ALAT-ALAT PENDIDIKAN


ALAT-ALAT PENDIDIKAN

A. Pengertian Alat-Alat Pendidikan
Menurut Zakia Drajat alat dan media pendidikan memiliki arti yang sama yaitu sebagai sarana pendidikan. Term alat berarti barang sesuatu yang dipakai untuk mencapai suatu maksud sedangkan media berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.
Dalam hal ini, batasan makna media pendidikan dirumuskan pada beberapa batasan. Diantaranya, Gegne menyebutkan bahwa media atau alat adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar. Sementara Briggs mendefenisikan media sebagai segala bentuk alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dari dua defenisi ini pengertian media mengacu pada penggunaan alat yang berupa benda untuk membantu proses penyampaian pesan.
Menurut Vernus yang dikutip oleh Zakia Darajat bahwa media pendidikan adalah sumber belajar, baik berupa manusia dan benda atau peristiwa yang membuat peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan atau perubahan sikap. Pengertian media yang dikemukakan oleh Vernus selain berupa benda juga mengatakan pendidik juga sebagai figur sentral atau model dalam proses interaksi edukatif.
Adapun Sutari Imam Barnadip mengemukakan bahwa alat pendidikan ialah tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat pendidikan ternyata mencakup pengertian yang luas, termasuk ke dalamnya alat yang berupa benda maupun yang bukan benda. Alat pendidikan yang berupa benda seperti ruangan kelas, perlengkapan belajar dan yang sejenisnya. Alat ini biasanya disebut sebagai alat peraga, sedangkan yang berupa benda dapat berupa situasi pergaulan, perbuatan, teladan, nasehat, bimbingan, contoh, teguran, anjuran, ganjaran, perintah, tugas, ancaman maupun hukuman yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dari berbagai pengertian di atas alat dan media memiliki arti yang sama atau tidak dapat dibedakan secara jelas. Jadi dapat disimpulkan bahwa alat atau media pendidikan dalam perspektif filsafat pendidikan Islam adalah tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat ini biasanya disebut sebagai alat peraga, sedangkan yang berupa benda dapat berupa situasi pergaulan, perbuatan, teladan, nasehat, bimbingan, contoh, teguran, anjuran, ganjaran, perintah, tugas, ancaman maupun hukuman yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
B. Macam-Macam Alat Pendidikan
Alat pendidikan yang akan dibahas pada makalah ini yaitu alat-alat pendidikan yang bukan benda
1. Pembiasaan
Pembiasaan adalah salah satu alat pendidikan yang penting sekali, terutama bagi anak-anak yang masih kecil. Sebagai permulaan dan pangkal pendidikan pembiasaan merupakan alat yang satu-satunya. Sejak lahir anak-anak harus dilatih dengan pembiasaan-pembiasaan dan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti dimandikan dan ditidurkan pada waktu tertentu, diberi makan dengan teratur dan sebagainya. Makin besar anak itu kebiasaan yang baik harus tetap diberikan dan dilaksanakan.
Pembiasaan yang baik penting artinya bagi pembentukan watak anak-anak dan juga akan terus berpengaruh kepada anak itu sampai hari tuanya.

