tentang reinterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnahm mendapat perhatian khusus Dahlan ketika itu.
Semangat dan cita-cita pembaharuan Dahlan, kendati menghadapi ber¬bagai kendala, namun berhasil dihadapinya dengan arif dan bijaksana. Melalui kharismanya, akhirnya Muhammadiyah menjadi sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia dan telah memberikan kontribusi Yang cukup signifikan bagi pembangunan peradaban umat.
2. Pemikiran KH. Ahmad Dahlan Mengenai Pendidikan
Pandangan Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan dapat dili¬hat pada kegiatan pendidikan yang dilaksanakan oleh Muhammadiyah. Dalam bidang pendidikan Muhammadiyah melanjutkan model sekolah yang digabungkan dengan sistem pendidikan gubernemen. Di samping sekolah desa di kampungnya sendiri, Ahmad Dahlan juga membuka sekolah yang sama di kampung Yogya yang lain. Hubungan Ahmad Dahlan dengan murid-murid sekolah pendidikan guru di¬lanjutkan terus. Untuk beberapa waktu dia masih mengajar agama di sana, walaupun hanya diizinkan di luar jam sekolah. Sedangkan bebe¬rapa anggota Muhammadiyah lainnya, setelah menunggu dalam wak¬tu yang cukup lama, mendapatkan izin mengajar pada sekolah calon pegawal di Magelang.
Pada tanggaal 8 Desember 1921, Muhammadiyah sudah dapat mendirikan Pondok Muhammadiyah sebagai sekolah pendidikan guru agama. Dalam sekolah tersebut, pelajaran umum diberikan oleh dua orang guru dari sekolah pendidikan guru (Kweekschool), sedangkan Ahmad Dahlan sendiri dan beberapa orang guru lainnya memberikan pelajaran agama yang lebih mendalam. Melihat kegiatan-kegiatan ini, nampak jelas Muhammadiyah mengikuti pola yang sama dengan ke¬giatan yang dilakukan Abdullah Ahmad di Padang. Persamaan tersebut dilihat dalam hal-hal berikut. Pertama adalah kegiatan tabligh, yaitu pengajaran agama kepada kelompok orang dewasa dalam satu kursus yang teratur. Kedua, mendirikan sekolah swasta menurut model pen¬didikan gubernemen dengan ditambah beberapa jam pelajaran agama per Minggu. Ketiga, untuk membentuk kader organisasi dan guru-guru agama, didirikan Pondok Muhammadiyah seperti Normal Is¬lam di Padang pada tahun 1931.
Menurut Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan.” Pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Mereka hendaknya dididik agar cerdas, kritis, dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memeta dinamika kehidupannya pada masa depan. Adapun kunci bagi meningkatkan kemajuan umat Islam adalah dengan kembali pada al-Quran dan hadis, mengarahkan umat pada pemahaman ajaran Islam secara komprehensif, dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Upaya ini secara strategis dapat dilakukan melalui pendidikan.
Islam menekankan kepada umatnya untuk mendayagunakan semua kemampuan yang ada pada dirinya dalam rangka memahami fenomena alam semesta, baik alam mikro maupun makro. Meskipun dalam banyak tempat al-Quran senantiasa menekankan pentingnya menggunakan akal, akan tetapi al¬Quran juga mengakui akan keterbatasan kemampuan akal. Ada realitas fenomena yang tak dapat dijangkau oleh indera dan akal manusia (QS. At Ra’d/ 13:2; Luqman/ 31:10; Al Munafiqun/ 63:3). Hal ini disebabkan, karena wujud yang ada di alam ini memiliki dua dimensi, yaitu pisika dan metapisika. Manusia merupakan integrasi dari kedua dimensi tersebut, yaitu dimensi ruh dan jasad.
Batasan di atas memberikan arti, bahwa dalam epistemologi pendidikan Islam, ilmu pengetahuan dapat diperoleh apabila peserta didik (manusia) mendayagunakan berbagai media, baik yang diperoleh melalui persepsi inderawi, akal, kalbu, wahyu maupun ilham. Oleh karena itu, aktivitas pendidikan dalam Islam hendaknya memberikan kemungkinan yang sebesar¬besarnya bagi pengembangan kesemua dimensi tersebut. Menurut Dahlan, pengembangan merupakan proses integrasi ruh dan jasad. Konsep ini diketengahkannya dengan menggariskan perlunya pengkajian ilmu pengetahuan secara langsung, sesuai prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Sunnah, bukan semata-mata dari kitab tertentu.
Upaya mengaktualisasikan gagasan tersebut bukan merupakan hal yang mudah, terutama bila dikaitkan dengan kondisi objektif lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional waktu itu. Dalam hal ini, Dahlan melihat bahwa problem epistemologi dalam pendidikan Islam tradisional disebabkan karena ideologi ilmiahnya hanya terbatas pada dimensi religius yang membatasi diri pada pengkajian kitab-kitab klasik para mujtahid terdahulu, khususnya dalam mazhab Syafi’i. Ideologi ilmiah semacam ini digunakan sebagai pelindung oleh kelompok tradisional guna mempertahankan semantik statis terhadap epistemologi yang dikembangkannya. Sikap ilmiah yang demikian menyebabkan lahirnya pemikir “pemamah” yang tak mampu mengolah dan menganalisa secara kritis ilmu pengetahuan yang diperoleh, sehingga mereka kurang mampu berkompetisi secara produktif dan kreatif terhadap perkembang¬an peradaban kekinian.