Syarat-syarat pembiasaan antara lain:
a. Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat, sebelum anak itu mempunyai kebiasaan yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan
b. Pembiasaan itu hendaknya terus menerus (berulang-ulang), dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang otomatis. Untuk itu dibutuhkan pengawasan
c. Pendidikan hendaknya konsekuen, bersikap tegas dan tetap teguh terhadap pendirian yang telah diambilnya. Jangan memberi kesempatan untuk melanggar pembiasaan yang telah ditetapkan itu.
d. Pembiasan yang mula-mula mekanistis itu harus makin menjadi pembiasan yang disertai kata hati anak itu sendiri.
Hal itu mungkin jika secara berangsur-angsur disertai pula dengan penjelasan-penjelasan dan nasehat-nasehat dari si pendidik sehingga makin lama timbullah pengertian dalam diri anak didik.
2. Pengawasan
Pembiasaan yang baik membutuhkan pengawasan. Aturan-aturan dan larangan-larangan dapat berjalan dan ditaati dengan bak jika disertai dengan pengawasan yang terus menerus. Terus menerus di sini dimaksudkan adalah pendidik hendaknya konsekuen, apa yang telah dilarang hendaknya selalu dijaga jangan sampai dilanggar dan apa yang telah diperintahkan jangan sampai diingkari.
Pengawasan itu penting sekali dalam mendidik anak-anak. Tanpa pengawasan berarti membiarkan anak berbuat sekehendaknya. Anak tidak dapat membedakan yang baik dan yang buruk, mengetahui mana yang seharusnya dihindari atau tidak senonoh, dan mana yang boleh dan harus dilaksanakan, mana yang membahayakan dan mana yang tidak.
Jadi dalam hal ini harus ada perbandingan antara pengawasan dan kebebasan. Tujuan mendidik adalah membentuk anak supaya akhirnya dapat berdiri sendiri dan bertanggung-jawab sendiri atas perbuatannya, mendidik ke arah kebebasan. Makin besar anak itu makin dikurangi pengawasan terhadapnya dan sebaliknya makin diperbesar kebebasan yang diberikan kepadanya.
3. Perintah
Dalam islam perintah disebut juga dengan amar ma’ruf. Perintah bukan hanya apa yang keluar dari mulut seseorang dan yang harus dikerjakan oleh orang lain, melainkan dalam hal ini termasuk pula peraturan-peraturan umum yang harus ditaati oleh anak-anak. Tiap-tiap perintah dan peraturan dalam pendidikan mengandung norma-norma kesusilaan, jadi bersifat memberi arah atau mengandung tujuan ke arah perbuatan susila. Perintah dalam pendidikan islam bersifat memberi arah atau mengandung tujuan kearah perbuatan yang mulia.
Syarat-syarat memberi perintah:
a. Perintah hendaknya terang dan singkat, jangan terlalu banyak komentar sehingga mudah dimengerti oleh anak.
b. Perintah hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan umur anak sehingga jangan sampai memberi perintah yang tidak mungkin dikerjakan oleh anak. Tiap-tiap perintah hendaknya disesuaikan dengan kesanggupan anak.
c. Kadang-kadang kita perlu mengubah perintah menjadi permintaan sehingga tidak terlalu keras kedengarannya
d. Jangan terlalu banyak dan berlebihan memberikan perintah, sebab dapat mengakibatkan anak itu tidak patuh, melainkan menentang
e. Pendidik hendaklah konsekuen terhadap apa yang telah diperintahkannya. Suatu perintah harus ditaati oleh seorang anak berlaku pula bagi anak yang lain
f. Suatu perintah yang bersifat mengajak si pendidik turut melakukannya, umumnya lebih ditaati oleh anak dan dikerjakannya dengan gembira.