Islam merupakan agama taghayyir yang menghendaki modernisasi (tajdid). Prinsip ini ditegaskan Allah dalam al¬Quran, bahwa tidak akan terjadi modernisasi pada suatu kaum, kecuali mereka sendiri berupaya ke arah tersebut (Q.S.Yusuf/ 13:11). Di sini, Islam mencela sifat jumud dan taqlid yang membabi buta. Karenanya, Islam mendorong manusia meningkatkan kreatifitas berpikirnya dan melakukan prakarsa. Untuk itu diperlukan kerangka metodologis yang bebas, sistematis, dan mengacu pada nilai universal ajaran Islam. Proses perumusan kerangka ideal yang demikian menurut Dahlan ¬disebut dengan proses ijtihad, yaitu mengerahkan otoritas intelektual untuk sampai pada suatu konklusi tentang berbagai persoalan.
Sesungguhnya Dahlan mencoba menggugat praktek pendidikan Islam pada masanya. Pada waktu itu, pelaksanaan pendidikan hanya dipahami sebagai proses pewarisan adat dan sosialisasi prilaku individu maupun sosial yang telah menjadi model baku dalam masyarakat. Pendidikan tidak memberikan kebebasan peserta didik untuk berkreasi dan mengambil prakarsa. Kondisi yang demikian menyebabkan pelaksanaan pendidikan berjalan searah dan tidak bersifat dialogis. Padahal, menurut Dahlan, pengembanagan daya kritis, sikap dialogis, menghargai potensi akal dan hati yang suci, merupakan cara strategis bagi peserta didik mencapai pengetahuan tertinggi.” Dari batasan ini terlihat bahwa Dahlan ingin meletakkan visi dasar bagi reformasi pendidikan Islam melalui penggabungan sistem pendidikan mod¬ern dan tradisional secara harmonis dan integral.
Menurut Dahlan, materi pendidikan adalah pengajaran al¬Quran dan hadis, membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, dan menggambar. Materi Al-Qur’an dan Hadis meliputi ; ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan manusia dalam menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran Al-Qur’an dan Hadis menurut akal, kerjasama antara agama-kebudayaan ¬kemajuan peradaban, hukum kausalitas perubahan, nafsu dan kehendak, demokratisasi dan liberalisasi, kemerdekaan berpikir, dinamika kehidupan dan peranan manusia di dalammnya, dan akhlak (budi pekerti).”
Untuk mewujudkan ide pembaharuan di bidang pendidikan, Dahlan merasa perlu mendirikan lembaga pendidikan yang berorientasi pada pendidikan modern, yaitu dengan menggunakan sistem klasikal. Apa yang dilakukannya merupakan sesuatu yang masih cukup langka dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam pada waktu itu. Di sini, ia menggabungkan sistem pendidikan Belanda dengan sistem pendidikan tradisional secara integral.
Komitmen Dahlan terhadap pendidikan agama demikian kuat. Oleh karena itu, di antara faktor utama yang mendorong¬nya masuk organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1909 adalah untuk mendapatkan peluang memberikan pengajaran agama kepada para anggotanya. Strategi yang ditempuhnya dimaksudkan untuk membuka kesempatan memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah pemerintah. Pendekatan ini dilakukan karena para anggota organisasi Boedi Oetomo umumnya bekerja di sekolah dan kantor pemerintah waktu itu. Komitmennya terhadap pendidikan agama selanjutnya menjadi salah satu ciri khas organisasi yang didirikannya pada tahun 1912, yaitu organisasi Muhammadiyah.
Tanpa mengurangi pemikiran para intelektual muslim lainnya, paling tidak pemikiran Dahlan tentang pendidikan Is¬lam dapat dikatakan sebagai awal kebangkitan pendidikan Is¬lam di Indonesia.

sumber
Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Padang: Ciputat Press Group, 2005), hln. 336.
Syarif Hidayatullah, Ekpilopedi Islam Indonesia, (Jakarta : Djambatan, 1992), hlm. 592.
Ibid, hlm.593.

http://alexandrapane.blogspot.com/2010/10/pemikiran-pendidikan-mahmud-yunus.html

http://majelispenulis.blogspot.com/2011/05/konsep-pendidikan-islam-menurut-mahmud.html

Ramayulis, Syamsul Nizar,Filsafat Pendidikan Islam: Telaahsistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya,2009,Jakarta: Kalam Mulia, hal. 327-328
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, 1997, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, Hal. 206-208
Al-Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendidikan Historis, Teoritis, dan Praktis, 2005, Jakarta: Ciputat Press, Hal. 104-109

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.