4. Larangan
Larangan biasanya dikeluarkan jika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, yang merugikan atau yang membahayakan dirinya. Seorang ibu atau ayah yang sering melarang perbuatan anaknya, dapat mengakibatkan bermacam-macam sikap atau sifat yang kurang baik pada anak itu, seperti:
a. Keras kepala atau melawan
b. Pemalu dan penakut
c. Perasaan kurang harga diri
d. Kurang mempunyai perasaan bertanggung jawab
e. Pemurung atau pesimis
f. Acuh tak acuh terhadap sesuatu.
5. Keteladanan
Dalam pendidikan, alat pendidikan yang paling diutamakan adalah teladan. Pada diri anak-anak terdapat rasa bangga pada orang tua mereka. Dalam istilah agama dikenal dengan Uswatun Hasanah (tauladan yang baik). Terutama dalam masalah ini perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari guru atau pendidik dalam pepatah sering kita dengar bahwa guru kencing berdiri murid kencing berlari. Pendidik dalam konteks ilmu pendidikan islam berfungsi sebagai warasatu al- anbiya. Fungsi ini pada hakikatnya mengemban misi sebagai rahmatan lil ‘alamin yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan taat pada hukum Allah. Misi ini dikembangkan kepada pembentikan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal shaleh dan berakhlak mulia. Menurut al Ghazali seperti yang disitir oleh fatiyah hasan sulaiman, terdapat beberapa sifat penting yang harus dimiliki oleh pendidik sebagai orang yang diteladani, yaitu : amanah dan tekun bekerja, lemah lembut dan kasih sayang terhadap peserta didik, dapat memahami dan berlapang dada dalam ilmu dan terhadap orang-orang yang diajarkan, tidak rakus pada materi, berpengetahuan luas, istiqamah dan memegang teguh prinsip islam. Sifat-sifat penting yang harus ada dalam diri peserta didik menurut al-Ghazali, yaitu: rendah hati, mensucikan diri dari segala keburukan, taat dan istiqamah.
6. Hukuman
Dalam islam hukuman disebut juga dengan ‘iqab. Abdurrahman an-Nahlawi menyebutkan dengan tarhid yang berarti ancaman atau intimidasi melalui hukuman karena melakukan sesuatu yang dilarang. Menurut Amir Daien Indra Kusuma menyebutkan hukuman adalah suatu perbuatan dimana kita secara sadar, dan sengaja menjatuhkan nestapa kepada orang lain, yang baik dari segi kejasmanian maupun kerohanian orang itu mempunyai kelemahan dibandingkan diri kita, dan oleh karena itu kita mempunyai tanggung jawab untuk membimbingnya dan melindunginya. Tujuan memberi hukuman kepada anak didik adalah sebagai berikut:
a. Hukuman diberikan karena ada pelanggaran
b. Hukuman diberikan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran
Berikut ini beberapa ciri-ciri pemberian hukuman sesuai dengan perspektif pendidikan islam oleh Asma Hasan Fahmi :
a. Hukuman diberikan untuk memperoleh perbaikan dan pengarahan.
b. Memberikan kesempatan kepada anak memperbaiki kesalahannya sebelum dipukul. Anak yang belum berusia sepuluh tahun tidak boleh dipukul, kalaupun dipukul tidak boleh lebih dari tiga kali.
c. Pendidik harus tegas dalam melaksanakan hukuman, artinya apabila sikap keras pendidik telah dianggap perlu, maka harus dilaksanakan dan diutamakan dari sikap lunak dan kasih sayang.
7. Ganjaran
Ganjaran adalah sebagai alat untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. Umumnya, anak mengetahui bahwa pekerjaan atau perbuatan yang menyebabkan mendapat ganjaran itu baik. Pendidik bermaksud juga supaya dengan ganjaran itu anak menjadi lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki dan mempertinggi prestasi yang telah dicapainya.
Macam-macam contoh perbuatan atau sikap pendidik yang dapat merupakan ganjaran bagi anak didiknya yaitu
a. Guru mengangguk-angguk tanda senang dan membenarkan suatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak
b. Guru memberi kata-kata yang menggembirakan (pujian)
c. Pekerjaan biasa juga menjadi suatu ganjaran
d. Ganjaran yang ditujukan kepada seluruh kelas sangat perlu
e. Ganjaran biasa juga berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak.
Dalam Al-quran surat al-kahfi
   •             •    
“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.”
Kalau perkataan tersebut diucapkan sebagai ganjaran terhadap kekuasaan Allah yang tidak memerlukan pujian, tentulah perlu lagi mengucapkannya kepada keberhasilan yang dicapai manusia yang biasanya suka dipuji.

DAFTAR PUSTAKA

Al-qur’an
Anshari Hafi, Pengantar Ilmu Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya,
1983.
Jalaluddin,Teolog pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta,2003.
Purwanto Ngalim,Ilmu Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Jakarta,1995.
Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2009.

oleh ayu hendrawan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.